WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

11 Jan 2026 • Admin

Jejak sang pendosa 8, isyarah lembut daun sukun (wuquf fi qolbi)

Temanku bercerita, pada awal ia bergabung dalam jam’iyah Ashkhabiyyah, semangatnya begitu menggebu. Ia mengira jam’iyah itu adalah jalan cepat menuju Tuhan—instan dan pasti. Maka ia menjalani wirid dan suluk dengan, yang telah di ijasahkan dengan penuh keyakinan, hampir tanpa jeda. Suatu malam, ketika ia hendak tidur, ia merasakan angin masuk ke kamarnya. Udara berubah dingin dan sunyi. Dalam keheningan itu, terdengar suara samar, seakan sedang mencari seseorang yang biasa menempati sebuah tempat khusus, namun saat itu tidak berada di sana. Ia terkejut. Dadanya berdegup kencang. Namun ia memilih diam, menganggap mungkin itu hanya kelelahan batin. Beberapa waktu kemudian, seusai wirid Saman, ia masih berdiam di tempatnya. Tiba-tiba muncul gambaran langit yang luas. Di sana terlihat kantong-kantong tipis berwarna putih melayang-layang. Di antaranya ada beberapa yang berwarna kuning, memancarkan cahaya lembut. Dalam hatinya ia bertanya, “Di manakah ini?” Sebuah suara menjawab tanpa rupa: “Itu adalah ruh-ruh manusia yang akan diturunkan ke bumi. Yang berwarna kuning adalah ruh pilihan, ruh yang telah menjaga dzikir meski masih di alam ruh.” Belum sempat ia memahami penjelasan itu, tiba-tiba ia dipanggil. Jarinya diikat dengan benang yang sangat tipis, namun terasa kuat ketika ditarik. “Ikuti arah benang ini,” ujar suara itu. Ia pun mengikuti benang tersebut hingga tiba di suatu tempat. Di sana ia melihat dua orang sepuh dengan wajah teduh. Di samping mereka berdiri seorang pendamping yang tampak lebih muda, namun auranya dalam dan menenangkan. Salah satu orang sepuh itu memberinya sehelai daun sukun. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Panjenengan sinten?” Pendamping itu hanya menjawab, “Beliau adalah seorang guru.” Hatinya bergetar. Ia menatap daun sukun di tangannya. Dalam benaknya muncul makna yang membuatnya takut: sukun—berhenti. Dan berhenti, baginya saat itu, terasa seperti akhir. Ia terbangun dari tempat wirid dengan napas tersengal. Hari-hari setelahnya ia diliputi kegelisahan. Ia mencoba bercerita kepada seorang teman majelis, namun cerita itu menyebar hingga sampai kepada gurunya. Tak lama kemudian, sang guru menghubunginya. Beliau menjelaskan bahwa sosok yang ia lihat merupakan bagian dari mata rantai sanad dzikir yang sedang ia amalkan. Ia terkejut. Dengan hati-hati ia bertanya tentang makna daun sukun. Sang guru hanya tersenyum dan berkata singkat, “InsyaAllah, itu pertanda rezeki.” Tak ada penjelasan panjang. Hanya senyum dan ketenangan. Wallāhu a‘lam. Sekitar satu bulan setelah kejadian itu, temanku mulai memahami potongan-potongan isyarah tersebut. Ia mengerti bahwa pada malam itu, sosok yang biasa menempati tempatnya memang sedang menjalankan amanah tertentu. Di waktu yang sama, sang guru juga tengah diuji dengan cobaan berat dalam keluarganya. Saat itulah ia sadar: daun sukun bukan isyarat kematian, melainkan isyarat berhenti dari rasa merasa paling benar. Berhenti tergesa-gesa. Berhenti mengira jalan menuju Tuhan selalu lapang tanpa ujian. Ia hanyalah seorang pendosa yang sedang diajari untuk melambat, membaca tanda, dan menundukkan hati. Dan hingga kini, jejak itu masih ia pelajari, setapak demi setapak. Tambahan: Ketika Allah Menyuruh Kita Berhenti Sejenak Tidak semua kegelisahan adalah tanda kita jauh dari Allah. Kadang justru sebaliknya—itu pertanda kita sedang diperhatikan. Ada orang yang rajin ibadah, tekun wirid, tidak pernah meninggalkan amalan. Namun tiba-tiba hatinya gelisah, pikirannya kacau, dan langkahnya terasa berat. Ia bertanya-tanya, “Apa yang salah denganku?” Padahal, bisa jadi Allah sedang menyuruhnya berhenti sejenak. Berhenti dari merasa cepat sampai. Berhenti dari merasa lebih dulu paham. Berhenti dari mengira jalan kepada Allah selalu ringan tanpa ujian. Dalam perjalanan ruhani, Allah sering berbicara dengan isyarah, bukan dengan suara yang keras. Kadang lewat pertemuan, kadang lewat kegelisahan, bahkan lewat ketakutan yang tidak kita mengerti saat itu. Seperti daun sukun—ia bukan tanda akhir, tapi tanda ditenangkan. Disukunkan. Dihentikan sementara. Agar hati bisa menunduk, bukan meninggi. Tidak semua yang terasa berat itu buruk. Tidak semua yang membuat kita takut itu ancaman. Bisa jadi itu adalah cara Allah membersihkan niat kita Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Allah Maha Mengetahui mana yang paling benar.

08 Jan 2026 • Admin

Kisah al-kharis sebagai pengingat

Kisah Khâris Al-Khafî (Disampaikan oleh Guru KH. Masda Andi dalam pengajian Bapak Zainal, 07 Januari 2026 — dari Kitab Risalatus Khusyairiyah) Pada saat pengajian, Guru KH. Masda Andi menyampaikan sebuah kisah yang sangat menyentuh hati. Kisah ini diambil dari Kitab Risalatus Khusyairiyah, tentang seorang hamba Allah yang bernama Al-Khâris Al-Khafî. Al-Khâris ini, sebagaimana diceritakan guru, bukanlah orang besar, bukan pula seorang ulama terkenal. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau hanyalah seorang tukang minum. Jika dilihat dari penampilan lahiriah, tidak ada yang tampak istimewa. Suatu malam, Al-Khâris berjalan sendirian. Malam itu sunyi. Ketika melangkah, beliau melihat selembar tulisan undangan yang di dalamnya terdapat lafadz “Allah”, tergeletak di pematang sawah dan terinjak-injak oleh orang yang lewat. Al-Khâris berhenti. Ia tidak melanjutkan langkahnya. Hatinya tergerak. Tulisan itu kemudian diambil, dibersihkan, lalu diolesi minyak, dan disimpan di dalam lemari, ditempatkan di tempat yang lebih layak dan lebih mulia. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang memuji. Tidak ada yang tahu. Namun, sebagaimana disampaikan guru, pada malam itu juga, Al-Khâris diundang oleh Allah dan diangkat menjadi Wali Allah. Bukan karena banyaknya ibadah lahir. Bukan karena kedudukan sosial. Bukan karena penampilan luar. Tetapi karena adab kepada Asma Allah, dan rasa pengagungan yang tulus, meskipun melalui perbuatan yang terlihat kecil dan sederhana. Guru kemudian menyampaikan dengan nada yang dalam: “Kadang Allah mengangkat derajat seseorang bukan dari perkara-perkara besar, tetapi dari hati yang bersih dan sikap tidak meremehkan hal-hal kecil.” Pesan yang Menjadi Pegangan Di akhir cerita, Guru KH. Masda Andi menyampaikan pesan yang sangat penting, dan ini menjadi dasar bagi saya pribadi, khususnya bagi jamaah Ashkhabiyyah: Jangan sekali-kali meremehkan seseorang, meskipun secara lahiriah tampak sederhana atau tidak seperti kita. Karena kita tidak pernah tahu: siapa yang paling dekat dengan Allah, siapa yang amalnya paling diterima, dan siapa yang justru diangkat derajatnya hanya karena satu adab kecil yang tulus. Kisah Al-Khâris Al-Khafî ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin untuk hati kita hari ini—agar lebih rendah hati, lebih berhati-hati, dan lebih memuliakan apa pun yang berhubungan dengan Allah

04 Jan 2026 • Admin

Seribu satu jurus, sanad tetap lurus “Sang Kyai Dana Talangan”

Malam itu, angin di halaman majlis terasa biasa saja. Tidak ada tanda-tanda acara besar, tidak pula hiruk pikuk persiapan. Hanya tikar, termos teh, dan beberapa wajah jamaah yang sudah saling hafal satu sama lain. Rapat penutupan sementara Majlis Ashkhabiyyah baru saja dimulai. Mas Didit, selaku ketua panitia penutupan sementara, membuka catatan kecilnya. Suaranya pelan tapi tegas. “Ini laporan terakhir. Dana kas tersisa sekian…,” ia berhenti sejenak, menatap angka di kertas. “Kalau untuk konsumsi dan operasional penutupan minggu depan, masih kurang.” Beberapa jamaah saling pandang. Tidak panik, tapi juga tidak kaget. Situasi seperti ini bukan hal baru. Mas Sony langsung menyender, tersenyum sambil mengangkat alis. “Tenang wae, Mas… ana Gusse. Lak kurang, mesti ditambal,” celetuknya, disambut tawa kecil. Mas Agus ikut menimpali, “Wis langganan iki. Dana majlis minus, sing deg-degan dudu jamaah.” Semua tertawa. Semua kecuali satu orang. KH Masda Andi—yang oleh jamaah sering dipanggil Gus Da—hanya tersenyum tipis. Tangannya tetap di dalam saku bajunya. Tidak ikut tertawa, tapi juga tidak terlihat keberatan. Ia membuka suara dengan nada datar. “Ya dicukupkan saja. Yang penting acaranya jalan, jamaah khusyuk, dan adab tetap dijaga.” Mas Didit mengangguk. Ia tahu betul maksud kalimat itu. Tanpa diumumkan, tanpa dicatat di papan laporan, dana itu akan kembali “dicukupkan”. Seperti biasa. Julukan itu—“kyai dana talangan”—tidak pernah datang dari mimbar. Ia lahir dari kebiasaan yang berulang. Saat ziarah, ketika bus belum lunas. Saat acara internal, ketika konsumsi mendadak bertambah. Bahkan ketika kas benar-benar nol, majlis tetap berjalan. Dan yang paling sering heran justru jamaah baru. “Kasnya dari mana, Gus?” tanya salah satu dari mereka suatu hari. Gusse hanya menjawab singkat, “Ndak usah dipikir. Fokus amaliyah.” Namun ada satu hal yang tak pernah beliau longgarkan: sanad amaliah. Dalam hal dana, beliau longgar. Tapi ketika menyangkut wirid, ijazah, atau bacaan yang dibagikan ke jamaah, sikapnya berubah total. Setiap lafadz ditelusuri, setiap amalan dijaga jalurnya. “Amal itu bukan soal banyak atau ramai,” katanya suatu malam, “tapi soal dari siapa kita menerima dan ke mana kita menyambung.” Mas Sony pernah bercanda, “Gus, duit njenengan entek ora popo, tapi sanad ora iso kurang siji wae.” Gusse tersenyum. “Kalau duit, insyaAllah bisa dicari. Tapi kalau sanad rusak, yang repot bukan aku—jamaah semua.” Rapat malam itu pun ditutup tanpa keputusan rumit. Tidak ada penggalangan dana mendadak. Tidak ada tekanan. Jamaah pulang dengan tenang. Mas Agus berbisik sambil membersikah bekas puntung rokok, “Majlis iki unik yo. Danane sering seret, tapi jalannya alus.” Mas Didit menghela napas pelan. “Alus karena ada yang diam-diam nahan beban.” Di sudut ruangan, Gusse berdiri, memasukkan kembali catatan ke dalam sakunya. Tak ada pengumuman. Tak ada laporan. Hanya satu kebiasaan yang terus berjalan: Majlis tetap hidup, jamaah tetap tenang, dan dana—entah bagaimana—selalu “ketambal”.

02 Jan 2026 • Admin

Wewelar yang hanya lewat Layar

Guru itu menatap layar ponselnya cukup lama. Pesan terakhir masih ada di sana, belum tenggelam oleh obrolan lain. “Manggono ngqof ojo nang nun. Belajar istiqomah, jangan mengejar karomah.” Beliau mengirimkan kalimat itu ke tiga grup WhatsApp majlis ashkhabiyyah. Tidak sekali. Beliau menuliskannya dengan hati-hati, lalu mengulanginya tiga kali, seolah berharap pengulangan bisa menggantikan suara dan tatapan. Dalam batinnya ia bertanya: “Apakah pesan yang baik memang harus diulang-ulang agar dianggap penting?” Belum yakin cukup, beliau menjadikannya status WhatsApp dua kali dalam satu hari. Pagi, lalu sore. Bukan untuk pamer nasihat, tapi karena ada kegelisahan yang tak bisa ia ucapkan langsung. Beliau membaca kembali status itu. “Aku tidak sedang melarang karomah,” batinnya berbicara, “aku hanya takut kalian tersesat arah. Ngqof itu tempat berdiri, nun itu tujuan. Kalau berdirinya belum kuat, mengapa ingin cepat sampai?” Namun yang ia lihat di percakapan grup justru hal lain. Pertanyaan-pertanyaan tentang tanda, mimpi, kejadian aneh. Cerita-cerita yang lebih bersemangat saat membahas keistimewaan, namun sunyi ketika diajak bicara tentang kesabaran dan kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari. Guru itu menarik napas pelan. “Apa istiqomah memang terlalu biasa sampai tak dianggap berharga?” “Atau aku yang terlalu berharap pada pesan singkat di layar?” Jarinya sempat ragu sebelum mengunci ponsel. “Tugasku hanya mengingatkan,” katanya dalam hati, “meski hanya lewat tulisan, meski harus diulang, meski hanya menjadi status yang dilewati.” Sore itu, beliau tidak menulis lagi. Beliau memilih diam, membiarkan pesan itu bekerja dengan caranya sendiri. Sebab beliau tahu, wewelar guru bukan soal dibaca atau tidak, tetapi soal kapan hati siap menerima.

Menampilkan halaman 1 dari 1 (Total 4 data)