WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

02 Jan 2026 • Admin

Peniupan Ruh dan Konsekuensi Fikih oleh ust restu

Kajian berfokus pada hadis riwayat Abdullāh bin Mas‘ūd raḍiyallāhu ‘anhu, di mana Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula…” Ustadz Restu menjelaskan bahwa penggunaan kata “inna” dalam hadis tersebut merupakan bentuk penegasan kuat, yang menunjukkan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi, bukan sekadar kiasan atau perumpamaan. Tahapan Penciptaan dalam Kandungan Hadis ini menjelaskan secara rinci tahapan penciptaan manusia: 40 hari pertama: Nutfah (air mani) 40 hari kedua: ‘Alaqah (segumpal darah) 40 hari ketiga: Muḍghah (segumpal daging) Ustadz Restu menekankan bahwa pada masa Rasulullah, ilmu kedokteran modern belum berkembang. Namun saat ini, penelitian ilmiah justru membuktikan kebenaran tahapan penciptaan tersebut, sebagaimana yang disampaikan dalam hadis. Peniupan Ruh dan Penetapan Takdir Setelah usia kandungan mencapai empat bulan (120 hari), Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam janin. Pada saat itu pula, malaikat diperintahkan untuk menuliskan empat perkara penting, yaitu: Rizki Ajal (umur) Amal perbuatan Nasib (bahagia atau celaka) Ustadz Restu menyampaikan bahwa hadis ini tergolong hadis istimewa, karena mencakup perjalanan manusia sejak awal penciptaan hingga takdir kehidupannya di dunia dan akhirat. Pandangan Fiqih tentang Kandungan Dalam perspektif ilmu fiqih, Ustadz Restu menjelaskan bahwa: Apabila janin belum ditiup ruh dan terdapat indikasi medis tertentu, maka sebagian ulama membolehkan pengguguran dalam kondisi tertentu. Namun setelah ruh ditiup, hukum menggugurkan kandungan menjadi haram secara mutlak, kecuali dalam keadaan darurat yang sangat terbatas. Konsep Takdir: Mubram dan Mu‘allaq Ustadz Restu juga menjelaskan pembagian takdir dalam Islam: Takdir Mubram Takdir yang tidak dapat diubah, seperti ajal. Takdir Mu‘allaq Takdir yang dapat berubah dengan ikhtiar, doa, dan amal, seperti rizki. Pemahaman ini mengajarkan keseimbangan antara tawakal kepada Allah dan usaha manusia. Pentingnya Akhir Kehidupan (Husnul Khatimah) Dalam lanjutan hadis disebutkan bahwa: Ada orang yang sepanjang hidupnya beramal seperti ahli surga, namun di akhir hayatnya beramal seperti ahli neraka. Sebaliknya, ada orang yang tampak seperti ahli neraka, namun di akhir hidupnya justru berakhir sebagai ahli surga. Hal ini menjadi pengingat bahwa penilaian akhir berada pada penutup kehidupan, sehingga setiap muslim hendaknya terus memperbaiki diri dan memohon husnul khatimah. Doa untuk Keluarga Bapak Agung Di akhir pengajian, Ustadz Restu memanjatkan doa: Semoga seluruh hajat keluarga Bapak Agung dikabulkan oleh Allah Semoga jabāng bayi yang dikandung: Menjadi anak yang shalih atau shalihah Diberi takdir yang baik dan penuh keberkahan Hadis Penutup tentang Doa Mustajab Sebagai penutup, Ustadz Restu menyampaikan hadis dari Kitab As-Ṣiyām: “Ada tiga doa yang tidak akan ditolak: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang sedang berpuasa, dan doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir).” Hadis ini sangat relevan dengan momen walīmatul ḥaml, karena menjadi pengingat akan besarnya kekuatan doa orang tua bagi anaknya sejak dalam kandungan. Penutup Semoga kajian ini menambah keimanan, memperkuat keyakinan akan takdir Allah, serta menjadi wasilah keberkahan bagi keluarga yang sedang menantikan kelahiran buah hati. Wallāhu a‘lam bish-ṣawāb

19 Dec 2025 • Admin

Pengajian Rotibul Atthos (kediaman ust bahrul)

19 Desember 2025 Bagian 1: Yaumil Mahsyar dan Keadilan Allah Pada Yaumil Mahsyar, hari dikumpulkannya seluruh manusia, akan berlangsung hisab (perhitungan amal). Allah adalah Māliki Yaumid-Dīn — Pemilik dan Penguasa hari pembalasan — dan bertindak dengan keadilan yang sempurna. Dikisahkan: Seorang hamba menerima catatan amal berisi 100 catatan. 99 di antaranya adalah maksiat, hanya 1 amal kebaikan. Namun, Allah menimbang dengan keadilan dan rahmat-Nya. Senjata pamungkas umat Nabi Muhammad ﷺ pada saat itu adalah: “Lā ilāha illallāh” Kalimat tauhid ini, jika diucapkan dengan iman yang benar, memiliki bobot yang sangat berat di sisi Allah, bahkan bisa mengalahkan banyak catatan dosa. Bagian 2: Nabi Muhammad ﷺ Memikirkan Umatnya Suatu ketika, Nabi Muhammad ﷺ didatangi Malaikat Jibril عليه السلام. Ada dua kemungkinan kedatangan Jibril: Membawa kabar dari Allah Karena Nabi sedang bersedih Jibril berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah menitipkan salam kepadamu. Allah melihat engkau sedang bersedih.” Padahal Allah Maha Mengetahui kesedihan Nabi. Namun pertanyaan ini dituliskan dalam hadis agar umat manusia bisa memahami perasaan Nabi dan kasih sayangnya. Nabi ﷺ bersabda: “Sudah lama aku memikirkan umatku, kelak di hari kiamat.” Menurut penjelasan Guru KH Masda: Nabi sebenarnya sudah diberi gambaran kondisi hari kiamat saat Isra’ Mi’raj. Ini menunjukkan bahwa doa terbaik adalah mendoakan orang lain, bukan diri sendiri. Doa Nabi adalah doa yang tidak menuntut apa-apa untuk dirinya, tetapi penuh kasih untuk umatnya. Bagian 3: Siapa Umat yang Dipikirkan Nabi? Jibril bertanya: “Wahai Muhammad, umat yang engkau pikirkan kelak itu yang kafir atau yang Islam?” Nabi menjawab: “Bukan, wahai Jibril. Yang aku pikirkan adalah umatku yang di dunia mengucapkan dzikir ‘Lā ilāha illallāh’.” Bagian 4: Gambaran Nasib Ahli Dzikir dan yang Lalai Jibril lalu memegang tangan Nabi ﷺ dan membawanya ke kuburan Bani Salamah. Peristiwa Pertama Jibril mengepakkan sayap kanannya di atas kuburan sambil berkata: “Bangkitlah engkau dengan izin Allah.” Maka bangkitlah seorang lelaki berwajah bersinar terang. Orang itu berkata: “Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn.” Peristiwa Kedua Jibril mengembalikan keadaan seperti semula. Lalu mengepakkan sayap kirinya. Bangkitlah seorang lelaki lain berwajah gelap dan bermata lebar. Orang itu berkata dengan penuh penyesalan: “Menyesal aku, sakit aku.” Kemudian Jibril berkata kepada Nabi ﷺ: “Engkau telah mengetahui, wahai Muhammad: umatmu yang memegang dzikir (tauhid) akan bercahaya, sedangkan yang tidak, wajahnya gelap.” Inti Pelajaran dari Kisah Ini Kalimat “Lā ilāha illallāh” adalah penyelamat utama umat Nabi Muhammad ﷺ. Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya luar biasa, bahkan melebihi kepentingan dirinya sendiri. Dzikir dan tauhid memberi cahaya, baik di alam kubur maupun di akhirat. Kelalaian dari dzikir membawa penyesalan dan kegelapan. Kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi mengajak umat agar tetap menjaga iman dan dzikir.

Menampilkan halaman 4 dari 4 (Total 29 data)