WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

29 May 2026 • Admin

Hikayat Sumur, Ular, dan Tawakal: Memahami Kisah Sufi dengan Kacamata Hikmah, Bukan Sekadar Logika

Oleh: Jamaah Al AshkhabiyyahDisampaikan dalam pengajian Hilayat 11 Kitab An-Nawadir oleh Ust. Restu pada 12 Dzulhijjah 1447 H Pengantar Pada pembacaan Hikayat ke-11 Kitab An-Nawadir, dikisahkan seorang sufi bernama Thariq As-Siddiq yang terjatuh ke dalam sumur ketika sedang menempuh perjalanan. Setelah berada di dalam sumur, ada rombongan musafir yang hendak berangkat haji menutup sumur tersebut karena khawatir membahayakan orang lain. Dalam keadaan gelap dan tanpa jalan keluar, Thariq As-Siddiq tidak berteriak meminta tolong, tidak pula panik. Ia memasrahkan dirinya kepada pertolongan Allah. Di tengah kegelapan itu, ia melihat cahaya yang ternyata berasal dari mata seekor ular. Namun ular tersebut tidak mencelakakannya. Justru melalui sebab ular itulah akhirnya ia dapat keluar dari sumur dan terselamatkan. Bagi sebagian jamaah, kisah ini terasa sulit dipahami. Bahkan ada yang merasa hikayat sebelumnya—tentang seorang ahli ibadah yang shalat di tengah lautan—lebih mudah dicerna dibandingkan kisah ular yang menolong seorang sufi keluar dari sumur. Padahal justru di sinilah letak rahasia hikmah yang ingin disampaikan. Menelusuri Jejak Kisah yang Mirip Ketika ditelusuri lebih jauh, ditemukan adanya kisah yang sangat mirip dalam literatur tasawuf mengenai seorang sufi bernama Abu Hamzah Al-Baghdadi atau Abu Hamzah Al-Khurasani. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa beliau pernah terjatuh ke dalam sumur saat melakukan perjalanan menuju haji. Setelah sumur itu ditutup oleh orang-orang yang lewat, beliau memilih bertawakal kepada Allah dan tidak berteriak meminta pertolongan. Pada akhirnya beliau diselamatkan melalui seekor binatang yang menjadi sebab keluarnya dari sumur. Link temuan kisah sama Kemiripan alur antara kisah dalam Hikayat ke-11 dan riwayat Abu Hamzah menunjukkan bahwa kemungkinan besar hikayat tersebut berasal dari rumpun kisah tasawuf yang sama, hanya berbeda penyebutan tokoh atau rincian peristiwanya. Dalam tradisi hikayat klasik, hal semacam ini bukanlah sesuatu yang asing. Sering kali satu kisah berpindah dari satu kitab ke kitab lain, dari satu daerah ke daerah lain, dengan variasi nama tokoh ataupun bentuk peristiwa, sementara pesan ruhani yang dibawa tetap sama. Mengapa Banyak Orang Sulit Mencerna Kisah Ini? Kesulitan memahami hikayat seperti ini biasanya terjadi karena kisah tersebut dibaca hanya sebagai laporan sejarah. Padahal tujuan utama para ulama tasawuf ketika menyampaikan hikayat bukan sekadar menceritakan kejadian masa lalu. Mereka ingin menunjukkan keadaan hati seorang hamba ketika berhadapan dengan takdir Allah. Fokus utama cerita bukanlah: Apakah ular benar-benar menolong? Bagaimana cara ular mengangkat manusia? Apakah peristiwa itu masuk akal secara ilmiah? Melainkan: Bagaimana sikap seorang hamba ketika semua sebab lahiriah tertutup? Seberapa kuat keyakinannya kepada pertolongan Allah? Apakah ia tetap tenang ketika tidak melihat jalan keluar? Di sinilah nilai pendidikan ruhani yang ingin ditanamkan. Tawakal Tidak Berarti Menolak Sebab Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap para sufi mengajarkan meninggalkan ikhtiar. Padahal para ulama Ahlussunnah wal Jamaah membedakan antara: Tawakal, yaitu menyandarkan hati kepada Allah. dan Asbab, yaitu menggunakan sebab-sebab yang Allah ciptakan. Ketika Allah hendak menolong Nabi Musa, laut menjadi jalan. Ketika Allah hendak menyelamatkan Nabi Yunus, ikan menjadi sebab. Ketika Allah hendak menjaga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat hijrah, gua menjadi tempat perlindungan. Maka jika dalam sebuah hikayat Allah menjadikan ular sebagai sebab keselamatan seorang hamba, inti pesannya bukan memuliakan ular, melainkan menunjukkan bahwa Allah mampu mengirim pertolongan dari arah yang tidak pernah diduga manusia. Ketika Kisah Sufi Dijadikan Bahan Serangan Aqidah Di masa sekarang, sebagian kelompok menjadikan kisah-kisah tasawuf seperti ini sebagai bahan untuk menyerang tradisi Ahlussunnah dan kaum sufi. Salah satu contohnya adalah kajian yang mengkritik kisah Abu Hamzah yang masuk sumur dan menganggapnya sebagai bentuk penyimpangan atau talbis. Link meragukan kisah ini Namun perlu dipahami bahwa ada perbedaan besar antara: Mengkritik sanad atau keabsahan riwayat. Menuduh seluruh pesan hikmah dalam kisah sebagai kesesatan. Para ulama sejak dahulu memang berbeda pendapat mengenai sebagian hikayat para sufi. Akan tetapi mayoritas ulama tidak menjadikan hikayat-hikayat tersebut sebagai dasar aqidah. Hikayat berfungsi sebagai: Pelajaran akhlak. Penguat semangat ibadah. Gambaran tentang tawakal. Renungan bagi para pencari jalan Allah. Selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pokok aqidah Islam, maka hikayat dipahami sebagai ibrah (pelajaran), bukan sebagai dalil pokok agama. Mengapa Pertolongan Allah Sering Datang dari Sesuatu yang Tidak Disukai? Ada rahasia yang sangat halus dalam kisah ini. Ular secara umum adalah makhluk yang ditakuti manusia. Sumur adalah tempat yang menakutkan. Kegelapan adalah keadaan yang membuat hati gelisah. Namun justru dari tiga hal yang menakutkan itulah datang keselamatan. Ini mengajarkan bahwa seorang hamba tidak boleh menilai takdir hanya dari penampilannya. Terkadang sesuatu yang terlihat buruk justru menyimpan rahmat. Sebaliknya, sesuatu yang tampak indah bisa saja menjadi ujian. Karena itu para ahli ma’rifat sering mengatakan bahwa seorang salik harus belajar melihat tangan Allah di balik setiap kejadian, bukan hanya melihat bentuk kejadiannya. Penutup Jika Hikayat ke-11 dibaca hanya dengan ukuran logika, maka yang terlihat hanyalah cerita tentang seorang sufi, sebuah sumur, dan seekor ular. Namun jika dibaca dengan mata hati, maka yang terlihat adalah pelajaran tentang: Tawakal ketika semua jalan tertutup. Ketenangan saat menghadapi takdir. Keyakinan bahwa pertolongan Allah tidak terbatas oleh sebab. Kesadaran bahwa Allah mampu mengirim keselamatan dari arah yang tidak pernah disangka manusia. Karena itu, nilai terbesar dari hikayat ini bukan terletak pada ular yang menolong, melainkan pada hati seorang hamba yang tetap percaya kepada Allah ketika berada dalam kegelapan sumur dan tidak melihat jalan keluar sedikit pun. Di situlah letak ruh dari kisah tersebut.

24 May 2026 • Admin

Ketika Guru Terlihat Namun Tidak Terasa: Catatan Hakikat Seorang Pencari

Ada masa-masa dalam perjalanan ruhani ketika seorang murid merasa dekat dengan gurunya. Nasihat mudah didengar, petunjuk terasa jelas, dan kehadiran sang guru seperti selalu menyertai langkah-langkahnya. Namun ada pula masa yang berbeda. Beberapa minggu terakhir aku merasakan keadaan yang sulit dijelaskan. Guruku ada, namun seperti tidak ada. Beliau terlihat, tetapi kehadirannya tidak terasa sebagaimana biasanya. Di grup jamiyah yang biasanya hidup dengan candaan, arahan, dan perhatian beliau kepada para anggota, aku seperti tidak menemukan sosok yang selama ini akrab mengawasi perjalanan kami. Perasaan ini bukan pertama kali datang. Aku pernah mengalaminya saat awal mengikuti jamiyah. Saat itu aku memahami bahwa guru sedang menjalankan tugas tertentu. Karena itu, ketika rasa yang sama kembali hadir, aku menduga mungkin ada keadaan yang serupa. Tetapi kali ini terasa berbeda. Aku tidak segera mencari jawaban kepada siapa pun. Selama kurang lebih dua minggu, aku memilih mencari pemahaman sendiri di bawah kolong langit. Aku memandang perjalanan hidup, memperhatikan keadaan batin, dan bertanya dalam diam: “Pelajaran apa yang sedang diajarkan semesta kepadaku?” Dari perenungan itu, muncul satu pemahaman. Mungkin dzikir ruhani bukan sekadar jalan untuk naik menuju rasa kedekatan kepada Allah. Dzikir juga mengajarkan bagaimana seorang salik mengalami pendakian dan penurunan maqamat secara sadar. Ada saat hati dipenuhi cahaya, ada saat terasa kering. Ada masa dipenuhi rasa hadir, ada masa dipenuhi rasa kehilangan. Keduanya bukan musuh perjalanan. Keduanya adalah bagian dari perjalanan itu sendiri. Pada saat hati diangkat, seorang hamba belajar mensyukuri tajalli, yaitu penampakan rahmat dan cahaya Ilahi yang menyentuh batinnya. Sedangkan ketika hati diturunkan dan rasa-rasa itu dicabut sementara, seorang hamba belajar membersihkan dirinya dari ketergantungan kepada selain Allah. Pendakian mengajarkan keindahan. Penurunan mengajarkan keikhlasan. Pendakian menghadirkan rasa. Penurunan menguji kesungguhan. Barangkali di sanalah hijab-hijab diri mulai tersingkap sedikit demi sedikit, hingga seorang pencari tidak lagi bergantung kepada keadaan batinnya sendiri, melainkan kepada Allah semata. Lalu muncul pemahaman lain yang lebih dalam. Mungkin inilah pelajaran yang sedang diajarkan kepada kami: jangan memandang guru hanya melalui kehadiran yang tampak. Jangan bergantung kepada sosok guru tanpa usaha berjalan sendiri. Seorang guru sejati tidak selalu mendampingi murid dengan kata-kata. Kadang beliau mengajar dengan diam. Kadang beliau mengajar dengan jarak. Kadang beliau mengajar dengan membiarkan murid mencari sendiri apa yang selama ini hanya didengar dari orang lain. Seakan-akan beliau tidak ada. Padahal beliau tetap mengawasi. Seakan-akan beliau menjauh. Padahal beliau sedang mengajarkan cara berdiri dengan kaki sendiri. Karena tujuan perjalanan ruhani bukanlah menjadikan murid bergantung kepada guru. Tujuannya adalah agar murid menemukan jalan menuju Allah dengan kesadaran, kesungguhan, dan pengalaman yang lahir dari perjuangannya sendiri. Maka ketika guru terasa jauh, belum tentu itu tanda ditinggalkan. Bisa jadi itu tanda bahwa pelajaran telah memasuki bab yang baru. Bab ketika seorang murid harus belajar berjalan, sementara sang guru mengawasi dari kejauhan. Dan mungkin, justru dalam keadaan itulah banyak rahasia perjalanan mulai dibukakan.

22 May 2026 • Admin

Menyimak Rahasia Witir: Renungan Seorang murid Tentang Kasih Sayang Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Tulisan ini bukanlah fatwa, bukan pula penafsiran yang mengikat. Ia hanyalah renungan seorang murid yang masih belajar memahami jejak-jejak rahmat Allah dalam ibadah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Witir dan mencintai yang witir.” Sejak pertama kali mendengar hadits ini, kebanyakan kita memahami bahwa Allah menyukai bilangan ganjil. Maka banyak ibadah yang dibangun di atas pola ganjil; witir satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat, dan seterusnya. Namun dalam perjalanan ngaji dan tafakkur, muncul sebuah pertanyaan kecil di dalam hati saya: Mengapa Allah mencintai yang witir? Tentu Allah tidak membutuhkan bilangan ganjil. Allah Maha Kaya dan tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya. Karena itu, ketika Allah mencintai sesuatu, tentu bukan karena Allah memperoleh manfaat darinya. Maka terlintas dalam benak saya, jangan-jangan rahasia witir bukan sekadar persoalan angka, melainkan bahasa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Witir Sebagai Penutup Kekurangan Perhatikanlah bagaimana syariat menempatkan shalat witir. Ia berada di akhir. Setelah Isya.Setelah tarawih.Setelah tahajud.Setelah seluruh rangkaian shalat malam. Seakan-akan seluruh amal seorang hamba dikumpulkan terlebih dahulu, lalu di penghujung malam Allah menghadiahkan witir sebagai penutupnya. Para ulama menjelaskan bahwa shalat sunnah dapat menjadi penyempurna kekurangan shalat wajib. Dari sini muncul renungan dalam hati saya: Bukankah mungkin witir juga merupakan simbol bahwa kasih sayang Allah datang setelah seluruh usaha manusia selesai? Siang hari manusia penuh kekurangan. Ada shalat yang kurang khusyuk.Ada dzikir yang terputus.Ada pandangan yang belum terjaga.Ada niat yang tercampur. Namun ketika malam tiba dan seorang hamba berdiri untuk witir, seakan ia sedang mengetuk pintu rahmat Allah sambil berkata: “Ya Allah, aku telah berusaha semampuku. Sisanya aku serahkan kepada-Mu.” Maka witir menjadi lambang bahwa rahmat Allah selalu lebih besar daripada kekurangan amal hamba. Pola Ada dan Tiada Dalam renungan berikutnya, saya melihat bahwa banyak ciptaan Allah berjalan dengan pola berpasangan. Siang dan malam.Hidup dan mati.Masuk dan keluar.Nafas dan hembusan.Lapar dan kenyang.Tidur dan bangun. Bahkan teknologi modern yang dibuat manusia pun bekerja dengan pola sederhana: ada dan tidak ada. Dalam bahasa komputer dikenal angka 1 dan 0. Tentu bukan berarti komputer menjelaskan hakikat alam semesta. Namun manusia sering kali meniru sebagian kecil sunnatullah yang sudah Allah hamparkan dalam penciptaan. Seakan-akan kehidupan dunia dibangun di atas pergantian keadaan. Tidak ada siang yang abadi.Tidak ada malam yang kekal.Tidak ada sehat yang terus-menerus.Tidak ada sakit yang selamanya. Semua bergerak dalam irama pergantian. Mengapa Puasa Daud Selang-Seling? Di sinilah saya teringat kepada puasa Nabi Daud alaihissalam. Sehari berpuasa.Sehari berbuka. Sehari menahan.Sehari menerima. Sehari lapar.Sehari kenyang. Sehari meninggalkan dunia.Sehari berinteraksi dengan dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai puasa yang paling dicintai Allah. Mengapa bukan puasa terus-menerus? Mengapa justru pola selang-seling? Wallahu a’lam. Namun dalam renungan seorang hamba, puasa Daud seakan mengajarkan agar manusia tidak membeku dalam satu keadaan. Karena dunia memang diciptakan bergerak. Orang yang memahami pergantian akan mudah menerima takdir. Ketika kaya ia tidak mabuk. Ketika miskin ia tidak putus asa. Ketika dipuji ia tidak terbang. Ketika dicela ia tidak jatuh. Karena ia tahu bahwa dunia berjalan dengan sunnatullah pergantian. Rahasia Ganjil Menurut Hati Seorang Hamba Saya tidak berani mengatakan bahwa inilah makna hadits yang sebenarnya. Namun hati saya menangkap satu isyarat: Bilangan genap selalu menunjukkan pasangan yang saling berhadapan. Sedangkan bilangan ganjil selalu menyisakan satu. Satu yang tidak mempunyai pasangan. Satu yang berdiri sendiri. Satu yang menjadi tempat kembali seluruh pasangan. Bukankah hanya Allah yang demikian? Segala sesuatu memiliki lawan. Panas memiliki dingin.Terang memiliki gelap.Laki-laki memiliki perempuan.Langit memiliki bumi. Tetapi Allah tidak mempunyai tandingan, tidak mempunyai pasangan, tidak mempunyai lawan. Karena itu ketika Allah mencintai yang witir, seakan-akan Allah sedang mengingatkan hamba agar jangan bergantung kepada pasangan-pasangan dunia. Di balik semua sebab, ada Musabbibul Asbab. Di balik semua gerak, ada Penggerak. Di balik semua bilangan, ada Yang Maha Esa. Penutup Semakin lama saya merenungi witir, semakin saya merasa bahwa rahasia terbesarnya bukan pada angka ganjil itu sendiri. Rahasia terbesarnya adalah rahmat. Seorang hamba beramal dengan segala kekurangannya. Lalu Allah menutup kekurangan itu dengan kasih sayang-Nya. Sebagaimana malam ditutup dengan witir. Sebagaimana amal ditutup dengan ampunan. Aku juga berfikir apakah ini bentuk kasih allah yang mengingatkan hamba akan kekurangan diatas yang maha esa? Apakah allah menunjukan hamba kembali pasanya Apakah kasih allah dalam puasa daud puasa yang dicintainya bentuk dari rahmad memberikan sehari hak kepada manusia dan sehari hak kepadanya Sebagaimana hidup seorang mukmin pada akhirnya ditutup dengan rahmat Allah semata. Wallahu a’lam bish-shawab. Rekaman pengajian akan segera di upload, di aplikasi ashkhabiyyah

16 May 2026 • Admin

Di Tengah Ombak yang Mengamuk, Ada Lelaki yang Shalat di Atas Laut

Kisah ini disampaikan ust restu, dipengajian al-ashkhabiyyah di musholah sirojudin desa nglaban pada 15 mei 2026 Dikutip dari hikayat ke 10 kitab an-nawidir Malam itu laut berubah wajah. Angin meraung seperti hendak merobek langit. Ombak menggulung tinggi menghantam kapal besar yang membawa ratusan penumpang. Orang-orang panik. Sebagian berteriak, sebagian menangis, sebagian lagi hanya mampu berpegangan sambil membaca doa seadanya. Air laut mulai naik ke atas dek. Kapal semakin berat. Ketakutan menyelimuti seluruh penumpang. Menurut orang-orang yang pernah menaiki kapal itu, belum pernah terjadi badai sedahsyat malam tersebut. Seolah lautan benar-benar diperintah untuk menelan semuanya sekaligus. Namun di tengah kepanikan itu, ada satu sosok yang justru terlihat begitu tenang. Seorang lelaki berjubah duduk di sudut kapal. Wajahnya teduh. Tidak tampak ketakutan sedikit pun. Ia diam seperti seseorang yang hatinya sedang tenggelam dalam kehadiran Allah. Lalu sesuatu yang mustahil pun terjadi. Lelaki itu berdiri. Kemudian berjalan keluar dari kapal. Bukan berenang. Bukan menaiki perahu kecil. Tetapi berjalan di atas permukaan laut. Ombak besar yang membuat kapal nyaris tenggelam itu seolah menjadi pijakan baginya. Bahkan yang lebih menggetarkan, lelaki tersebut berdiri melakukan shalat di atas gelombang air yang berguncang hebat. Semua penumpang terpaku. Di antara mereka ada seorang lelaki — sebut saja Fulan — yang menyadari bahwa sosok tersebut bukan manusia biasa. Dengan suara gemetar ia berteriak: “Wahai waliyullah, tolonglah kami!” Namun lelaki itu tidak menoleh. Fulan kembali memohon: “Demi Dzat yang memberimu kekuatan untuk beribadah kepada-Nya, selamatkan kami!” Kali ini lelaki berjubah itu menoleh. Dengan wajah polos ia bertanya: “Apa yang terjadi pada kalian?” Fulan sampai heran mendengar pertanyaan tersebut. “Apakah engkau tidak melihat kapal ini hampir tenggelam diterjang ombak dan badai?” Lelaki itu menjawab singkat: “Dekatlah kepada Allah.” “Bagaimana caranya?” tanya Fulan. “Meninggalkan dunia.” Jawaban itu menghantam hati mereka lebih keras daripada ombak yang menghantam kapal. Fulan dan seluruh penumpang pun berkata: “Kami akan melakukannya.” Lelaki tersebut lalu berkata: “Keluarlah dari kapal sambil membaca bismillah.” Perintah yang tampak mustahil. Namun dalam keadaan tak memiliki harapan selain Allah, seluruh penumpang mengikuti instruksi itu. Satu demi satu mereka turun dari kapal sambil membaca basmalah. Dan keajaiban pun terjadi. Mereka tidak tenggelam. Mereka berjalan di atas air. Lebih dari dua ratus orang berdiri di atas lautan bersama lelaki misterius itu, sementara di hadapan mata mereka sendiri kapal yang tadi mereka tumpangi perlahan tenggelam ke dasar laut. Setelah semuanya selamat, lelaki itu berkata: “Kalian sudah diselamatkan Allah. Sekarang pergilah.” Namun Fulan masih penasaran. “Siapakah engkau sebenarnya?” Lelaki itu menjawab pelan: “Aku adalah Uwais al-Qarni.” Nama yang mengguncang hati para pecinta orang-orang saleh. Tetapi kisah belum selesai. Fulan lalu berkata bahwa di dalam kapal terdapat harta milik seorang penduduk Mesir yang hendak disedekahkan kepada fuqara Madinah. Semua harta itu ikut tenggelam bersama kapal. Uwais al-Qarni bertanya: “Jika Allah mengembalikan harta kalian, maukah kalian membagikannya kepada fakir miskin Madinah?” Mereka menjawab: “Mau.” Uwais kemudian melaksanakan shalat dua rakaat. Ia berdoa lirih. Tidak ada teriakan. Tidak ada pertunjukan. Hanya doa seorang hamba yang dekat dengan Rabb-nya. Tiba-tiba laut kembali berguncang. Dan kapal yang telah tenggelam itu muncul kembali dari dasar lautan lengkap bersama seluruh isinya. Para penumpang menangis menyaksikan kejadian tersebut. Mereka kembali naik ke kapal. Sedangkan Uwais al-Qarni menghilang entah ke mana. Kapal itu akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Dan ketika sampai di sana, para penumpang benar-benar menepati janji mereka: membagikan harta tersebut kepada para fuqara Madinah sampai disebutkan tidak tersisa lagi orang fakir di sana. Begitulah kisah karamah Uwais al-Qarni yang dinukil dalam kitab Al-Nawadir karya Ahmad Shihabuddin al-Qalyubi. Kadang Allah memperlihatkan kepada manusia bahwa yang menyelamatkan bukan kapal, bukan kekuatan, bukan kepintaran. Tetapi hati yang benar-benar bergantung kepada-Nya. Dan salah satu pelajaran terbesar dari kisah ini adalah: Sedekah yang ikhlas dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah, bahkan di saat manusia sudah merasa tidak memiliki jalan keluar sama sekali. Wallahu a’lam.

21 Apr 2026 • Admin

Rahasia Doa & Hakikatnya

Rahasia Doa Para Salik Ashkhabiyyah: Ketika Permohonan Menjadi Gelombang Cahaya (Risalah Ruhani Jalan Ashkhabiyyah tentang Hakikat Doa) Wahai anak suluk,ketahuilah… doa itu bukan sekadar rangkaian kata yang keluar dari lisan,melainkan getaran rasa yang memancar dari dalam hati. Namun jangan salah memahami—jalan ini bukan meninggalkan doa dengan lisan,bukan pula meninggalkan syariat. Seorang salik tetap berdoa, tetap sholat, tetap mengikuti sunnah,tetapi batinnya tidak lagi menuntut,tidak lagi memaksa kehendak kepada Allah. Karena hakikat doa bukan pada banyaknya kata,melainkan pada hadirnya hati di hadapan-Nya. Ketika seorang salik bersungguh-sungguh dalam dzikir,maka doa tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang harus diucapkan,melainkan hadir dengan sendirinya… Seperti bunga yang mekar tanpa diperintah,karena memang sudah tiba musimnya. Doa yang hanya lahir dari akal dan lisan,baru menyentuh langit dunia. Namun doa yang lahir dari rasa yang hidup,itulah yang menembus ke hadirat Allah. Di maqam ini, doa bukan sekadar permintaan,melainkan kesadaran mendalam: bahwa segala sesuatu telah berada dalam genggaman Allah. Ketika engkau berkata:“Ya Allah, kabulkanlah…”maka sejatinya engkau sedang mengakuibahwa Allah Maha Mengetahui sebelum engkau meminta. Dan ketika hatimu mulai berhenti menagih,tidak lagi memaksa hasil, di situlah rahasia mulai terbuka—bahwa Allah bekerja dalam diam,dalam pasrah,dalam hati yang rela menerima. Ingatlah, wahai para salik Ashkhabiyyah…orang yang mulai matang dalam rasa,tidak lagi sibuk mengatur Allah harus berbuat apa. Mereka hanya hadir,membuka diri,menjadi wadah bagi kehendak Ilahi. Doa mereka tidak lagi:“Ya Allah, berikan aku ini…” tetapi berubah menjadi:“Ya Allah, tampakkan kehendak-Mu dalam hidupku.” Di sinilah makna dari pesan guru kita: “.” Maksudnya bukan tidak berdoa,bukan pula meninggalkan permohonan, tetapi tidak menuntut dengan ego. Karena seorang salik memahami,yang ia butuhkan bukan sekadar apa yang ia inginkan,melainkan apa yang mendekatkannya kepada Allah. Dan seringkali,yang Allah berikan itu bukan yang diminta,tetapi yang paling dibutuhkan oleh ruhnya. Bagi para salik,keterlambatan terkabulnya doa bukanlah penolakan, melainkan proses penjernihan hati,agar yang turun nanti bukan sekadar keinginan,tetapi kebaikan yang lebih dalam dan hakiki. Doa yang sejati kadang bukan suara…melainkan keheningan. Saat hati bersujud tanpa kata,rasa menyatu dalam cahaya kehidupan dari Allah,dan seluruh diri ikut bertasbih tanpa dipaksa. Namun ingat—keheningan ini bukan alasan untuk meninggalkan ibadah lahir,melainkan buah dari ibadah yang dijalani dengan istiqamah. Pada maqam ini, hati tidak lagi berkata:“Ya Allah, kabulkan keinginanku…” melainkan berubah lembut menjadi:“Ya Allah, jadikan aku bagian dari kehendak-Mu.” Inilah maqam doa dalam jalan Ashkhabiyyah: setiap nafas menjadi dzikir,setiap kedipan mata menjadi permohonan,setiap detak jantung menjadi tasbih. Mereka tetap berharap surga,dan tetap takut neraka dalam syariat, namun dalam batin,cinta kepada Allah lebih mendominasidaripada sekadar harap dan takut. Maka jika engkau berdoa…berdoalah dengan sungguh-sungguh, namun jangan menagih,jangan memaksa hasil. Berdoalah… lalu serahkan. Karena yang sebenarnya engkau caribukan sekadar terkabulnya permintaan,melainkan terbukanya hijab antara engkau dan Allah. Dan ketika hijab itu mulai tersingkap,engkau tidak lagi berdoa hanya dengan kata-kata, tetapi dengan rasa,dengan cahaya,dengan cinta yang hening— yang hanya dimengerti oleh Allahdan para kekasih-Nya.

20 Apr 2026 • Admin

RUANGAN TUBUH(Menelusuri Ruang Batin dalam Diri)

BismillahirrahmanirrahimShollallahu ‘ala Sayyidina Muhammad Catatan kecil seorang murid, sekadar pepiling untuk diri sendiri. Ditulis untuk mengingatkan, bukan untuk merasa sudah sampai, dibuat karena teman pengamal dzikir samaniah sering dibingungkan dengan cahaya atau lain hal yang datang setalah dzikir, Ruangan 1 – Awal Memasuki DiriDi dalam tubuhmu terdapat susunan halus yang saling terhubung, seperti tenunan sutra yang rapi dan indah.Itulah gambaran dirimu yang sebenarnya. Jika engkau ingin memasukinya, masuklah dengan sungguh-sungguh.Dan jika belum mampu, belajarlah kepada orang yang telah lebih dulu mengenalnya. Ruangan 2 – Keyakinan AwalBagaimana melihat ruangan batin dalam tubuh?Apakah itu nyata atau hanya khayalan? Wahai pencari jalan ashkhabiyyah, ketahuilah:segala “perabot” dalam dirimu telah tersusun rapi,seperti merak yang membuka bulunya — indah, tapi hanya tampak bagi yang mau melihat. Ruangan 3 – Terbukanya Nur TauhidEngkau akan mulai melihat,ketika dzikirmu mampu membuka nur tauhid dalam sirmu. Saat cahaya itu memancar,engkau akan menyadari bahwa dalam dirimu terdapat “kerajaan” yang luas. Ruangan 4 – Adab Memasuki BatinSetelah berdzikir, jangan tergesa berdoa.Diamlah sejenak… Siapa tahu nur itu sedang memancar.Pusatkan perhatianmu, lalu masuklah perlahan. Lihatlah ruangannya…dindingnya, isinya… semuanya dalam cahaya. Setelah itu, barulah berdoa.Dan jangan lupa bersyukur. Ruangan 5 – Alam AkalJika engkau masuk ke dalam otakmu,engkau akan melihat kilauan cahaya berwarna-warni,seperti bintang bertaburan di langit. Itulah akalmu —yang selama ini menemanimu berpikir. Ruangan 6 – Alam NafsuJika engkau masuk ke dalam hatimu,engkau akan melihat cahaya yang berubah-ubah warna. Itulah nafsumu —yang selama ini mendorongmu bergerak dalam kehidupan. Ruangan 7 – Alam RuhJika engkau masuk ke dalam jantungmu,engkau akan melihat cahaya putih jernih,seperti telaga kautsar. Itulah ruhmu —yang menghidupi seluruh hidupmu. Ruangan 8 – Alam SirrJika engkau masuk lebih dalam ke dalam ruhmu,engkau akan melihat cahaya seperti kristal yang berkilau. Itulah sirmu —rahasia halus yang membimbing arah hidupmu. Ruangan 9 – Alam NurJika engkau terus masuk ke dalam sirr,engkau akan melihat cahaya yang sangat terang. Itulah nurmu —yang selama ini menerangi perjalananmu. Ruangan 10 – Alam Dzat (Isyarat Kedalaman)Jangan berhenti pada cahaya itu.Teruslah masuk… Hingga engkau merasakan seakan berada dalam ruang tanpa batas,tenang… luas… dan tidak terjangkau. Itulah isyarat kedalaman dirimu,yang menghubungkan kepada Dzat-Nya. (Bukan untuk dibayangkan, tapi untuk dirasakan dengan adab dan bimbingan.) Ruangan 11 – Hakikat DzikirBegitulah ruangan batin dalam tubuhmu.Hendaknya engkau mengenalnya sebelum datangnya kematian. Hidupkan hatimu dengan dzikir.Hingga dzikirmu tidak lagi bergantung pada suara dan huruf,tapi hidup dalam kesadaran. Sebagaimana isyarat:kembalinya manusia khusus adalah ketika qalbunya hidup oleh cahaya tauhid,dan ia terus melazimi asma tauhid dalam lisan sirri — tanpa suara, tanpa huruf. Ruangan 12 – Adab BerguruJika engkau masih ragu,maka bergurulah pada ahlinya. Mereka ada di mana-mana.Kadang tampak sederhana, bahkan tidak dikenal.Kadang tampak aneh di mata manusia. Ada yang mudah ditemui,ada yang justru sulit dicari. Maka bersyukurlah jika engkau dipertemukan. Penutup Perjalanan ini bukan untuk dibanggakan,tapi untuk disadari. Bukan untuk diceritakan ke mana-mana,tapi untuk memperbaiki diri. Masuklah ke dalam dirimu dengan dzikir,dan pulanglah kepada-Nya dengan kesadaran.

20 Apr 2026 • Admin

Mengendalikan Angan-angan yang Liar(Tentang Panjang Angan-Angan dan Dzikir Akal)

BismillahirrahmanirrahimShollallahu ‘ala Sayyidina Muhammad Catatan kecil seorang murid, sekadar pepiling untuk diri sendiri. Ditulis bukan untuk menggurui, tapi sebagai pengingat bagi diri yang sering lalai, dikarenakan penulis pemudah yang sering berangan-angan tidak jelas disibukan isi kepala sendiri, dan mencari penitipan otak tidak menemukannya, muncullah diary ini sebagaimana yang dicoba penulis untuk penawar tulul amal Dialog Aki Qurdi dan Fakir Fakir:Aki… akhir-akhir ini batinku terasa lelah.Banyak angan berseliweran di kepala. Seolah aku hidup dalam hal-hal yang belum terjadi… tapi capeknya terasa nyata. Aki Qurdi:(tersenyum lembut)Itulah yang disebut tulul amal — panjang angan-angan.Ia lahir dari khayal (khayal) yang belum tertata. Sifatnya halus seperti kabut… tidak berat, tapi bisa menutup cahaya batin. Fakir:Tapi bukankah angan itu bagian dari akal juga, Ki?Bukankah dari situ bisa muncul ilham? Aki Qurdi:Benar.Dalam jalan ini, khayal itu adalah alat. Ia bisa menjadi pintu ilham kalau disucikan,dan bisa menjadi jerat kalau dibiarkan liar. Yang membuatmu lelah bukan angannya…tapi karena akalmu belum hidup dalam dzikir. Fakir:(jeda sejenak)Lalu bagaimana cara menenangkan angan-angan ini, Aki?Aku sudah dzikir… tapi sering kali pikiranku tetap berlari. Aki Qurdi:Karena engkau dzikir dengan lidah,tapi belum sampai ke markaz al-‘aql — pusat akalmu. Dzikir yang belum menyentuh pusat ini hanya berputar di permukaan,sedangkan khayal bergerak lebih dalam. Fakir:Markaz al-‘aql itu bagaimana, Aki? Aki Qurdi:Sederhananya, pusatkan perhatianmu ke dalam kepala bagian tengah.Di situlah tempat berkumpulnya kesadaran. Kalau perhatianmu hadir di situ,dzikirmu tidak lagi tercecer. Fakir:Apakah itu yang disebut dzikir akal? Aki Qurdi:Iya.Dzikir yang dilakukan dengan hudur — hadirnya hati dan perhatian. Caranya: Duduk tenang.Tarik napas perlahan.Pusatkan perhatian ke markaz tadi. Lalu lafadzkan dalam batin: lailahaillallah Bukan sekadar ucapan,tapi rasakan gema tauhid itu memenuhi akalmu…perlahan mengurai khayal yang kusut. Fakir:Jadi… bukan mematikan khayal, tapi menyucikannya? Aki Qurdi:Betul. Khayal itu seperti cermin.Kalau kotor, ia hanya memantulkan bayangan yang kabur.Kalau bersih, ia memantulkan cahaya. Begitulah khayal dalam diri manusia. Fakir:Dan kalau tidak dijaga, Aki? Aki Qurdi:Ia akan menjadi jerat yang halus. Membuatmu sibuk dengan hal yang belum terjadi,menjauh dari kenyataan,dan lalai dari hadirat Allah. Itulah penderitaan panjang angan-angan:tampak indah… tapi menyesatkan arah. Fakir:Aki… aku ingin belajar dzikir akal ini.Bagaimana aku memulainya? Aki Qurdi:Mulailah dengan istiqamah: Setelah subuh dan sebelum tidur, duduklah hening.Hadirkan dirimu sepenuhnya. Tarik napas perlahan.Pusatkan perhatian ke markaz al-‘aql. Lalu ulangi dalam batin: lailahaillallah Jika khayal datang, jangan dilawan keras.Cukup kembalikan perlahan ke dzikir. Dari situ, anganmu akan mulai terikat,tidak lagi liar. Fakir:(dengan hati yang lebih ringan)Aku mulai mengerti, Aki… Ternyata dzikir bukan hanya lafadz,tapi menghadirkan kesadaran dalam diri. Aki Qurdi:Nah… itu inti suluk. Dzikir yang hidup akan menata akal.Akal yang tenang akan menenangkan hati.Hati yang tenang akan mendekatkan pada Allah. Suluk itu bukan lari dari dunia,tapi pulang ke dalam diri. Penutup Angan-angan tidak perlu dimatikan.Ia cukup diarahkan dan disucikan. Jika dibiarkan liar, ia melelahkan.Jika dituntun dengan dzikir, ia menjadi jalan ilham. Maka jangan sibuk memerangi pikiran…cukup hadirkan dzikir di dalamnya. Karena ketika tauhid hidup di akal,khayal akan tunduk, dan hati akan tenang.

15 Apr 2026 • Admin

Hakikat Menyalahkan dan Cermin Diri dalam Jalan Ashkhabiyyah

Ini hanyalah catatan kecil seorang murid, yang diposting sekadar sebagai pepiling (pengingat) bagi diri sendiri. Semesta adalah cermin diri. Apa yang kita lihat di luar, sejatinya adalah pantulan dari apa yang ada di dalam hati kita sendiri. Kita, sebagai manusia, sering terjebak dalam kebiasaan menyalahkan sesuatu di luar diri. Ketika hidup terasa berat, kita menyalahkan keadaan. Ketika disakiti, kita menyalahkan orang lain. Bahkan, tidak jarang kita menyalahkan takdir. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, akar dari banyak persoalan justru bersumber dari dalam diri kita sendiri. Dawuh Guru Besar Jamiyah “KH Ali Ashkhab” Dalam jalan ashkhabiyyah, diajarkan bahwa dunia luar hanyalah cermin dari keadaan batin. Apa yang tampak sebagai masalah, benturan, atau ujian, sering kali merupakan pantulan dari hati yang belum bersih. Nafsu yang masih kuat, hati yang lalai dari dzikir, dan batin yang belum jernih—semua itu memengaruhi bagaimana kita memandang dan merasakan dunia. Seorang salik tidak diajarkan untuk sibuk menunjuk kesalahan di luar. Sebaliknya, ia dilatih untuk menundukkan pandangan ke dalam dirinya sendiri. Ia belajar bertanya: “Apa yang perlu saya benahi dalam diri saya?” bukan “Siapa yang salah di luar sana?” Sebab musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan nafsu yang bersemayam dalam dada. Nafsu inilah yang sering menipu, membelokkan niat, dan menutup kejernihan hati. Barangsiapa mampu menundukkan nafsunya, maka ia akan mulai melihat dengan pandangan yang berbeda. Masalah tidak lagi dipahami sebagai hukuman, tetapi sebagai panggilan dari Allah—undangan untuk kembali, untuk membersihkan diri, dan untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya. Ketika hati mulai jernih dengan dzikir, maka pandangan terhadap dunia pun ikut jernih. Apa yang dulu terasa berat, bisa berubah menjadi pelajaran. Apa yang dulu menyakitkan, bisa dipahami sebagai bentuk kasih sayang Allah yang tersembunyi. Ketika batin telah damai bersama Allah, maka segala peristiwa—baik maupun buruk—akan tampak sebagai rahmat. Tidak lagi ada keluhan yang berlebihan, karena hati telah yakin bahwa semua yang terjadi membawa hikmah. Inilah jalan ashkhabiyyah: menyelam ke dalam diri, membersihkan nafsu, memperbanyak dzikir, hingga tersingkap sebuah hakikat—bahwa tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah semata. Wallahu a’lam.

11 Apr 2026 • Admin

Petikan Gagasan: Standarisasi Ilmu lan Wibawa Ulama

Mudah-mudahan menjadi kenyataan, usulan dari Tuan Guru Turmudzi (Pengasuh Ponpes Qomarul Huda Bagu, Lombok): “Idealnya, Syuriah NU tingkat pusat mengkhatamkan: Al-Umm, Al-Raudhah (Raudhatut Thalibin wa Umdat al-Muftin) karya Imam Nawawi, dan Al-Fath (Fathul Aziz Syarh al-Wajiz / Al-Syarhul Kabir) karya Imam Rafi’i.” Kemudian diturunkan sesuai tingkatan: Tingkat Wilayah: khatam Al-Umm & Al-Muhadzab Tingkat Cabang: khatam Al-Raudhah & Fathul Wahab Tingkat MWC: khatam Fathul Mu’in Tingkat Ranting: khatam Fathul Qarib Standar Keilmuan Sebagai Syarat Amanah Dalam gagasan ini ditegaskan: “PBNU tidak akan mengakui pengurus Syuriah yang tidak memenuhi syarat tersebut.” Ini bukan untuk memberatkan, tetapi untuk menjaga martabat: Syuriah adalah posisi tertinggi dalam struktur keilmuan NU Maka yang mendudukinya harus benar-benar ulama Bukan sekadar organisator, tapi ahli ilmu yang mumpuni Dengan demikian, jabatan tidak lagi menjadi rebutan, tetapi menjadi amanah ilmiah yang berat. Menghidupkan Makna “Nahdlatul Ulama” NU berarti “kebangkitan para ulama”. Maka sangat pantas jika: yang tampil adalah ulama yang benar-benar berilmu yang berbicara adalah mereka yang memiliki dasar kitab yang memimpin adalah mereka yang bisa dipertanggungjawabkan ilmunya Peran Aktif dalam Mencari Ulama Berkualitas Dalam usulan ini juga terdapat arah penting: “PBNU sebaiknya proaktif merekrut ulama yang memenuhi kualifikasi, meskipun bukan dari kalangan pesantren besar atau ‘darah biru’.” Artinya: kualitas didahulukan daripada garis keturunan keilmuan didahulukan daripada popularitas Sehingga jabatan tidak diisi oleh: yang sekadar dikenal atau yang sekadar memiliki jaringan Tetapi oleh mereka yang benar-benar ahli dalam fiqih madzhab Syafi’i. Tanggung Jawab Personal: Ngaji lan Nyiapno Diri Bagi yang ingin masuk dalam jajaran Syuriah: “Harus mempersiapkan diri dengan membaca dan mengkhatamkan kitab sesuai levelnya, serta membuat review sebagai bukti pemahaman.” Ini menjadi ukuran: bukan sekadar pernah belajar tetapi benar-benar memahami isi kitab Aplikasi di Tengah Jam’iyyah Guru kita, KH Masda Andi, menegaskan dengan sangat tegas: “Jam’iyyah sing ngakune NU yo kudu ngunu kuwi… penceramah kudu nggowo kitab.” Lan dawuh sing nggetarke: “Sing gak nggowo kitab, minggir… gak usah ceramah.” Iki peringatan keras: ceramah tanpa dasar kitab → rawan nggedabrus omongan tanpa ilmu → ora ana manfaat lan ora ana barokah Utamane kanggo jam’iyyahan rutin: kudu dijaga kualitas ilmuné kudu ana rujukan kitab sing jelas Penutup Iki dudu mung gagasan, nanging arah perbaikan: supaya ilmu dadi pondasi supaya ulama nduweni wibawa supaya umat entuk manfaat lan barokah Mugi-mugi kita sedaya diparingi kekuatan: kanggo ngaji kanthi tenanan kanggo ngamal kanthi bener lan kanggo njaga sanad ilmu nganti tekan generasi sabanjure Aamiin.

Menampilkan halaman 1 dari 4 (Total 29 data)