WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

11 Apr 2026 • Admin

Eling lan Tuntunan: Antara Ilmu lan Amal

Kematian semakin mendekat kepada kita. Eling-eling niki… “Temen awak dewek matine wis cedek banget…” Kesadaran ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan hati agar tidak lalai dalam menjalani hidup. Semangat dalam Jalan Ngaji lan Ngamal Meskipun usia dan keadaan terasa terbatas, tetap niatkan untuk ikut dalam majelis kebaikan: “Semangat niati nderek pembukaan Jam’iyyah Al Ashkhabiyyah, masio umure gak nutut nganti malam Sabtu.” Yang dilihat bukan panjangnya waktu, tetapi kesungguhan hati. Ilmu vs Amal: Mana yang Didahulukan? Guru kita dawuh dengan tegas: “Ilmu kuwi nomer loro, nomer siji amal… tapi ilmu kudu didisikno tinimbang amal.” Ini bukan pertentangan, tetapi penempatan yang tepat. Penjelasannya: Amal adalah tujuan Ilmu adalah penuntun Maka: Ilmu tanpa amal → kurang sempurna Amal tanpa ilmu → tidak diterima Sebagaimana dawuh beliau: “Ilmu tok tetep diterima masio durung sanggup nglakoni, nanging amal ora diterima tanpa didasari ilmu.” Iki penting sanget. Wong sing ngamal tanpa ilmu: bisa salah niat bisa salah cara lan pungkasane ora diterima Fenomena Amal Tanpa Ilmu Beliau juga mengingatkan realita yang sering terjadi: “Akeh wong ngamal tanpa ngelmu…” Contoh sederhana dalam kehidupan: ibadah kurban zakat fitrah lan amalan lainnya Sering dilakukan, tetapi tidak semua memahami ilmunya secara benar. Maka hasilnya bisa: tidak sah atau tidak sempurna Tanda Orang yang Dikehendaki Kebaikan Dalam dawuh yang penuh harapan: “Sopo wong sing dikarepno apik Allah nang dunya akhirate, bakal dipermudah dalam memahami agama.” Ini sejalan dengan hadits Nabi ﷺ: “Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka ia akan dipahamkan dalam agama.” Artinya: semangat ngaji adalah tanda kebaikan kemudahan memahami agama adalah anugerah besar Doa: Harapan Seorang Hamba “Ya Robb, jadikanlah kami semua termasuk golongan yang dikehendaki khoir fid dini wad dunya hattal akhiroh. Aamiin.” Ini adalah doa agar: baik dalam agama baik dalam dunia dan baik hingga akhirat Munajat yang Penuh Kerendahan Dawuh yang sangat menyentuh dari Abah Masda Andi: “Sebusuk apapun aku Ya Allah…mohon jangan libatkan orang tuaku dalam dosaku.Tapi sekecil apapun kebaikanku…mohon beri juga orang tuaku pahalanya Ya Robb…Bismillah nawaitu…” Ini adalah puncak adab seorang hamba: mengakui dosa tanpa membela diri menjaga orang tua dari akibat keburukan menghadiahkan kebaikan kepada mereka Penutup Hidup ini singkat, kematian dekat, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. Maka: kuatkan niat perbanyak ngaji seimbangkan dengan wirid dan amal Semoga kita semua termasuk golongan yang: diberi ilmu yang manfaat diberi amal yang diterima dan dipungkasi dengan khusnul khotimah Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

11 Apr 2026 • Admin

Petikan Dawuh Guru: Laku, Wirid, dan Ngaji

Guru kita dawuh: “Nek duwe hajat kok dirasa sangat mustahil, maka lakukan amalan utawa riyadloh sing akeh wong angel nindakake.” Iki sing diarani laku khoriqul ‘adah — usaha sing metu saka kebiasaan umum, ngelawan rasa males lan keterbatasan diri, minangka bukti kesungguhan ing ngarsane Allah. Ana maneh pesen ingkang asring ketinggalan, nanging sejatiné penting banget: “Peksonen awakmu cung ben gelem wirid yo ben gelem ngaji, mergo wong sing kuat agamane kui naliko ngaji karo diimbangi wirid. Lah nek mung ilmu, iblis kuwi yo akeh ilmuné, mergo sing nasarke wong sak alam sunyo kuwi yo iblis.” Dawuh iki ngandhut peringatan sing jero: Ilmu tanpa wirid bisa dadi kering lan ora nuntun Wirid tanpa ilmu bisa dadi ora terarah Keduane kudu nyawiji dadi siji laku Ngaji nuntun arah, wirid nguatke hati. Maka penting bagi seorang salik untuk menjaga amalan yang jelas sanadnya: “Wirido sing bersanad, pasti muttasil.” Alhamdulillah, Majlis Dzikir wa Ta’lim Al Ashkabiyyah, sedaya wiridipun sampun bersanad lan saged dipertanggungjawabkan, dunya lan akhirat. Mugi-mugi kanthi gandolan poro masyayikh, kita sedaya dipun paringi pungkasan ingkang sae: KHUSNUL KHOTIMAH. Aamiin.

11 Apr 2026 • Admin

Hakikat Kedekatan: Antara Mengenal Allah dan Mengenal Diri

Dalam salah satu maqolah disebutkan: “Barang siapa menyangka bahwa ia memiliki penolong yang lebih utama daripada Allah, maka sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah.Dan barang siapa menyangka bahwa ia memiliki musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya, maka sedikitlah ma’rifatnya kepada dirinya sendiri.” Ungkapan ini sejalan dengan jalan para ulama tasawuf seperti Imam Junaid al-Baghdadi, yang menempatkan ma’rifat sebagai inti perjalanan seorang hamba. 1. Ketika Allah Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Sandaran Guru kita, KH Masda Andi, mengingatkan: “Barang siapa menyangka bahwa ada penolong yang lebih mumpuni dibanding Allah, maka orang itu baru sedikit mengenal Allah.” Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menggantungkan harapan pada banyak hal: harta, relasi, dan kekuatan diri. Padahal semua itu hanyalah sebab, bukan sumber. Al-Qur’an menegaskan: “Jika Allah menimpakan kesusahan kepadamu, tidak ada yang mampu menghilangkannya selain Dia.” (QS. Al-An’am: 17) Di sinilah seorang hamba mulai belajar tentang tawakkal yang hakiki: bersandar penuh kepada Allah, tanpa menggantungkan hati pada selain-Nya. 2. Nafsu: Musuh yang Paling Dekat dan Paling Halus Guru kita juga menegaskan: “Barang siapa mengira mempunyai musuh yang lebih kejam dibanding nafsunya, berarti orang itu baru sedikit mengenal dirinya sendiri, bahkan bisa jadi malah belum mengenal.” Sering kali manusia sibuk melihat musuh di luar dirinya, padahal musuh terbesar justru berada di dalam. Sebagaimana dijelaskan oleh Abu Hamid al-Ghazali, nafsu adalah sumber banyak penyimpangan. Ia halus, tersembunyi, dan sering menyamar bahkan dalam kebaikan. Maka mengenal diri bukan sekadar mengetahui siapa kita, tetapi menyadari kelemahan, kecenderungan, dan tipu daya nafsu yang selalu menyertai. 3. Perubahan Arah Ibadah: Dari Meminta Menuju Menyerah Dalam penjelasan beliau, terdapat isyarat yang dalam: “Ibadah sering dipahami sebagai jalan untuk memperoleh sesuatu, namun ada tahap ketika hubungan dengan Tuhan bukan lagi sekadar meminta, melainkan mendekat dan menyerahkan diri.” Ini adalah pergeseran besar dalam perjalanan ruhani. Seorang hamba mulai beribadah bukan hanya karena ingin diberi, tetapi karena menyadari bahwa Allah memang layak untuk dimuliakan. Para ulama tasawuf menjelaskan tingkatan ibadah: ibadah karena takut ibadah karena berharap hingga ibadah karena cinta Di sinilah ibadah berubah dari sekadar permintaan menjadi penghambaan yang murni. 4. Ketika Ridha Lebih Tinggi dari Keinginan Guru kita mengisyaratkan: “Keridaan Ilahi jauh lebih berharga daripada sekadar terpenuhinya keinginan.” Pada tahap ini, hati tidak lagi memaksa takdir. Doa tetap dipanjatkan, tetapi tidak disertai kegelisahan yang menuntut. Seorang hamba belajar untuk: berharap tanpa memaksa berdoa tanpa menggugat menerima tanpa kehilangan iman Hidup menjadi lebih jernih karena hati selaras dengan kehendak-Nya. 5. Menemukan Karunia dalam Kesederhanaan Guru kita menutup dengan ungkapan yang penuh makna: “Sering kali, justru ketika manusia berhenti menuntut terlalu banyak, ia mulai menyadari betapa luasnya pemberian yang selama ini mengelilinginya.” Di sinilah mata hati mulai terbuka. Hal-hal kecil yang sering terlewat—napas, waktu, dan ketenangan—berubah menjadi nikmat yang terasa besar. Dan pada akhirnya, seorang hamba sampai pada kesadaran: “Di sinilah letak akan tahu tentang Tuhan sebagai Khaliq dan tahu tentang diri sebagai makhluq.” Penutup Perjalanan ini bukan tentang cepat atau lambat, tetapi tentang kesungguhan dalam mengenal: Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar diri sebagai makhluk yang penuh keterbatasan Dalam bahasa sederhana: sing durung kenal, isih gumantungsing wis kenal, bakal pasrah lan tentrem Semoga tulisan ini menjadi khazanah keilmuan yang menumbuhkan iman, memperhalus hati, dan menambah rasa syukur dalam setiap keadaan.

24 Feb 2026 • Admin

Pengajian 6 Ramadhan 1447 H

Maqbaroh Mbah Ahmad Disampaikan oleh: KH. Masda Andi ADAB DOA (Bagian 3–10) Pada malam 6 Ramadhan 1447 H, di Maqbaroh Mbah Ahmad, guru kita KH. Masda Andi melanjutkan pembahasan adab doa. Beliau menegaskan bahwa doa bukan sekadar meminta, tetapi ada tata krama yang harus dijaga agar doa lebih dekat kepada ijabah. Adab Doa Nomor 3: Menghadap Kiblat Menghadap kiblat termasuk sunnah ketika berdoa. Ini menjadi dalil dan penguat amalan masyarakat yang ketika tahlilan atau doa bersama menghadap kiblat. Dalil dari riwayat sahabat: Riwayat Jabir r.a. (Menghadap Kiblat Saat Doa) Fa ata al-mauqifa fajaala bathna naqatihi al-qaswaa ila al-shakharat, wajaala habl al-musya baina yadayhi, wastakbala al-qiblata, falam yazal waqifan hatta gharabat al-syams. Terjemahan: Beliau (Nabi ﷺ) datang ke tempat wuquf, menjadikan perut untanya menghadap ke batu-batu, menjadikan jalan orang-orang di hadapannya, dan beliau menghadap kiblat. Beliau terus berdiri (berdoa) sampai matahari terbenam. Ini menunjukkan: Menghadap kiblat saat berdoa adalah sunnah. Waktu mustajab di Arafah sejak khutbah wuquf hingga maghrib, dan Nabi tidak berhenti berdoa. Dari Salman r.a. Rasulullah ﷺ bersabda: Inna rabbakum hayyun karim, yastahyi min abdihi idza rafa yadayhi ilaihi an yaruddahuma sifran. “Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup dan Maha Mulia. Dia malu kepada hamba-Nya yang mengangkat tangan untuk berdoa, lalu hamba itu pulang dengan tangan kosong.” Maknanya: Allah tidak akan menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Guru kita menegaskan akidah dalam berdoa: Doa itu pasti diterima, tetapi bentuknya berbeda: Kadang langsung diijabah. Kadang ditabung di akhirat. Kadang diganti dengan rahmat atau diampuni dosa. Dari Ibnu Abbas r.a. Kana rasulullah idza da’a dhomma kaffaihi wajaala buthunahuma mimma يلي wajhihi. Rasulullah ﷺ ketika berdoa merapatkan kedua telapak tangannya dan menjadikannya sejajar di hadapan wajahnya. Rincian Adab Nomor 3: Tidak mengeraskan suara (tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan). Mengangkat tangan dengan adab. Tidak mendongakkan pandangan ke atas. Adab Doa Nomor 4: Melunakkan Suara Berdoalah dengan suara lembut, penuh ketundukan. Allah berfirman: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) Doa bukan pertunjukan suara, tapi bisikan hati yang penuh harap. Adab Doa Nomor 5: Tidak Dibuat-buat atau Bersajak Berlebihan Sayakunu qoumun ya’taduna fid du’a. Terjemahan: Akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa. ➡ Dalil agar doa tidak dibuat-buat, tidak dipaksakan nadanya, dan tidak berlebihan. Nabi ﷺ memperingatkan akan datang suatu kaum yang berdoa dengan dibuat-buat dan dipaksakan nadanya. Doa yang terbaik adalah: Tulus Tidak dipaksakan Tidak dibuat puitis berlebihan hingga kehilangan kekhusyukan Adab Doa Nomor 6: Merendahkan Diri & Khusnudzon Berdoalah dengan: Merasa hina dan sangat membutuhkan Allah. Penuh harap. Diselingi rasa takut (rohibah) kalau doa belum diterima. “Ud’u bilisani dzillah wal ihtiqari” Berdoalah dengan lisan kehinaan dan kebutuhan. Adab Doa Nomor 7: Yakin Akan Ijabah “Jangan lemah dalam berdoa dan yakinlah akan ijabah.” Guru menegaskan: Rahmat Allah lebih luas dari dosa kita. Jangan putus asa dari rahmat-Nya. Semangat dalam berdoa adalah tanda iman. Adab Doa Nomor 8: Mengulang Doa Tiga Kali Disunnahkan mengulang doa hingga tiga kali. Ini disebutkan oleh para ulama, termasuk dalam pembahasan adab oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin. Pengulangan menunjukkan kesungguhan dan harapan. Adab Doa Nomor 9: Membuka dengan Dzikir dan Asma Allah Jangan langsung meminta tanpa menyebut nama Allah. Awali doa dengan: Hamdalah Asma Allah Pengagungan kepada-Nya Doa tanpa pembukaan bisa seperti permintaan yang kurang sopan. Adab Doa Nomor 10: Ditutup dengan Sholawat Guru kita menegaskan dengan sangat: Allah tidak akan menangguhkan apa yang diminta seorang hamba jika doanya diawali dan diakhiri dengan sholawat. Pesan dari KH. Khakam kepada KH. Masda Andi: “Besok kalau memimpin doa, jangan sampai tidak diakhiri dengan sholawat. Karena doa itu masih menggantung antara langit dan bumi. Maka doronglah doa itu dengan sholawat.” gus hakam dengan guru kami

23 Feb 2026 • Admin

Adab Berdoa 1&2 (5 Ramadhan 1447 H)

Mengaji Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali Pada malam ke-5 Ramadhan 1447 H, dalam pengajian yang disampaikan guru kami, dijelaskan tentang adab berdoa menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Beliau menyebutkan bahwa adab berdoa itu banyak, dan di antaranya ada 10 adab utama. Kesimpulan yang sangat dalam dan menohok hati: “Adab ora ngerti kok jalok diqobul.” (Tidak tahu adab, tapi minta dikabulkan.) Doa bukan sekadar meminta. Doa adalah ibadah, dan ibadah punya tata krama. 1️⃣ Adab Pertama: Memilih Waktu-Waktu yang Mulia (Aqot asy-Syarifah) Imam Al-Ghazali menasihatkan agar seseorang memanfaatkan waktu-waktu yang mulia untuk berdoa, karena pada waktu-waktu tersebut doa lebih dekat untuk dikabulkan. Apakah selain waktu mulia tidak boleh berdoa? Tentu boleh. Allah membuka pintu doa kapan saja. Namun, Allah juga memberi waktu-waktu khusus yang istimewa, yang disebut waktu mustajab. Di antara waktu-waktu tersebut: 🌙 Sepertiga Malam Terakhir Rasulullah ﷺ bersabda: Yanzilu Rabbuna tabaraka wa ta‘ala kulla laylatin ila as-sama ad-dunya hina yabqa tsulutsul laylil akhir, fayaqulu: Man yad‘uni fa astajiba lahu, Man yas’aluni fa u‘tiyahu, Man yastaghfiruni fa aghfira lahu. Artinya secara ringkas: “Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim) Inilah waktu yang sangat agung. Bukan sekadar sunyi, tapi langit sedang terbuka. 🌄 Hari Arafah (9 Dzulhijjah) Hari ketika jamaah haji sedang wukuf di Padang Arafah. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai hari terbaik untuk berdoa. 🌙 Bulan Ramadhan Ramadhan adalah bulan rahmat, bulan ampunan, bulan pembebasan dari api neraka. Setiap malamnya penuh keberkahan, terlebih lagi di waktu sahur. 🕌 Hari Jumat (Sayyidul Ayyam) Hari Jumat adalah pemimpin hari-hari. Di dalamnya ada satu waktu mustajab yang tidak diketahui secara pasti, agar kita memperbanyak doa sepanjang hari itu. Pesan Guru: “Jika orang ngamal sudah tahu ilmunya, tidak akan susah orang mukmin untuk mengamalkan.” Ilmu membuat amal menjadi ringan. Tahu waktu mustajab, maka kita tidak akan menyia-nyiakannya. 2️⃣ Adab Kedua: Memanfaatkan Keadaan yang Mulia Selain waktu yang mulia, ada juga keadaan-keadaan tertentu yang membuat doa lebih dekat untuk dikabulkan. 🕌 Saat Masuk Shalat Fardu Ketika shalat fardu dimulai, pintu langit dibuka. Maka jangan hanya berdiri secara fisik, tapi hadirkan hati dan perbanyak doa dalam shalat. 📢 Waktu Antara Adzan dan Iqamah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak. Maka ketika adzan berkumandang, jangan hanya menunggu. Gunakan waktu itu untuk memohon. 🤲 Saat Sujud Rasulullah ﷺ bersabda: Aqrabu ma yakunu al-‘abdu min rabbihi wa huwa sajidun fa aktsiru ad-du‘a. Artinya: “Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.” Sujud bukan hanya gerakan. Sujud adalah puncak kehinaan diri di hadapan Allah. Di situlah doa paling mudah menembus langit. Penutup Adab berdoa bukan sekadar teori. Ia adalah tata krama seorang hamba kepada Tuhannya. Kalau kita ingin doa cepat sampai, maka perbaiki adab sebelum memperbanyak permintaan. Semoga Ramadhan ini bukan hanya bulan meminta, tetapi bulan belajar menjadi hamba yang tahu diri. Wallahu a‘lam.

23 Feb 2026 • Admin

5 Ramadhan 1447 H

Hikmah Ngamal lan Ngadepi Khilafiyah (Dawuh lan cerita saking guru kulo, KH Masda Andi) Pada malam ke-5 Ramadhan 1447 H, dalam suasana pengajian yang khidmat, guru kami KH Masda Andi menyampaikan dawuh yang sederhana namun dalam maknanya: Ngamal kudu ningkat, lan ningkaté kudu nganggo ilmu. Beliau menegaskan bahwa peningkatan amal tidak cukup hanya dengan semangat. Amal harus bertumpu pada ilmu. Sebab tanpa ilmu, amal bisa kehilangan arah. Ilmu Agama Bukan untuk Perdebatan Guru kami dawuh: Ilmu agomo ora kanggo perdebatan. Ora kanggo nyalah-nyalahno. Cukup kanggo ngamal awak dewe lan keluargi. Ilmu agama bukan untuk ajang merasa paling benar. Bukan untuk menyalahkan orang lain. Cukup kita gunakan untuk memperbaiki diri sendiri dan keluarga. Namun berbeda jika ada orang yang benar-benar bertanya dengan tulus untuk belajar. Maka di situ ilmu dijelaskan dengan adab dan kelembutan. Belajar Fiqih: Ikhya’ dan Al-Muwaththa’ Beliau memberi contoh, ketika belajar fiqih dalam Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, patokannya bisa berbeda dengan kitab lain. Misalnya jika membuka Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, tentu ada perbedaan sudut pandang dan pendekatan. Perbedaan itu wajar. Karena masing-masing imam memiliki metodologi istinbath (pengambilan hukum) yang berbeda. Maka dari itu, jangan mudah merasa paling benar hanya karena membaca satu rujukan saja. Kisah Kyai Fahrudin di Tebu Ireng Guru kami kemudian menceritakan kisah nyata tentang seorang ulama Muhammadiyah, Kyai Fahrudin. Beliau pernah diundang ke pesantren Pondok Pesantren Tebuireng, yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari. Undangan itu datang dari salah satu sesepuh, bahkan disebut pernah diundang oleh Abdurrahman Wahid. Pada tahun 1980-an, ketika beliau hadir, para santri meminta beliau untuk mengimami shalat tarawih. Padahal beliau dikenal sebagai kyai Muhammadiyah. Sebelum mulai, beliau berkata kepada para santri: “Aku diutus ngimami. Sampeyan jaluk model piro?” Para santri serentak menjawab: 20 rakaat + 3 witir. Dengan kedalaman ilmu dan kelapangan hati, beliau tidak menolak. Beliau tidak memperdebatkan khilafiyah. Shalat pun berjalan. Setelah 8 rakaat, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Beliau kembali bertanya: “Dilanjut nopo?” Akhirnya para santri memilih cukup 8 rakaat. Dan tercatatlah sebuah peristiwa yang unik: Di “kandang NU”, pernah dilaksanakan tarawih 8 rakaat — bukan karena perdebatan, tetapi karena kelapangan hati dan musyawarah. Semakin Tinggi Ilmu, Semakin Ringan Menghadapi Perbedaan Guru kami menutup dengan dawuh yang sangat dalam: “Semakin tinggi ilmu agomo seseorang, semakin enteng ngadepi khilafiyah.” Orang yang benar-benar alim tidak mudah panas. Tidak mudah tersinggung. Tidak gampang memisahkan diri hanya karena beda pandangan. Beliau berpesan: Ojo sampek awake dhewe rumangsa alim, banjur delok perkara sing ora cocok karo panemu dhewe, terus misah. Boten pareng ngoten. Ojo sok pinter, ojo sok bener. Ilmu sejati melahirkan tawadhu’. Bukan kesombongan. Penutup Dari pengajian malam itu, kami belajar: Tingkatkan amal dengan ilmu. Jangan jadikan agama sebagai alat perdebatan. Khilafiyah adalah bagian dari keluasan rahmat Allah. Kedewasaan dalam agama terlihat dari sikap, bukan dari kerasnya argumentasi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berilmu sekaligus berakhlak. Yang tenang dalam perbedaan. Dan yang istiqamah dalam amal. Wallahu a‘lam

23 Feb 2026 • Admin

Penegasan Tiga Doa Penting dalam Shalat

Pengajian Ramadhan 1447 H – Hari ke-4 Disampaikan oleh Guru Kami KH Masda Andi Alhamdulillah, pada hari ke-4 Ramadhan 1447 H, di majelis yang penuh berkah, guru kami KH Masda Andi kembali mengingatkan kami tentang tiga doa penting yang sering kita baca dalam shalat, namun sering pula kita lewatkan maknanya. Beliau menyampaikan bahwa doa-doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi bekal hidup dan mati seorang hamba. Berikut pengulangan materi tersebut, lengkap dengan teks Arab yang benar dan tulisan latin agar mudah diamalkan. 1️⃣ Doa Sujud Terakhir: Memohon Husnul Khatimah Guru kami mengajarkan agar di sujud terakhir kita memperbanyak doa, karena sujud adalah posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya. 📖 Teks Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ. ✍ Latin: Allahumma inni as aluka husnal khatimah, warzuqna taubatan qoblal maut. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi alal iman wal islam. ✨ Makna dan Penekanan Guru Husnul khatimah bukan hanya mati dalam keadaan Islam, tetapi mati dalam keadaan taat. Taubat sebelum mati adalah rezeki besar. Hati itu berbolak-balik, maka kita memohon keteguhan iman. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim) Karena itu, doa “Ya Muqollibal Qulub” sangat penting dibaca. 2️⃣ Doa Sebelum Salam: Perlindungan dari Empat Perkara Guru kami menekankan agar jangan meninggalkan doa ini sebelum salam, karena ini doa yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ. 📖 Teks Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. ✍ Latin: Allahumma inni a’udzu bika min adzabil qobri, wa min adzabi jahannam, wa min fitnatil mahya wal mamat, wa min fitnatil masikhid dajjal. ✨ Penjelasan Singkat Empat perkara yang dimintakan perlindungan: Azab kubur Azab neraka Fitnah kehidupan dan kematian Fitnah Dajjal Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ memerintahkan membaca doa ini sebelum salam. Guru kami menyampaikan, “Kalau Nabi saja mengajarkan berlindung, apalagi kita yang penuh dosa.” 3️⃣ Doa Setelah Salam: Menguatkan Tauhid dan Menghilangkan Kegundahan Setelah salam, guru kami mengajarkan membaca syahadat dan doa agar Allah menghilangkan kesedihan dan kegelisahan. 📖 Teks Arab: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيمُ. اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ. ✍ Latin: Asyhadu an la ilaha illallah ar rahman ar rahim. Allahumma adzhib anni al hamma wal hazan. ✨ Pesan Guru Hidup ini tidak lepas dari: Hamma (kegelisahan tentang masa depan) Hazan (kesedihan tentang masa lalu) Maka setelah shalat, kita meneguhkan tauhid dan menyerahkan beban kepada Allah. Penutup Pada hari ke-4 Ramadhan 1447 H ini, guru kami KH Masda Andi mengingatkan bahwa: Sujud terakhir adalah tempat memohon akhir yang baik. Sebelum salam adalah benteng perlindungan Benteng perlindungan dari kegelisahan, jadi setelah salam juga dianjurkan mengusab jidad NB: kumpulan amaliah doa berada di menu Perbendaharaan Ashkhabiyyah

22 Feb 2026 • Admin

Kisah Sahabat yang Mengucap “Rabbana Lakal Hamdu”

Kisah ini diriwayatkan dari sahabat mulia Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqi. Beliau shalat di belakang Rasulullah ﷺ. Saat bangkit dari ruku’, Nabi membaca: “Sami‘allahu liman hamidah.” Lalu sahabat tersebut menambahkan doa: “Rabbana lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih.” (Ya Rabb kami, bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan.) Setelah selesai shalat, Rasulullah ﷺ bertanya: “Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?” Sahabat itu mengaku. Maka Nabi bersabda: “Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba untuk mencatatnya.” Hadits ini shahih dan menjadi dalil penting dalam pembahasan dzikir dan ibadah. 📌 Tambahan Penting: Dasar Amaliah yang Tidak Langsung Dicontohkan Nabi Kisah ini sering dijadikan dasar oleh para ulama bahwa lafadz dzikir yang tidak persis diajarkan Nabi, tetapi tidak menyelisihi syariat, bisa diterima dan bernilai kebaikan.

22 Feb 2026 • Admin

Keutamaan kalimah alhamdulillah 4 Ramadhan 1447 H

Pembukaan Pengajian di Maqbaroh Mbah Ahmad Dipimpin guru kami, KH Masda Andi Kajian Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali (Hujjatul Islam) Pada malam ke-4 Ramadhan 1447 H, kami kembali duduk bersimpuh di maqbaroh Mbah Ahmad. Dengan penuh adab, guru kami membuka pengajian dengan membahas keutamaan kalimat Alhamdulillah, sebagaimana diterangkan dalam Ihya’ Ulumuddin. 🌙 Keutamaan Mengucap Alhamdulillah Guru kami menyampaikan dawuh Nabi ﷺ: Siapa yang mengucapkan Alhamdulillah, maka kalimat itu menyebar di antara langit dan bumi. Betapa agungnya satu kalimat pujian kepada Allah. Kalimat itu tidak berhenti di lisan, tetapi naik dan memenuhi ruang antara langit dan bumi. Kemudian guru mengaitkan dengan firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7: “La in syakartum la azidannakum…” Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah (nikmat-Ku kepada kalian). Artinya, syukur bukan sekadar ucapan, tetapi sebab datangnya tambahan nikmat. Disampaikan pula firman Allah: “Wa maa nu‘ammirhu nunakkis-hu fil khalqi afalaa ya‘qiluun.” (QS. Yasin: 68) Ayat ini mengingatkan bahwa umur manusia berjalan menuju kelemahan. Maka waktu yang ada hendaknya diisi dengan dzikir dan syukur. 🌌 Tiga Lapisan Alhamdulillah Guru kami memberi penjelasan yang menyentuh hati: Alhamdulillah pertama → memenuhi satu lapis langit dan bumi. Alhamdulillah kedua → memenuhi tujuh lapis langit dan bumi. Alhamdulillah ketiga → segala permintaanmu bakal diparingaken. Bahkan tidak perlu meminta, Allah sudah memberi. Ini bukan hitungan matematis, tetapi gambaran betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba yang bersyukur. Namun guru menegaskan dengan penuh kehati-hatian: “Tidak sembarang orang bisa mengucap Alhamdulillah, kecuali dengan izin Allah.” Artinya, bahkan kemampuan bersyukur pun adalah karunia. Jika hati kita tergerak memuji Allah, itu tanda Allah masih menghendaki kebaikan bagi kita.

Menampilkan halaman 2 dari 4 (Total 29 data)