WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

23 Jan 2026 • Admin

Lafẓul Jalālah Dobel dalam Al-Qur’an & Wirid Perlindungan RuhaniTafsir Showi – Juz 4

1. Pembukaan: Lafẓul Jalālah Dobel dalam QS. Al-An‘ām Dalam Al-Qur’an Surah Al-An‘ām ayat 12, terdapat pengulangan Lafẓul Jalālah (Allah – Allah) dalam satu susunan makna: Arab: قُلْ لِمَن مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُل لِّلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ Makna struktur: Qul liman… qul lillāh → perintah menyebut Allah → Allah Dalam tafsir isyari (Showi), ini disebut sebagai Lafẓul Jalālah dobel secara maknawi, bukan sekadar lafadz tulisan. Makna ruhani: Allah “mewajibkan atas diri-Nya sendiri kasih sayang” (كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ). Para masyayikh menafsirkan: Allah malu (secara makna adab ilahiyyah, bukan sifat jismiyah) jika hamba yang benar-benar mengamalkan dzikir dan doa berbasis pengakuan tauhid ini tidak dikabulkan. Ini bukan “menuntut Allah”, tetapi: i‘tirāf (pengakuan) iftiqār (ketergantungan total) istislām (penyerahan mutlak) Doa terlihat “menekan”, tapi ditutup dengan pengakuan kehambaan, bukan klaim hak. 2. Riwayat Ibnu ‘Abbās RA – Keutamaan Akhir Surah Al-Ḥasyr Riwayat masyhur dari Ibnu ‘Abbās ra: Arab (riwayat maknawi): مَنْ قَرَأَ آخِرَ سُورَةِ الْحَشْرِ فِي لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ، وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لَهُ Makna: “Barang siapa membaca akhir Surah Al-Ḥasyr (3 ayat terakhir) di malam atau siang hari, Allah mengutus 70.000 malaikat untuk mendoakan dan memohonkan ampun baginya.” Ini sejalan dengan ungkapan guru: “Seluruh makhluk Allah akan mendoakan dan memohonkan ampun” → maksudnya dunia malaikat dan makhluk ruhani, bukan makhluk jasmani secara fisik. 3. Riwayat Imam At-Tirmiżī – Dzikir Pagi Perlindungan Malaikat Hadis (At-Tirmiżī): Arab: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ثُمَّ قَرَأَ ثَلَاثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ مَاتَ فِي يَوْمِهِ مَاتَ شَهِيدًا. Terjemah ringkas: Siapa yang pagi hari membaca 3 kali: A‘ūdzu billāhis-samī‘il-‘alīm minasy-syaithānir-rajīm, lalu membaca 3 ayat terakhir Surah Al-Ḥasyr, maka Allah mengutus 70.000 malaikat untuk mendoakannya sampai sore. Jika ia wafat hari itu, mati syahid. 4. Tiga Ayat Terakhir Surah Al-Ḥasyr (Lengkap) QS. Al-Ḥasyr: 22–24 22 هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ 23 هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ 24 هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ 5. Bedah Susunan Dzikir (Versi Padat – Sistematis) 🔹 Wirid Pagi (versi sanad amaliyah): Gambar dibagikan oleh ust bahrul ulum di group ashkhabiyyah 🔹 Fadhilah: Perlindungan ruhani 70.000 malaikat mendoakan Ampunan dosa Jika wafat hari itu → syahid maknawi (syahīd hukman, bukan fiqh jihad) 6. Makna Tasawufiyah (Inti Showi) Dzikir ini bukan klaim kuasa Tapi: Tauhid asmā’ (pengenalan nama Allah) Tauhid sifat Tauhid af‘āl Ditutup dengan keterangan beliau Semua yang ada di langit dan bumi, termasuk surga, neraka, ‘arsy (singgasana Allah), kusi (kursi Allah), tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, udara, angin, burung, pohon, gunung, matahari, bulan, serta binatang dan makhluk melata, akan berdoa dan memohonkan ampunan untuk pembacanya. Makanya guru menyampaikan dengan guyon: “Iki saget dadi dalil kenopo wit alpukat kulo woh, soale kulo uluk salam ten wit alpukat.” Maknanya bukan mistik klenik, tapi: alam ikut merespon dzikir, karena seluruh wujud berada dalam sistem tasbih ilahi. Penutup (Formulasi Akidah Lurus) Dzikir ini: Terlihat menuntut Tapi hakikatnya pengakuan kehambaan Bukan memaksa Allah, Tapi bersandar pada rahmat yang Allah wajibkan atas diri-Nya sendiri Tauhid → pengakuan → kepasrahan → pengharapan → perlindungan

13 Jan 2026 • Admin

Asbābul Pembetulan Penulisan Makna “Aamiin”

Dalam sebuah majelis Jam’iyyah Ashkhabiyyah, terjadi peristiwa kecil namun sarat makna adab dan ilmu. Peristiwa ini bermula ketika salah satu anggota jamaah, Sueb, mengucapkan dan menuliskan kata amin saat mengamini doa yang dipanjatkan oleh guru kami, KH. Masda Andi. Hal yang tampak sepele ini justru membuka ruang diskusi panjang. Bukan karena beliau ingin memperdebatkan hal remeh, tetapi justru karena beliau tidak mau asal mengucap atau membenarkan sesuatu tanpa mengetahui alasan ilmiahnya. Catatan Guru (Tanpa Perubahan) Guru kami menjelaskan bahwa cara penulisan “amin” tidak boleh disamakan, karena dalam bahasa Arab, panjang–pendeknya harakat (mad) sangat mempengaruhi makna. Beliau menegaskan bahwa yang benar untuk mengamini doa adalah: “AAMIIN” dudu “amin” (iki maknane wis bedo) Adapun perbedaan makna berdasarkan penulisan adalah sebagai berikut: Amin (pendek–pendek) bermakna: aman Aamin (a panjang, i pendek) bermakna: meminta perlindungan Amiin (a pendek, i panjang) bermakna: jujur / terpercaya Aamiin (a panjang, i panjang) bermakna: “Ya Allah, kabulkanlah doa kami” Inilah lafaz yang paling tepat dan paling umum digunakan ketika mengamini doa. Catatan ini disampaikan langsung oleh guru kami dalam konteks menjaga ketepatan lafaz, adab doa, dan kehati-hatian dalam ibadah lisan. Pandangan dan Pelajaran bagi Jamaah Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kami bahwa mengucap “Aamiin” bukan sekadar formalitas penutup doa, tetapi bagian dari ibadah yang memiliki makna mendalam. Diskusi yang terjadi tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk: Menjaga kemurnian makna doa Melatih kehati-hatian dalam lisan Menghidupkan adab belajar sebelum berucap Tidak meremehkan perkara kecil dalam ibadah Di sinilah kami melihat keteladanan guru kami: tidak tergesa-gesa membenarkan, tidak mudah menganggap remeh, dan selalu mengajak jamaah berilmu sebelum beramal. Penutup Dari peristiwa ini, Jam’iyyah Ashkhabiyyah belajar bahwa: Satu huruf bisa mengubah makna, dan satu makna bisa menentukan adab di hadapan Allah. Maka, ketika kita mengamini doa, mari kita niatkan dengan penuh kesadaran dan menuliskannya dengan benar: Aamiin. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita semua, lahir dan batin.

08 Jan 2026 • Admin

Tanbīhul Ghāfilīn – Dawuh Guru & Renungan Hisab

7 januari 2026 Oleh: kh masda andi Dikediaman :Bpk zainal bendet Kitab: Tanbīhul Ghāfilīn Pengarang: Imam Abū Laits As-Samarqandī (Nama lengkap: Abū Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrāhīm As-Samarqandī) Catatan Sanad & Riwayat Dawuh ini dinukil dari Tanbīhul Ghāfilīn. Disebutkan dari Abū Qāsim ‘Abdurrahman bin Muhammad, Faras bin Murdāwiyah, Muhammad bin Fadhl, Yukhlī bin ‘Ubaid, Al-Afrīqī, dari Abū ‘Abdirrahman, beliau berkata: Qāla Rasūlullāh ﷺ. ‘Amr bin ‘Āsh r.a. mireng langsung dateng Kanjeng Nabi ﷺ. Kisah Kotak Catatan Amal Yang diceritakan adalah kisah kotak catatan amal: 99 amal jelek dan 1 amal baik. Saat Allah mengadili makhluk-Nya, Allah bertanya kepada hamba itu: “Apakah kamu protes?” Hamba itu menjawab: “Tidak, ya Rabb.” Dibentangkan 99 catatan amal buruk, masing-masing sejauh mata memandang. Lalu dikeluarkan satu kartu kecil berisi lā ilāha illallāh. Ketika ditimbang, 99 amal jelek menjadi ringan, dan satu amal tauhid menjadi berat. Ini menunjukkan bahwa tauhid yang ikhlas tidak bisa dikalahkan oleh apa pun, selama tidak dirusak oleh kesyirikan dan kesombongan. Pengadilan Akhirat Gurukami KH Masda mengutip ayat: ﴿ الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ فَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ (QS. Yasin: 65) Ketika pengadilan itu berlangsung, mulut kita dikunci, boten saget goro. Ora iso bantah, ora iso alesan. Sing ngomong malah tangan, sikil, lan badan dewe. Pesan Lanjutan Guru Guru dawuh: “Ojo sampek gelek kirim Fātiḥah nang wong, ambek awaké dhéwé ora tau.” Iki dadi tamparan batin. Akeh wong seneng ngirim Fātiḥah kanggo wong liya, wong mati, guru, leluhur, nanging awaké dhéwé ora tau diwelingi. Maka guru ngajari ngucap: “Khusūṣon ilā rūḥī wa jasadī wa nafsī…” Sambil nyekel dodo kiwa. Iki ngandhut makna: Ngakoni awaké dhéwé butuh pitulungan Allah Ruh, jasad, lan nafs kudu disucikake Hisab diwiwiti saka diri sendiri, dudu saka wong liya Nyekel dodo kiwa iku tandha eling: iman, niat, lan rusake amal asalé saka njero ati. Pesan Penjaga Ilmu Pesan lanjutan maneh: “Inna hādzal ‘ilma dīnun, fandhurū ‘amman ta’khudzūna dīnakum.” Ilmu iki agama. Dadi kudu tenan-tenan ndelok: ilmu agama iki dijupuk teko sopo. Guru dawuh nganggo basa sederhana: “Delok o kowe kabeh oleh njupuk ilmu agama teko sopo ae.” Iki dudu larangan sinau, nanging eling supaya ora sembrono. Ilmu tanpa adab lan sanad iso nyesatke, lan salah ilmu iso kebawa nganti akhirat. Renungan Pribadi Catatan iki ngelingake aku yen: Ing akhirat ora ana pembelaan lisan Sing nylametke dudu akeh amal, nanging iman sing resik Doa lan Fātiḥah kudu diwiwiti saka awaké dhéwé Ilmu agama kudu dijaga adab lan sumberé Tulisan iki ditulis ora kanggo pamer paham, nanging kanggo eling lan ngati-ati, amarga sing bakal dihisab dudu wong liya, nanging aku dhewe.

19 Dec 2025 • Admin

Dzikir fidya /ataqo

19 Desember 2025 Oleh KH. Masda Berkaitan dengan kalimat Lā ilāha illallāh 1. Dasar Amalan Di kalangan Ahlussunnah, dikenal amalan: Tahlil Dzikir fidyah Dzikir ‘ataqo’ (pembebasan / penebusan) Maknanya: Mayit yang telah wafat, atau bahkan orang yang masih hidup (lebih mudah), dapat di-‘ataqo’ (dibebaskan/ ditebus) oleh ahli warisnya, terutama oleh anaknya. 2. Jenis ‘Ataqo a. ‘Ataqo Sugro Jumlah: 70.000 Alternatif riwayat dari Gus Ali: 700.000 “Dijamin, dengan catatan yang melakukan adalah anaknya.” 📌 Boleh dicicil Contoh: Jika 1 hari 1.000, maka: 700.000 = 700 hari b. Pesan Guru “Jika jenengan belum mengfidahkan diri sendiri, monggo dicicil.” Artinya: Dianjurkan mengutamakan fidyah / ‘ataqo untuk diri sendiri terlebih dahulu Tidak harus sekaligus, boleh sedikit demi sedikit (istiqomah) c. ‘Ataqo Kubro Jumlah: 100.000 kali Bacaan: Surat Al-Ikhlas 3. Catatan Penting NB: Amalan ini jangan diberitahukan di luar jamaah Ashkhabiyyah. Jika tidak mampu, boleh diganti dengan Dzikir Idrisiyah sebanyak 4 kali. Ringkasannya Inti amalan: penebusan diri/mayat dengan dzikir sebagai bentuk rahmat dan ikhtiar Bisa untuk orang yang telah wafat maupun diri sendiri Tidak memberatkan, boleh dicicil Ditekankan kerahasiaan dan adab jamaah Ada alternatif dzikir bila tidak mampu

23 Oct 2025 • Admin

Ijazah Amalan Meminta Hujan Reda

Dari KH. Masda Andi Pada tanggal 23 Oktober 2025, Guruku KH. Masda Andi Menghijasahkan amalan untuk meminta hujan reda. “Tak ijazahno dungo kanggo njaluk terang gak udan, iki wing Cak Ali njaluk soale… kudu yaqin nek moco dungo iki, mugo-mugo di ijabahi Alloh.” Lafadz Doa “BISMILLAHIRROHMANIRROHIM… 3X LANGITE ORA SIDO UDAN… UDANO MUNG SAK UYUHE JARAN… SAPU GERANG, TUGU LAWANG… TERANG… TERANG… TERANG SAKING KERSANE ALLOH. LAA ILAHAILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH’…. DIBACA 3X.” Catatan Penting Nb: alangkah baiknya sebaiknya pembaca yang akan mengamalkan doa meminta ijazah langsung dari beliau.

10 Oct 2025 • Admin

Jangan Menghina Ulama, Jaga Hati dan Lisan Kita

Terkadang hati terasa berat dan air mata pun menetes ketika melihat sosok panutan kita, Kyai kita, dihina atau direndahkan dengan kata-kata yang tidak beradab di media sosial. Beliau adalah Al Alim Al ’Alamah Romo KHR. Abdus Salam Mujib, Pengasuh Pondok Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Sebagai pengingat dan himbauan bagi seluruh jamaah Al Ashkhabiyyah: “JANGAN IKUT-IKUTAN MBATIN, APALAGI BERKOMENTAR MENGHINA, MERENDAHKAN, ATAU MENCACI ULAMA/KYAI.” Ketahuilah, menurut Sunatulloh, orang yang merendahkan atau menghina Ulama/Kyai akan mendapatkan balasan dari Allah. Daging para Ulama itu beracun bagi orang yang menghina mereka. Barang siapa yang melontarkan celaan kepada Ulama, Allah akan mengujinya dengan kematian hati, kehinaan, dan kerendahan, sebagaimana ia merendahkan sosok Ulama/Kyai. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari perbuatan tercela ini dan senantiasa menempatkan Ulama di posisi yang layak, sebagai panutan dan pewaris ilmu Allah.

24 Sep 2025 • Admin

Amalan Pelebur Dosa, oleh-oleh pasca HAUL

Oleh-oleh Khaul Mbah Ahmad Setelah sholat Jum’at, membaca: “Subhanallāhil ‘Aẓīm wa biḥamdihī” sebanyak 100 kali. Dosa pengamalnya 100.000 dosa disepura, dan 24.000 dosa kedua orang tua pengamal juga diampuni. Monggo dadio anak sing sholeh, anak sing bejo ndunyo akhirat. Sumber: Kitab I‘ānatut Ṭālibīn juz kalih, halaman 180. Habis sholat Ashar hari Jum’at, membaca Sholawat UMI sebanyak 80 kali, maka dosa pengamal selama 80 tahun disepura. Sumber: Kitab yang sama, halaman 175–176. Versi Teks Arab, Arab Latin, dan Terjemahan 1. Bacaan Tasbih Setelah Sholat Jum’at Teks Arab: سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ Arab Latin: Subḥānallāhil ‘aẓīmi wa biḥamdihī Terjemahan: Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya. Keterangan Amalan: Dibaca 100 kali setelah sholat Jum’at Menghapus 100.000 dosa pengamal Menghapus 24.000 dosa kedua orang tua Sumber: I‘ānatut Ṭālibīn, juz 2, hal. 180 2. Sholawat UMI Setelah Sholat Ashar Hari Jum’at Teks Arab: Teks Arab اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا Teks Arab Latin Allāhumma ṣalli ‘alā sayyidinā Muḥammadin ‘abdika wa rasūlika an-nabiyyil ummī, wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihī, wa sallim taslīmā. Terjemahan Bahasa Indonesia Ya Allah, sampaikanlah sholawat dan salam atas hamba dan utusan-Mu, Nabi yang ummi, yakni junjungan kami Nabi Muhammad, serta atas keluarga dan para sahabat beliau. Keterangan Amalan: Dibaca 80 kali setelah sholat Ashar hari Jum’at Dosa pengamal selama 80 tahun diampuni Sumber: I‘ānatut Ṭālibīn, juz 2, hal. 175–176

Menampilkan halaman 1 dari 2 (Total 14 data)