WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

22 Feb 2026 • Admin

Tanqihul Qaul dan Adab Menyambut Adzan

(Rangkuman Keterangan dari Imam Nawawi al-Bantani dan Penjelasan Ulama) Adzan bukan sekadar panggilan menuju shalat. Ia adalah seruan langit yang menggema di bumi—mengajak hati kembali kepada Allah ﷻ. Para ulama menjelaskan bahwa di saat adzan dikumandangkan, terdapat adab-adab dan amalan yang dianjurkan untuk menyambutnya. Di antara keterangan yang masyhur disebutkan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Tanqihul Qaul, beliau mengutip sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Qatadah: مَنْ قَالَ عِنْدَ الأَذَانِ مَرْحَبًا بِالْقَائِلِيْنَ عَدْلاً، مَرْحَبًا بِالصَّلَوَاتِ وَأَهْلاً، كَتَبَ اللهُ تَعَالٰى لَهُ أَلْفَ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ دَرَجَةٍ Artinya: “Barang siapa berkata ketika adzan dikumandangkan: Marhaban bil qoilina ‘adlan, marhaban bissholawati wa ahlan, maka Allah Ta‘ala mencatat baginya seribu kebaikan, menghapus darinya seribu keburukan, dan mengangkat baginya seribu derajat.” Lafal yang Dibaca Saat Adzan Tulisan latin (dibaca biasa, tanpa ritual khusus): Marhaban bil qoilina adlan, marhaban bis sholawati wa ahlan. Fadilahnya disebutkan: Dicatat 1.000.000 kebaikan Dihapus 1.000.000 keburukan Diangkat 1.000.000 derajat (Beberapa riwayat menyebut angka lebih besar, namun yang masyhur dalam kutipan tersebut adalah seribu.) Amalan Lain yang Disebutkan Ulama Dalam sebagian penjelasan ulama—khususnya yang disebut dalam kitab Mawahib al-Jalil (madzhab Malikiyah) dan juga disebut dalam I’anat ath-Thalibin (madzhab Syafi’iyah)—disebutkan riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi Khidhir: Ketika mendengar muadzin membaca: “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” Lalu membaca: Marhaban bihabibi wa qurrati aini Muhammad bin Abdillah Saw. Kemudian mengecup dua ibu jari dan mengusapkannya ke kedua mata. Disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa pelakunya tidak akan mengalami kebutaan dan sakit mata. Namun, penting dipahami bahwa amalan ini termasuk dalam wilayah fadha’il (keutamaan), bukan hukum wajib atau sunnah muakkadah yang baku dalam fiqih. Ia diamalkan sebagian ulama sebagai bentuk mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ. Pertanyaan: Apakah Dibaca Dengan Menengadahkan Tangan? Sueb bertanya: Apakah membacanya dengan menengadahkan tangan seperti berdoa, atau cukup dibaca dalam hati saja? Jawaban Guru kami, KH Masda: “Tidak usah menengadahkan tangan. Cukup dibaca biasa.” Artinya: Tidak perlu mengangkat tangan seperti doa. Tidak perlu gerakan khusus. Cukup dibaca sebagaimana dzikir biasa ketika pertama kali mendengar adzan. Karena inti amalan ini adalah menyambut panggilan Allah dengan hati yang lapang dan penuh penghormatan. Adab Menyambut Adzan Agar amalan ini tidak sekadar menjadi rutinitas lisan, maka hendaknya disertai adab: Menghentikan aktivitas sejenak ketika adzan terdengar. Menjawab lafadz adzan sebagaimana tuntunan Nabi ﷺ. Membaca shalawat setelah adzan. Membaca doa setelah adzan. Jika ingin menambah bacaan “Marhaban…”, niatkan sebagai bentuk penghormatan dan kegembiraan menyambut shalat. Karena hakikatnya, yang paling utama adalah menjawab adzan sebagaimana yang diajarkan dalam hadits-hadits shahih. Penutup Adzan adalah panggilan rahmat. Siapa yang menyambutnya dengan cinta, ia akan diberi balasan dengan cinta pula. Amalan membaca: Marhaban bil qoilina adlan, marhaban bis sholawati wa ahlan adalah bentuk kegembiraan menyambut seruan Allah. Namun tidak perlu berlebihan dalam tata caranya. Cukup dibaca dengan khusyuk, tanpa gerakan khusus, sebagaimana dawuh guru. Semoga kita termasuk orang-orang yang ketika mendengar adzan, bukan hanya telinga yang mendengar, tetapi hati yang menjawab. Wallahu a’lam bish shawab Tambahan do’a yang dibaca setelah adzan Allahumma rabb hadzihid da’watit tammati wash sholatil qoimah.Aati Sayyidina Muhammadanil wasilata wal fadhilata wasy syarofa wad darojatal aliyatar rofi’ah.Wab’ats-hu maqoman mahmudanil ladzi wa’adtah.Innaka la tukhliful mi’ad.(Robbighfir li waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro.)x5Allahumma barik li fi dzurriyyati wa la tadhurrohum wa waffiqhum lito’atik.Warzuqni birrohum.Allahumma inni as-alukal ’afwa wal ‘afiyah wal mu’afatal da-imata fid dini wad dunya wal akhirah.Wa shollallahu ’ala Sayyidina Muhammadin wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.

22 Feb 2026 • Admin

Pembukaan Pengajian Al-Ashkhabiyyah “keutamaan tasbih tahmid dan tahlil”

3 Ramadhan 1447 H Di Maqbarah Mbah Ahmad Dipimpin Guru Kami, KH. Masda Andi Alhamdulillah, pada malam 3 Ramadhan 1447 H, kami kembali diberi kesempatan menghadiri Pengajian Al-Ashkhabiyyah di maqbarah Mbah Ahmad. Dengan penuh takzim, pengajian dipimpin oleh guru kami, KH. Masda Andi. Semoga Allah menjaga beliau dan memanjangkan manfaat ilmunya untuk kami semua. Mengapa Membaca Istighfar 70 Kali? Guru kami menjelaskan tentang amalan membaca: “Astaghfirullah innahu kana ghaffara” sebanyak 70 kali dalam wirid Ramadhan. Beliau dawuh, salah satu riwayat menyebutkan bahwa membaca istighfar satu kali saja sudah menjadi sebab ampunan. Namun jika dibaca 70 kali, bukan hanya dosa diri sendiri yang diampuni, tetapi kita memohon kepada Allah agar dosa keluarga dan bahkan tetangga juga diampuni. Lalu muncul pertanyaan dari jamaah: Tetangga yang mana? Tetangga rumah, atau tetangga di sekitar majelis? Guru kami mengembalikan jawaban itu pada luasnya rahmat Allah. Ampunan Allah tidak sempit. Rahmat-Nya meliputi siapa saja yang Dia kehendaki. Maka yang terpenting adalah keyakinan kita saat membaca istighfar tersebut. Guru kami bertanya, “Yakin?” Dan jamaah menjawab serentak, “Yakin.” Keyakinan inilah yang menjadi ruh dalam setiap amalan. Fadhilah Tahlil: Laa Ilaaha Illallah Dalam pengajian juga dibahas keutamaan kalimat tahlil, “Laa ilaaha illallah.” Bisa dibaca ulang di postingan : keutamaan kalimah laa ilaaha illallah Guru kami mengutip riwayat tentang dialog Nabi dengan Abu Hurairah. Ketika amal manusia ditimbang di hari kiamat, kalimat Laa ilaaha illallah memiliki kedudukan yang sangat agung. Bahkan disebutkan, jika kalimat ini diletakkan di satu timbangan, dan di sisi lain diletakkan langit tujuh dan bumi tujuh, maka kalimat tahlil itu lebih berat — jika diucapkan dengan keyakinan yang sungguh-sungguh. Betapa agungnya kalimat tauhid ini. Fadhilah Tasbih dan Tahmid Rasulullah ﷺ bersabda bahwa membaca: “Subhanallah wa bihamdihi” sebanyak 100 kali dalam sehari semalam, akan dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang gemar berdzikir. Dzikir Pembuka Rezeki Dikisahkan ada seseorang mengadu kepada Nabi bahwa dunia seakan menjauh darinya dan rezekinya terasa sempit. Nabi bertanya, “Dari mana malaikat dan seluruh makhluk mendapatkan rezeki?” Tentu dari Allah. Lalu beliau mengajarkan dzikir: “Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim, Astaghfirullah.” Guru kami menegaskan agar dzikir ini dibaca 100 kali di waktu antara terbit fajar hingga sebelum Subuh, atau setelah shalat qabliyah Subuh hingga masuk Subuh. Dengan izin Allah, dunia akan datang dalam keadaan hina. Artinya, bukan kita yang mengejar dunia, tetapi dunia yang Allah tundukkan. Nasehat Guru Di akhir pengajian, guru kami dawuh dengan penuh kasih: “Kalau kalian sedang sumpek, datanglah kepada guru.” Nasihat ini bukan sekadar ajakan fisik, tetapi juga makna ruhani: ketika hati gelisah, jangan lari dari majelis ilmu dan dzikir. Justru mendekatlah. Penutup Pengajian malam itu mengajarkan kami tiga hal utama: Perbanyak istighfar dengan keyakinan. Jaga kalimat tauhid dalam hati dan lisan. Hidupkan tasbih dan tahmid setiap hari. Semoga kami mampu mengamalkan, bukan hanya mendengar. Semoga Ramadhan ini benar-benar menghidupkan hati kami. Dan semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam rahmat-Nya yang luas. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

20 Feb 2026 • Admin

Keutamaan Majlis Dzikir 2 Ramadhan 1447

2 Ramadhan 1447 H  Ihya’ Ulumuddin bersama KH. Masda Andi Menghidupkan Hati dengan Dzikir Pada malam kedua Ramadhan 1447 H, kami kembali duduk bersimpuh di majelis, membuka lembaran Ihya Ulumuddin karya agung Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam. Dengan penuh takzim, kami mendengarkan dawuh guru kami, KH. Masda Andi, yang menukil sanad keilmuan dari Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ. Hadits yang dibacakan adalah tentang kemuliaan majelis dzikir. Di dalamnya Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di bumi, mencari majelis-majelis dzikir. Jika mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka saling memanggil: ‘Kemarilah kepada apa yang kalian cari.’ Lalu mereka mengelilingi majelis itu dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia…” (HR. Muslim) Malaikat Mencari Ahli Dzikir Guru kami menjelaskan: Allah Ta‘ala memiliki malaikat yang ditugaskan menyebar di muka bumi. Mereka bukan malaikat pencatat amal (Kiraman Katibin), tetapi malaikat yang secara khusus mencari hamba-hamba yang berdzikir. Ketika satu malaikat menemukan majelis dzikir, ia memanggil yang lain. Mereka berkumpul, mengelilingi majelis itu, bahkan menutupinya dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit. Betapa agungnya sebuah majelis yang mungkin secara lahir hanya berupa tikar sederhana dan beberapa hamba yang duduk melingkar, tetapi secara batin dikerumuni malaikat. Dialog Ilahi: Pertanyaan Allah kepada Malaikat Kemudian para malaikat naik ke langit. Allah — yang Maha Mengetahui — bertanya kepada mereka: “Apa yang dilakukan hamba-hamba-Ku?” Malaikat menjawab: Mereka memuji-Mu, ya Allah. Mereka mengagungkan-Mu. Mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu. Allah bertanya lagi: “Apakah mereka melihat-Ku?” Malaikat menjawab: Tidak, ya Allah. Allah berfirman: “Bagaimana jika mereka melihat-Ku?” Malaikat berkata: Seandainya mereka menyaksikan keagungan-Mu, niscaya mereka tidak akan pernah berhenti bertasbih dan memuji-Mu. Di sinilah hakikat tasawuf mulai terbuka. Dzikir yang kita lakukan hari ini adalah dzikir dalam hijab. Kita belum menyaksikan. Kita hanya beriman. Namun iman yang ghaib itulah yang justru mengangkat derajat seorang hamba. Tentang Neraka dan Surga Allah bertanya lagi: “Dari apa mereka meminta perlindungan?” Malaikat menjawab: Mereka meminta perlindungan dari neraka. “Apakah mereka telah melihat neraka?” Tidak, ya Allah. “Bagaimana jika mereka melihatnya?” Malaikat menjawab: Jika mereka mengetahui pedihnya siksa neraka, tentu mereka akan lebih sungguh-sungguh dalam dzikir dan semakin menjauhi larangan-Mu. Allah bertanya: “Apa yang mereka harapkan?” Malaikat menjawab: Mereka berharap surga-Mu. “Apakah mereka telah melihat surga?” Belum, ya Allah. “Bagaimana jika mereka melihatnya?” Seandainya mereka menyaksikan surga, niscaya mereka akan semakin rindu dan semakin bersemangat untuk memasukinya. Ampunan yang Meliputi Semua Lalu Allah berfirman dalam hadits itu: “Aku persaksikan kepada kalian, wahai para malaikat, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Dalam sebagian riwayat: qod ghofartu lahum – sungguh Aku telah mengampuni mereka.) Namun malaikat berkata: Ya Allah, di antara mereka ada satu orang yang tidak berniat dzikir. Ia hanya datang karena urusan lain. Allah berfirman: “Humul qoumu laa yasyqoo bihim jaliisuhum.” Mereka adalah kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka. Inilah samudera rahmat. Bahkan orang yang awalnya tidak serius pun, jika ia duduk dalam majelis dzikir, ikut terkena percikan ampunan. Tafsir Ruhani dari Guru Kami Guru kami dawuh dengan penuh ketegasan ruhani: “Seumpama kalian diberi kesempatan melihat siksa neraka, kalian tidak akan sanggup makan.” Kalimat ini bukan ancaman, melainkan penyadaran. Kita hari ini masih bisa tertawa, masih bisa lalai, karena hijab belum tersingkap. Andaikan hakikat dibukakan, jasad ini takkan kuat menanggungnya. Tasawuf mengajarkan: dzikir bukan sekadar lafadz, tetapi latihan hati untuk menyadari kehadiran Allah dalam keadaan belum melihat. Majelis dzikir bukan hanya forum bacaan, tetapi taman surga yang diturunkan ke bumi. Dan Ramadhan adalah musim di mana rahmat itu dilipatgandakan. Penutup: Adab Seorang Murid Kami menulis ini bukan karena merasa telah memahami, tetapi sebagai murid yang ingin mengikat ilmu agar tidak lepas. Semoga Allah menjadikan kami termasuk orang yang duduk di majelis dzikir bukan hanya secara jasad, tetapi juga secara hati. Ya Allah, jadikan kami bagian dari humul qoumu itu. Kaum yang Engkau ampuni, walau kami datang dengan penuh kekurangan. Allahu a‘lam bish-shawab.

20 Feb 2026 • Admin

Hakikat Wirid yang dibaca Pengajian 2 Ramadhan 1447 H

Maqbarah Mbah Ahmad – Adab, Sholawat, dan Hakikat Tasawuf 2 Ramadhan 1447 H dibuka dengan suasana yang penuh khidmah di maqbarah Mbah Ahmad. Angin malam berhembus pelan, jamaah duduk bersila, hati ditata. Guru kami membuka pengajian bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan satu pertanyaan sederhana namun dalam: “Sholawat apa yang dibaca dalam pengajian ini?” Lalu beliau menuntun kami membaca: “Allohumma Sholli wa Salim ‘Ala Sayyidina Muhammadin wa ‘Ala Aalih, sholata ahlis samawati wal ardli ‘Alaih.” Sholawat yang singkat, namun lautan makna. Hakikat Sholawat: Menghubungkan Langit dan Bumi Secara lahir, kita membaca satu kali. Namun guru kami menjelaskan: Barangsiapa membaca sholawat ini satu kali, seakan-akan ia mendapatkan catatan sholawatnya seluruh penduduk langit dan penduduk bumi. Ini bukan hitungan matematis biasa. Ini adalah hakikat keterhubungan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “InnaLloaha wa malaa-ikatahu yusholluuna ‘alan Nabi…” (Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi) Artinya, sholawat bukan hanya ibadah manusia. Ia adalah amalan kosmik — amalan langit dan bumi. Ketika seorang hamba bersholawat, ia sedang masuk ke dalam arus dzikir semesta. Mengapa Disebut Angka 132? Guru kami menyebut angka 132, dan menjelaskan dari ilmu hisab huruf (abajadun). Dalam perhitungan huruf Arab: Namun jika dihitung dengan variasi tertentu dalam tradisi abajadun yang diperluas (termasuk nilai tersembunyi atau isim kamil), sebagian ulama menghitungnya menjadi 132. Bagi ahli tasawuf, angka bukan sekadar nominal. Ia adalah isyarat. 132 menjadi simbol bahwa nama “Muhammad” mengandung limpahan rahmat yang tak terhingga. Namun yang lebih penting dari angka adalah: keyakinan dan mahabbah ketika membaca. Tasawufnya: Dari Hitungan Menuju Kehadiran Dalam hakikat tasawuf, wirid bukan soal banyaknya bacaan. Tetapi soal: Hadirnya hati Luruhnya ego Tersambungnya ruh kepada Rasulullah ﷺ Satu sholawat yang dibaca dengan hadir, lebih berat dari seribu sholawat tanpa rasa. Guru kami tidak hanya menjelaskan pahala. Beliau menanamkan semangat dan keyakinan agar Ramadhan tidak menjadi slogan, tetapi menjadi perjalanan ruhani. Pesan Paling Tegas: Jangan Merasa Paling Benar Di akhir pembukaan pengajian malam ini, guru kami dawuh: “Jenengan ahli sholat ojo nyalahno wong seng gurung sholat.” “Jenengan ahli poso ojo nyalahno wong seng durung poso.” Inilah inti tasawuf. Ahli ibadah yang masih suka menyalahkan orang lain, berarti ibadahnya belum menembus hati. Tasawuf mengajarkan: Sholat membersihkan diri, bukan untuk merasa suci. Puasa melatih sabar, bukan untuk merasa lebih tinggi. Orang yang sudah merasakan manisnya ibadah, biasanya justru lebih lembut kepada yang belum mampu.

20 Feb 2026 • Admin

Pertanyaan Gus Nafi (Pak Mudin) kepada Guru Kami: KH Masda Andi

Dalam sebuah dialog, Gus Nafi (Pak Mudin) bertanya kepada guru kami, KH Masda Andi, tentang hakikat shoum: “Jika shoum, apakah ditentukan waktu?” Guru menjawab dengan merujuk pada makna dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Maryam, ketika Sayyidah Maryam berkata: “Innii nadzartu lirrahmaani shouman falan ukallima al-yauma insiyya” (Aku bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa, maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang pun). Di sini, shoum dimaknai bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari berbicara. ✦ Makna Shoum Secara Umum Guru dawuh: Fal yakul khairan aw liyasmut — Berkatalah yang baik atau diam. Shoum secara umum adalah mencegah diri dari ucapan yang tidak bermanfaat. Namun beliau juga menegaskan: Shoum dalam arti tidak berbicara total memang ada. Tetapi itu adalah maqom tertentu, dilakukan oleh sedikit orang dalam konteks riyadhoh (latihan spiritual). Tidak boleh ditempatkan sembarangan, karena bisa mengganggu hubungan sosial. Beliau memberi contoh pengalaman pribadi: “Kulo nate ngelakoni shoum ba’da Isya’ sampai Subuh.” Artinya, latihan diam itu dilakukan pada waktu tertentu, sebagai riyadhoh, bukan sebagai kewajiban umum. Dalam kaidah suluk disebutkan: Siapa yang riyadhoh 40 hari dengan sungguh-sungguh, akan keluar kalam hikmah dari hatinya, bahkan ia sendiri tidak menyadarinya. Beliau juga menceritakan kisah tentang Gus Hasyim yang pernah melakukan riyadhoh tidak terkena sinar matahari di rumahnya di Jatirejo — sebuah bentuk latihan batin, bukan syariat umum. ✦ Kesimpulan Shoum dalam makna riyadhoh: Tidak mengikat waktu syariat tertentu. Bersifat latihan spiritual. Harus sesuai porsi dan bimbingan guru. 2️⃣ Apakah Orang yang Tidak Berpuasa Harus Menghormati yang Berpuasa? Pertanyaan kedua: “Beberapa hari disampaikan orang yang tidak berpuasa harus menghormati orang yang berpuasa.” Guru menjawab dengan mengutip dawuh Abdurrahman Wahid (Gus Dur): “Jika Anda Muslim yang terhormat, maka puasa Anda akan mampu menghormati orang yg tidak berpuasa” Ini bukan soal paksaan, tetapi soal kehormatan diri. ✦ Makna “Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu” Ketika Allah berfirman: Yaa ayyuhalladziina aamanuu (Wahai orang-orang yang beriman), Itu adalah panggilan kehormatan. Allah sendiri yang memanggil. Maka pertanyaannya kembali pada diri masing-masing: Apakah kita tergoda untuk mengabaikan panggilan itu? Atau kita merasa terhormat ketika dipanggil sebagai orang beriman? Menghormati orang yang tidak berpuasa adalah bagian dari menjaga adab sosial dan ukhuwah. Bukan semata-mata soal hukum, tetapi soal akhlak dan kesadaran iman. Penutup Dari dialog ini kita belajar: Shoum bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan lisan. Shoum dalam maqom riyadhoh tidak mengikat waktu syariat, namun harus dalam bimbingan. Menghormati orang yang tidak berpuasa adalah cermin kehormatan diri sebagai muslim. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang ketika dipanggil: “Yaa ayyuhalladziina aamanuu” kita menjawab dengan hati yang tunduk dan lisan yang terjaga

20 Feb 2026 • Admin

Kiblat Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf

Catatan Pengajian 1 Ramadhan 1447 H Al-Ashkhabiyyah – Maqbaroh Mbah Ahmad (Dempok) Oleh: Seorang Murid yang Mendengarkan dengan Penuh Adab Kiblat Tauhid Ahlussunah wal Jama’ah Dalam bab aqidah, guru kami menegaskan bahwa kiblat tauhid Ahlussunah wal Jama’ah adalah dua imam besar: Abu al-Hasan al-Ash’ari Abu Mansur al-Maturidi Keduanya adalah penjaga manhaj tauhid umat, yang merumuskan aqidah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para salaf. Dalam bab fiqih, Ahlussunah wal Jama’ah berpegang pada empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Adapun dalam tasawuf, kiblatnya adalah: Junayd al-Baghdadi Abu Hamid al-Ghazali Dan salah satu mahakarya Imam al-Ghazali yang menjadi rujukan besar umat adalah: Ihya Ulum al-Din Konsep Beragama: Tiga Tangga Menuju Allah Guru kami menyampaikan bahwa dalam beragama, seorang hamba harus menapaki tiga tangga: Syariat Tarekat Hakikat Kitab Ihya’ disusun selaras dengan perjalanan ini. Di dalamnya terdapat empat juz besar: 1️⃣ Juz Pertama – Rubu’ al-‘Ibadat (Fiqih Ibadah) Imam al-Ghazali menjelaskan kewajiban beragama secara fiqih: thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, dan adab-adabnya. Beliau menegaskan bahwa ibadah lahir harus benar secara hukum. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Innamal a‘maalu bin niyyaat, wa innamaa likulli imri’in maa nawaa.” Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj) 2️⃣ Juz Kedua – Rubu’ al-‘Adat (Muamalah) Membahas adab kehidupan: makan, nikah, mencari nafkah, bertetangga, dan kehidupan sosial. Dua juz pertama ini menggabungkan antara ibadah mahdhah dan kehidupan sehari-hari, sehingga agama tidak hanya di masjid, tetapi juga di pasar dan rumah. 3️⃣ Juz Ketiga – Rubu’ al-Muhlikat (Perkara yang Merusak Hati) Di sini dibahas penyakit hati: Sombong (kibr) Iri dengki (hasad) Riya’ Hubbud dunya Ujub Allah berfirman: “Yaauma laa yanfa‘u maalun wa laa banuun, illa man atallaha biqalbin saliim.” Pada hari tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89) 4️⃣ Juz Keempat – Rubu’ al-Munjiyat (Perkara yang Menyelamatkan) Setelah hati dikosongkan dari sifat tercela, maka ia diisi dengan sifat-sifat terpuji: Ikhlas Tawakal Syukur Sabar Mahabbah Inilah tahap penyucian hati yang sesungguhnya. Takhalli, Tahalli, Tajalli Guru kami menjelaskan: Jika juz 1, 2, dan 3 dilakukan maksimal → itu takhalli (mengosongkan diri dari keburukan). Juz 4 → itu tahalli (menghiasi diri dengan kebaikan). Jika semuanya istiqamah, maka tinggal menunggu karunia Allah → tajalli (tersingkapnya cahaya ma‘rifat). Namun beliau memberi peringatan keras: Jika seseorang tidak menapaki tahap 1-2-3-4 tetapi mengaku sudah mengalami tajalli, maka tidak ada jaminan itu dari Allah — bisa jadi tipu daya jin. Ini adalah teguran keras agar murid tidak tertipu oleh rasa atau pengalaman batin yang tidak dibangun di atas syariat. Fiqih dan Tasawuf Tidak Boleh Dipisah Guru kami KH Masda Andi dawuh: Ruhul jasmani ada pada daging dan darah, dan dibebani syariat. Artinya, selama jasad masih hidup, hukum fiqih tetap berlaku. Beliau juga menegaskan: “Orang bertasawuf belum tentu berfiqih. Tetapi orang yang benar-benar berfiqih, sejatinya sudah memasuki tasawuf, karena sebelum ibadah ada niat. Dan niat tempatnya di hati — itu wilayah tasawuf.”sing Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Alaa wa inna fil jasadi mudhghah, idzaa shaluhat shaluhal jasadu kulluh, wa idzaa fasadat fasadal jasadu kulluh, ألا وهي القلب.” Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati. (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj) Maka orang yang mengaku tasawuf tetapi belum memahami fiqih, itu belum sempurna jalannya. Sebaliknya, fiqih tanpa tasawuf akan kering dari ruh. Penutup: Agar Tidak Gumunan Guru kami menyampaikan ini agar kami tidak “gumunan” melihat orang yang tampak alim atau tampak memiliki pengalaman batin. Ukuran kebenaran bukan pada rasa, bukan pada penampakan, bukan pada cerita-cerita tajalli. Tetapi pada: Aqidah yang lurus Fiqih yang benar Hati yang dibersihkan Adab kepada guru Dan istiqamah dalam syariat Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang berjalan perlahan namun benar, tidak tergesa-gesa mengaku sampai, padahal belum menapaki tangga pertama. Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba‘ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnajtinaabah.

20 Feb 2026 • Admin

Ihya’ ‘Ulumuddin Juz 1 – Ngurip-urip Ramadhan dengan Siyam dan Shoum

Pengajian 1 Ramadhan 1447 H Ihya’ ‘Ulumuddin Juz 1 – Ngurip-urip Ramadhan dengan Siyam dan Shoum Al-Ashkhabiyyah – Maqbaroh Mbah Ahmad (Dempok) Bersama guru kami, KH Masda Andi Alhamdulillah, malam pertama Ramadhan 1447 H kami diparingi kesempatan sowan ngaji Ihya Ulumuddin juz 1, karya agung Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali. Kulo nyerat punika minangka murid ingkang namung saged lungguh, mirengaken, lan nyimak kanthi adab. Mugi boten dados slogan, nanging dados suluh laku salebetipun wulan Ramadhan. Ngurip-urip Ramadhan Menuju Ridho Ilahi Guru dawuh, rasa syukur punika boten cekap wonten ing lisan. Ramadhan kedah diurip-urip, boten namung dipun sebut. Ngurip-urip tegesipun: diamalaken, dipun rasakaken, dipun jaga tekan akhir. Beliau ngendika kanthi guyon halus nanging teges: “Cuma kelas siyam abot gawe bersino ati.” Tegese, siyam (puasa lahir) sampun abot. Nanging yen pengin ngresiki ati, punika kedah langkung saking namung nahan lapar. Bedane Siyam lan Shoum Guru nerangaken bilih wonten bedane makna siyam lan shoum, kados ing dawuh Allah Ta’ala wonten ing: “…Inni nadzartu lir-Rahmani shouman falan ukallima al-yauma insiyyan.” (QS. Maryam: 26) Ing kisah Sayyidah Maryam, tembung ingkang dipun ginakaken punika shouman, lan tafsire para ulama: menahan bicara. Ringkesan dawuh guru: Siyam → nahan mangan, ngombe, syahwat. Shoum → nahan lisan, nahan diri saking tutur, saking hal-hal ingkang boten perlu. Beliau ngendika kanthi senyum: “Nek jenengan benjeng mangan rokokan niatono shoum…” (Disusul tawa jamaah) Geguyon punika ngemu piwulang: menawi namung siyam lahiriyah, punika saged dipun lakoni kathah tiyang. Nanging shoum batin, nahan lisan, nahan ego, punika langkung abot. Nalika ditakoni: “Abot pundi, shoum nopo siyam?” Jamaah matur: “Shoum.” Penjelasan Ihya’ ‘Ulumuddin tentang Tingkatan Puasa Ing Ihya’ juz 1 (Kitab Asrar Ash-Shiyam), Imam Al-Ghazali Maka dawuh guru selaras kaliyan Ihya’: Siyam lahir punika pondasi. Nanging tujuanipun punika shoum batin. Hadits-Hadits tentang Hakikat Puasa (Lengkap) Beberapa hadits yang juga dibahas dalam Ihya’ terkait makna puasa: 1️⃣ Puasa bukan sekadar lapar Rasulullah ﷺ bersabda: “Man lam yada‘ qawla az-zur wal ‘amala bihi falaysa lillahi hajah fi an yada‘a tha‘amahu wa syarabah.” (HR. Bukhari) Artinya: Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. ➡️ Ini adalah ruh shoum, bukan sekadar siyam. 2️⃣ Banyak yang berpuasa tapi hanya dapat lapar “Rubbā shāimin laysa lahu min shiyāmihi illal jū‘ wal ‘athasy.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah) Bisa jadi orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus. ➡️ Ini peringatan agar siyam ditata menuju shoum. 3️⃣ Puasa sebagai perisai “Ash-shaumu junnah.” (HR. Bukhari & Muslim) Puasa adalah perisai. Perisai saking napa? Saking syahwat, saking maksiat, saking api neraka. Nanging menawi perisai punika bolong dening lisan, maka boten sampurna. Dawuh Guru yang Tegas Beliau paring wanti-wanti: “Yang saya terangkan jangan ditelan mentah-mentah.” Puniko adab ilmiah. Ilmu kedah dipun telaah, dipun tadabburi, boten namung dipun banggakaken. Beliau ugi ngendika: Allah Maha Pirsa, Nabi ugi pirsa. Menawi umat langsung diniati shoum, mboten kuat. Maka diniati siyam rumiyin, supados shoum saged ditata sethithik-sethithik. Puniko hikmah tarbiyah: Syariat lahir → latihan Hakikat batin → tujuan

23 Jan 2026 • Admin

RISALAH SINGKAT TENTANG ALAM KUBUR, RUH, DAN PERJALANAN PULANG (pembukaan)

Catatan Majelis KH. Masda Andi Kediaman Bapak Zainal Abidin, Bendet – 22 Januari 2026 Muqaddimah Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Risalah ini ditulis sebagai catatan ruhani seorang murid, dari apa yang disampaikan guru dalam sebuah majelis sederhana, namun sarat makna. Tulisan ini bukan fatwa, bukan pula klaim kebenaran pribadi, melainkan upaya menjaga jejak dawuh agar tidak hilang ditelan waktu. Semoga Allah memberi manfaat, menghidupkan rasa takut dan harap, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang diringankan di alam kubur. Āmīn. **Bab I Alam Kubur: Persinggahan Pertama Menuju Akhirat** Guru membuka majelis dengan mengingatkan satu hakikat besar: alam kubur adalah persinggahan pertama dari perjalanan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda: القَبْرُ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ Al-qobru awwalu manzilin min manāzilil ākhirah. Artinya: Kubur adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat. (HR. at-Tirmidzi) Dari Nabi Adam ‘alaihis salām sampai manusia terakhir, seluruh ahli kubur sedang menunggu. Yang sedang disiksa, ya disiksa. Yang sedang menikmati, ya menikmati. Alam kubur bukan alam diam, tetapi alam aktif—tempat balasan awal. Guru menegaskan satu kaidah penting: Barang siapa diringankan di alam kubur, maka terminal-terminal berikutnya akan dimudahkan. Barang siapa diberatkan di alam kubur, maka terminal berikutnya hampir pasti berat. **Bab II Sakratul Maut: Antara Siksa dan Rahmat** Setiap yang bernyawa akan menghadapi sakratul maut. Namun sakratul maut tidak selalu sama bagi setiap orang. Allah berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ Kullu nafsin dzā’iqotul maut. (QS. Āli ‘Imrān: 185) Guru menjelaskan: Sakratul maut bisa menjadi siksa, bisa pula menjadi rahmat. Semua tergantung: bagaimana seseorang menjalani hidup, kepada siapa ia bergantung, dan dalam keadaan apa ia dipanggil pulang. Pesan guru yang sangat menenangkan: “Ojo susah, ojo putus asa teko rahmate Allah.” Ini sejalan dengan firman Allah: وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ Wa lā tay’asū min rawḥillāh. (QS. Yūsuf: 87) Putus asa adalah hijab terbesar menjelang kematian. **Bab III Empat Golongan Manusia Menurut Ulama** Guru menyampaikan pembagian manusia (dinukil dari para ulama, di antaranya Imam al-Ghazali): Sa‘īdun fid-dunyā wa sa‘īdun fil-ākhirah Bahagia di dunia, bahagia di akhirat. Syaqiyyun fid-dunyā wa sa‘īdun fil-ākhirah Susah di dunia, bahagia di akhirat. Di sinilah guru menyampaikan kisah pribadinya: “Kulo sepuluh tahun pengantin anyar nang Palembang. Paling susah kulo sak dunyo. Pengantin anyar, mboten gadhah kasur.”Kesempitan lahir, namun keluasan batin. Sa‘īdun fid-dunyā wa syaqiyyun fil-ākhirah Senang dunia, celaka akhirat. Syaqiyyun fid-dunyā wa syaqiyyun fil-ākhirah Sengsara dunia, sengsara akhirat. Guru berpesan agar kita tidak keluar dari rel yang sudah Allah tentukan, dan semoga termasuk golongan yang Allah beri husnul khatimah. **Bab IV Doa Orang Hidup dan Keringanan Ahli Kubur** Ahli kubur sangat menunggu kiriman doa. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa: اللَّهُمَّ لَا تُعَذِّبْهُمْ بَعْدَ هَذَا Allāhumma lā tu‘adzdzibhum ba‘da hādzā. Dalam penjelasan para guru, doa, ziarah, bacaan Al-Qur’an, dan shadaqah dari orang hidup bisa menjadi sebab berhentinya siksa kubur. Guru berpesan dengan nada sangat halus: “Yen ora sempat ngirimi dungo, ojo nganti gawe dosa sing nambah siksa poro ahli kuburmu.” Dan diulang berkali-kali: ojo bosen-bosen kirim dungo marang ahli kubur, ojo nganti lali. **Bab V Ruh, Jiwa, dan Rahasia Kehidupan** Allah berfirman: وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي Wa nafakhtu fīhi min rūḥī. (QS. al-Ḥijr: 29) Sebelum jasad turun ke dunia, Allah mengambil kesaksian: أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا Alastu birabbikum, qālū balā, syahidnā. (QS. al-A‘rāf: 172) Perbedaan Ruh dan Jiwa Guru menjelaskan secara tasawuf: Ruh berasal dari ‘alam amr, kembali kepada Allah. Jiwa (nafs/sukma) adalah pengikat kehidupan jasmani. Yang kembali kepada Allah adalah ruh, bukan nafs. Tubuh ini disebut ruh al-jismanī, yang menghidupkan disebut ruh al-khayātī. Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah menjelaskan bahwa ruh jasmani berada antara daging dan darah. Ada pula Rūḥ al-Qudus / Rūḥ Rabbānī, yang ketika kembali, perjalanannya sangat berat kecuali bagi orang-orang yang disucikan. Guru dawuh: “Badan iki kandangane ruh. Yen ruh ora dibungkus jisim, alam iki kobong.” **Bab VI Panggilan Pulang dan Jiwa yang Tenang** Allah memanggil jiwa yang telah tenang: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ Yā ayyuhan nafsul muṭma’innah, irji‘ī ilā rabbiki. (QS. al-Fajr: 27–28) Inilah tujuan akhir suluk: pulang dengan tenang, bukan dengan penyesalan. Khatimah (Penutup) Guru menutup dengan doa yang sangat tawadhu‘: “Mugi-mugi kulo punika mboten wonten ing alam kubur keluwen, nanging wonten ing emperan suargo mawon.” Semoga kita semua diringankan di alam kubur, diberi istiqamah di dunia, dan dipanggil pulang dalam keadaan ridha dan diridhai. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

08 Jan 2026 • Admin

Laa Ilaaha Illallah dan Burung Hijau pengusik penduduk langit

Lanjutan ngaji Tanbīhul Ghāfilīn (07 januari 2026) Malam itu majelis tidak terlalu ramai, tapi sunyi yang ada justru terasa berat. Guru kami duduk bersila, sarung sederhana, suara pelan tapi menancap. Beliau membuka dengan senyum kecil, lalu berkata pelan: “Jenengan ngerti ora, niki dawuh Kanjeng Nabi ﷺ…” Kami langsung menegakkan punggung. Guru melanjutkan: “Saben wong ngucap Laa ilaaha illallah, saka cangkeme metu manuk ijo.” Lalu beliau nyeletuk dengan gaya guyon khas Jawa: “Iki dudu dongeng, iki dawuh Nabi.” Kami saling pandang. Burung itu, kata beliau, berwarna hijau—ijo segar, seperti tanah tandus yang baru kena hujan. Hijau yang menghidupkan. Hijau yang mengingatkan pada Khodir—makna kehidupan yang muncul dari kehampaan. “Ati sing garing, nek kena dzikir tauhid, dadi ijo.” Dada Hijau, Sayap Putih, dan Cahaya yang Bertaburan Guru lalu membaca potongan riwayat: Burung itu punya dua sayap putih, dadanya hijau, dan di sekelilingnya bertaburan mutiara serta permata. Beliau berhenti sebentar, lalu berkata: “Iki simbol, nduk. Iman iku resik, tauhid iku urip, amal sholeh iku ayu.” Burung itu tidak diam. Ia terbang naik… naik… menembus lapisan langit. Dengungannya Mengganggu Penduduk Langit Ketika burung itu terbang, suaranya berdengung. Ramai. Terus-menerus. Sampai akhirnya, kata guru, penduduk langit terganggu. Para malaikat berseru: “Uskun! Tenanglah!” Namun burung itu menjawab—dan di sini suara guru mendadak meninggi: “Aku ora bakal mandek, nganti Allah ngapura dosa wong sing dzikir iki.” Kami terdiam. Kenapa suaranya begitu ramai? Karena—kata guru—burung itu diciptakan dengan tujuh puluh mulut. Setiap mulut berdzikir. Setiap mulut memohon ampun. “Sampeyan wis mandek dzikir, tapi dzikirmu durung mandek.” Guyon yang Menampar Hati Guru tersenyum lagi, lalu berkata ringan tapi nusuk: “Boten usah digoleki ngeh nganggo meribwirid golek.” (Tidak usah cari-cari rasa dengan ribuan wirid hanya untuk pembuktian.) Lalu beliau menatap kami satu per satu. “Yakin apa ora?” Kami menjawab serentak: “Yakin!” Beliau langsung menyambar: “Nek gak yakin, podo maca syahadat. Soale iki dawuh Kanjeng Nabi.” Bukan marah. Tapi jujur. Laa Ilaaha Illallah dan Jalan Tarekat Kemudian guru membandingkan: “Sampeyan wirid Laa ilaaha illallah wae wis ngono. Opo maneh wirid Saman 166.” Beliau menghela napas. “Bertapane wong-wong iku luar biasa.” Di sinilah guru menjelaskan kenapa kisah seperti ini menjadi landasan berdirinya tarekat. Bukan karena ingin karomah. Bukan karena ingin disebut wali. Tapi karena dzikir yang istiqamah membentuk manusia yang poros hidupnya hanya Allah. Dari sinilah dinukil dawuh Syaikh Saman: “Sopo sing istiqamah wirid Saman, aku sing nyatet dadi golongan wali quthub.” Maknanya bukan klaim jabatan, tapi tanggung jawab ruhani. Penutup yang Membuat Dada Sesak Di akhir majelis, guru membaca hadits: مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ Beliau lalu menegaskan: “Teks hadits-e ngono. Tapi ojo salah paham.” Beliau menepuk dada. “Ora kudu meksa ilat iso ngucap. Sing penting, atimu pas metu saka donya iki isih netepi iman.” Sunyi. Tidak ada yang berani bicara. Akhirnya Kami Mengerti Burung hijau itu bukan untuk dicari. Dengung langit itu bukan untuk dibuktikan. Tarekat bukan jalan pintas. Semua hanya menunjuk pada satu hal: Jaga imanmu. Istiqamahkan dzikirmu. Dan pulanglah kepada Allah dengan hati yang hidup.

Menampilkan halaman 3 dari 4 (Total 29 data)