WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

14 Jan 2026 • Admin

Detik-Detik Menjelang Penutupan: Isyarat Ruhani dari Guru di Gubuk Kawah Condro Dimuko

klik untuk melihat video yang dibagikan Menjelang penutupan sementara Jam’iyyah Al Ashkhabiyyah, suasana batin jama’ah seakan ditarik masuk ke ruang yang lebih dalam. Tidak ramai oleh acara, tidak hiruk oleh simbol, tetapi sunyi oleh makna. Pada saat-saat seperti inilah guru kami, KH Masda Andi, justru sering membagi tulisan—singkat, sederhana, namun menghujam tepat ke inti hati. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar pesan. Ia seperti isyarat, seperti ketukan halus dari langit yang hanya bisa didengar oleh hati yang sedang waspada. Guru kami menulis: DETIK DETIK MENUNGGU ACARA PENUTUPAN JAM’IYYAH AL ASHKHABIYYAH……….. gubuk kawah condro dimuko Eling…elingen iki….tenan…tenan iki…. (sendiko dawuh Mbah …..) awakmu nglakoni dosa gak opo opo tapi kowe ojo sampek gak telaten tobat,…gak telaten istighfar lan ojo sampek naliko kowe tobat, kalah semangat ambek naliko awakmu nglakoni duso. bedane wong iman garo wong gak iman artine bedane wong sing arep slamet garo sing gak arep slamet iku gampang. “idza dzukiro dzakaro” ketika diingatkan mau mendengarkan………. iku berarti alamat slamet,…tapi kowe nek wis dinasehati wong, dielingke wong, wis gak iso,…… berarti kowe iki ngenteni dielingke Pengeran, dielingke Pengeran kui ngeri tenan leeee…… dielingke kok dielingke Pengeran, iku rodo gawat lee. Ya Alloh Ya Robb diujung Bulan Rojab, bulan ampunan, bulan diterimanya tobat……. ampunilah kami semua keluarga besar jama’ah Al Ashkhabiyyah, jadikanlah kami semua golongan yang ahli taubat dan berilah kami semua hati yang lembut yang selalu mau menerima nasehat nasehat baik….. dan matikanlah kami semua dalam KHUSNUL KHOTIMAH…..AAMIIN Sebagai murid, kami tidak berani menafsirkan berlebihan. Namun dalam adab tasawuf, diam yang merenung sering kali lebih fasih daripada bicara yang panjang. Pesan ini seakan mengajak kami kembali kepada perkara paling mendasar dalam suluk: taubat yang jujur dan hati yang mau diingatkan. Taubat: Bukan Bebas dari Dosa, tapi Setia Kembali Guru tidak pernah menuntut muridnya menjadi suci tanpa cela. Bahkan dengan bahasa Jawa yang sangat membumi, beliau menegaskan: awakmu nglakoni dosa gak opo opo. Ini bukan pembenaran dosa, melainkan pengakuan hakikat manusia. Bahwa jatuh itu manusiawi. Namun garis tegasnya ada pada kelanjutan pesan itu: ojo sampek gak telaten tobat, gak telaten istighfar. Dalam tasawuf, bukan dosa yang paling ditakuti, melainkan berhentinya seseorang dari kembali. Lebih berbahaya lagi jika semangat taubat kalah oleh semangat berbuat dosa. Di situlah hati mulai mati pelan-pelan. Isyarat Keselamatan: Mau Mendengar Saat Diingatkan Guru mengutip kalimat yang bersumber dari makna Al-Qur’an dan hadits: “idza dzukiro dzakaro” — ketika diingatkan, ia mau ingat. Inilah alamat keselamatan. Bukan banyaknya ilmu, bukan tingginya wirid, tetapi kelembutan hati saat dinasihati. Dalam tasawuf, hati yang masih bisa bergetar oleh nasihat manusia adalah hati yang masih hidup. Sebaliknya, jika sudah tidak bisa dinasihati siapa pun, maka seseorang sedang menunggu peringatan langsung dari Allah. Dan guru kami menyebutnya dengan bahasa yang sangat jujur dan menggetarkan: ngeri tenan… rodo gawat. Karena peringatan Allah tidak selalu datang dalam bentuk kata, kadang berupa kejadian yang mengguncang hidup. Penutupan Majlis: Ditutup di Lahir, Dibuka di Batin Menjelang penutupan sementara majlis, pesan-pesan seperti ini terasa bukan sebagai akhir, melainkan pembukaan pintu ke dalam diri. Seolah guru ingin mengatakan bahwa majlis sejati tidak pernah tutup—ia berpindah dari lantai gubuk ke relung hati masing-masing jama’ah. Doa di ujung tulisan beliau, yang dipanjatkan di akhir Bulan Rajab, adalah doa kolektif: agar kami menjadi ahli taubat, diberi hati yang lembut, dan ditutup usia dalam khusnul khotimah. Dalam tasawuf, inilah puncak harapan seorang murid: bukan karamah, bukan maqam, tetapi akhir yang diridhai. Sebagai murid, kami hanya bisa menundukkan kepala, menyimpan pesan ini dalam-dalam, dan berusaha mengamalkannya semampu kami. Jika tulisan ini terasa mengetuk hati, itu bukan karena indahnya kata, melainkan karena barokah nasihat guru yang lahir dari laku, bukan sekadar pikir. Semoga kami semua selalu termasuk orang-orang yang eling nalika dielingke, dan tidak menunggu peringatan Allah dalam bentuk yang menakutkan. Allahumma ahyinaa bi al-inabah, wa amitnaa ‘alaa husnil khatimah. Aamiin.

13 Jan 2026 • Admin

Detik-detik Menjelang Ikhtitam “Penyingkapan Racun Dalam Suluk”

Bedah Ruhani Dawuh Guru KH. Masda Andi (13 Januari 2026) Dalam perjalanan thariqah, ada fase ketika guru tidak lagi bicara tentang banyaknya amal, tetapi mulai menunjuk racun halus yang hidup di balik amal. Racun ini tidak berisik, tidak tampak kasar, bahkan sering bersembunyi di balik kesalehan, perjuangan, dan ilmu. Pada 13 Januari 2026, menjelang ikhtitam sementara Majlis Ta’lim wa Dzikir Jam’iyyah Al Ashkhabiyyah, dawuh ini disampaikan. Bila dibaca dengan adab murid, ia bukan sekadar peringatan, melainkan bekal latihan batin bagi salik saat nanti “terjun nang tengah-tengah ummat”. Teks Asli Dawuh Guru KH. Masda Andi (ditulis apa adanya, tanpa perubahan) Detik…detik..menunggu ikhtitam/penutupan sementara Majlis Ta’lim wa Dzikir Jam’iyyah Al Ashkhabiyyah cekelen iki…eling2en iki….kanggo bahan latihan selama liburan sak wise penutupan…….saate terjun nang tengah2 ummat….. Ada racun halus dalam diri manusia yang terkadang muncul tanpa suara.. Rasa ingin terlihat lebih tinggi dari orang lain, rasa memandang rendah, rasa merasa paling benar, paling suci, paling mengerti. Rasa seperti itu tidak sekedar salah, ia sebenarnya adalah cermin dari penyakit lama yang pernah membuat makhluk mulia tersesat. . ‘𝗞𝗲𝘀𝗼𝗺𝗯𝗼𝗻𝗴𝗮𝗻.’ Iblis bukan jatuh karena kurang ibadah, bukan karena ia tidak mengenal Tuhan, iblis sangat ma’rifat billah…..tapi ia jatuh bahkan terlaknat….. Ia jatuh karena satu kalimat dalam hatinya. . ‘𝗔𝗸𝘂 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮.’ Kalimat itu adalah belati yang memotong seluruh cahaya. Dan sejak saat itu, ibadahnya tidak berarti apa-apa. …..na’udzbillahimindzalik RUMUS Sopo wonge nggawe amben mesti arep entuk longane. Sopo wonge gelem berjuang kanggo agomo, taat kepada agama, taat karo aturane gusti Allah, opo seng dadi kebutuhane arep dicukupi karo gusti Allah. Lan gusti Alloh ora nulayane jani. يا أيها الذين أمنوا إن تنصرالله ينصركم ويثبت أقدمكم إن الله لا يخلف الميعاد Golek ilmu dibenerke niate, sesuk kok kebetulan dadi pejabat, tentara, dokter, kiyai , pengusah,juragan, bahkan gak dadi opo2, cuman dadi wong tok………🤣🫢🙏🏻dll iku bonus. Gejobo di benerke niate yo seng sregep seng tenanan lan dibarengi riyadhoh (tirakat) koyo ngrowot, moco hizib, dalail dll ben berkah, mergo berkah kui tiada duanya, lan mergo nek gak berkah mengko iso menjerumuskan, kuabeh kui nek gak ditirakati,diriyadlohi…pasti isine mung goroh tur makelaran tok… .masio babakan agomo yo uakeh makelare…… maka ati2lah….. Semoga bisa mengambil manfaatnya dan dimudahkan untuk bisa mengamalkannya, aamiin … 1. “Racun halus” dalam istilah tasawuf Dalam tasawuf, racun ini disebut ujub, kibr khafi, dan da‘wa an-nafs—kesombongan yang tidak terasa. Ia tidak tampak sebagai maksiat, justru sering menyamar sebagai: merasa lebih paham, lebih lurus, lebih berjuang, lebih suci. Karena halus, ia sering lolos dari istighfar. 2. Iblis dan ma‘rifat tanpa adab Dawuh guru menyinggung perkara yang sangat mendalam: iblis sangat ma’rifat billah Dalam tasawuf, ini pelajaran penting: ma‘rifat tanpa adab melahirkan laknat, bukan kedekatan. Kalimat “Aku lebih baik darinya” adalah simbol runtuhnya tauhid rasa, meski tauhid lisan masih ada. Sejak itu, ibadah tidak lagi bernilai karena cahaya amal dipotong oleh klaim diri. 3. “RUMUS” sebagai kaidah suluk Ungkapan Jawa: Sopo wonge nggawe amben mesti arep entuk longane dalam thariqah bermakna: siapa yang menyediakan tempat untuk Allah dalam hatinya, Allah sendiri yang akan mengisinya. Ayat yang dikutip guru menegaskan hukum Allah: إن الله لا يخلف الميعاد Allah tidak pernah ingkar janji, tetapi seringkali kita yang keliru memahami bentuk pertolongan-Nya. 4. Ilmu, niat, dan riyadhoh Dalam suluk, ilmu tanpa riyadhoh disebut ilmu tanpa cahaya. Itulah sebabnya guru menekankan: niat dibenarkan, amal disungguhkan, dan ditirakati. Karena berkah bukan hasil kecerdasan, melainkan anugerah yang turun kepada hati yang direndahkan. Tanpa riyadhoh, agama pun bisa menjadi dagangan, dan dai bisa berubah menjadi makelar, sebagaimana peringatan guru dengan sangat jujur. Penutup Adab Murid Dawuh ini bukan untuk menuduh siapa pun, tetapi untuk menjaga diri sendiri saat nanti berada di tengah umat. Sebab semakin ke depan, godaan bukan lagi maksiat kasar, melainkan rasa lebih yang halus dan memabukkan. Sebagai murid, tugas kita bukan membantah dawuh guru, tetapi menjadikannya cermin harian, agar amal tidak berubah menjadi belati bagi diri sendiri. Semoga Allah menjaga kita dari kesombongan yang tersembunyi, dan menutup hidup kita dengan khusnul khotimah dalam fakir dan adab. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

13 Jan 2026 • Admin

Dikalah Dawuh Guru Menjadi Palu Penghancur Bangunan Batin

Dalam perjalanan ruhani, ada momen-momen tertentu ketika sebuah kalimat sederhana justru menjadi palu yang menghancurkan bangunan batin yang selama ini kita anggap kokoh. Dawuh guru bukan datang untuk menghibur ego salik, tetapi sering kali hadir sebagai cermin yang jujur, memantulkan apa yang selama ini kita sembunyikan rapat-rapat di balik amal dan ibadah. Pada tanggal 12 Januari 2026, dawuh ini dibagikan di Grup Jam’iyah Ashkhabiyyah. Ketika dibaca perlahan dengan adab seorang murid, ia bukan sekadar nasihat, melainkan penyingkapan tabir (kasyf)—bukan membuka rahasia langit, tetapi membuka kedok rasa “aku” yang masih hidup dalam ibadah. Dalam tasawuf, inilah fase yang paling halus sekaligus paling berbahaya: ketika ibadah tidak lagi melalaikan, tetapi justru melahirkan rasa memiliki. Teks Asli Dawuh Guru KH. Masda Andi (ditulis apa adanya, tanpa perubahan) selama ini ternyata aku tertipu garo ibadahku dewe Dudu ibadahku sing nipu ku…… Tapi perasaan bahwa ibadah iku milikku. “Keinginan ku ngatur takdir kuwi tanda butane ati ku terhadap kebijaksanaan/ketentuan Allah.” Berapa kali aku marah pada takdir Berapa kali aku protes dalam doa Berapa kali aku berkata, “Kenapa bukan aku……???” “Kenapa akau tetap begini…..????” “Kenapa dungoku gak dikabul2, jarene Guru,,,,Alloh Maha mengabulkan dungo……?” garo nangis aku……😭😭 dalam kebingunan opo sing kudu tak lakoni…….😇😇😇?????? Tiba……tiba……. (dalam posisi memeluk tiang/cagak bangunan) Hancurkan rasa “aku”-mu. Biarkan ati mu miskin. Biarkan jiwa mu tak punya apa-apa selain harap dan bergantung pada Allah. buktikno,….lakonono kanti sak kuatmu WIRID 36.. …….. Semoga kita semua Khusnul Khotimah meninggalkan Rutinan dan Khusnul Khotimah meninggalkan Dunia…… Aamiin. Tabir yang Tersingkap: Dalam khazanah tasawuf, penyakit paling halus bukanlah maksiat lahir, tetapi i‘tiqad khafi—keyakinan tersembunyi bahwa aku adalah pelaku. Ketika guru mengatakan “perasaan bahwa ibadah iku milikku”, sejatinya ia sedang menunjuk hijab amal. Imam Al-Junaid rahimahullah menegaskan bahwa: “Amal yang disertai rasa memiliki adalah amal yang masih berdiri bersama nafs.” Maka kegelisahan yang digambarkan dalam dawuh—marah pada takdir, protes dalam doa, tangis dalam kebingungan—bukanlah tanda kegagalan suluk. Justru itu alamat bahwa nafs sedang dilucuti, dan hati mulai memasuki wilayah fakir. Saat dawuh itu sampai pada kalimat: “Hancurkan rasa ‘aku’-mu”, tasawuf menyebutnya sebagai panggilan menuju fana’ ‘an nafs, bukan lenyap secara fisik, melainkan lenyapnya klaim kepemilikan. Adapun perintah wirid bukanlah penegasan kuantitas amal, tetapi ujian kejujuran batin: apakah wirid itu semakin menipiskan “aku”, atau justru menegaskan “aku yang mengamalkan”. Penutup: Antara Rutinan dan Dunia Doa penutup dawuh ini sangat dalam: Khusnul Khotimah meninggalkan rutinan, sebelum Khusnul Khotimah meninggalkan dunia. Dalam pandangan tasawuf, siapa yang mampu keluar dari amal tanpa membawa ego, insyaAllah akan dimampukan keluar dari dunia tanpa membawa beban selain harap kepada Allah. Tulisan ini bukan tafsir atas dawuh guru, melainkan upaya menjaga agar hati tidak lancang, sembari membiarkan dawuh itu sendiri yang bekerja menghancurkan “aku” dari dalam. Semoga kita dijaga dalam adab murid, dan dimatikan dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, kecuali rahmat Allah semata. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

11 Jan 2026 • Admin

Saat Sanad Berdenyut dalam Ujian Sakit Guru

Di saat kabar sakit parah Habib Hasan—pengijazah sanad Dalā’ilul Khairāt—menyentuh batin para murid, Allah menghadirkan satu pengingat yang sangat halus namun dalam. Pada pukul 22.00 malam, guru kami KH. Masda Andi menuliskan sebuah catatan ruhani di grup, bukan sekadar kenangan, melainkan sambungan sanad yang hidup. Tulisan itu membawa kami kembali pada satu malam yang sunyi, malam yang tidak semua orang diundang untuk menyaksikannya, namun dicatat oleh langit. “3,3 th yang lalu, tepat pukul 01.00 malam di Maqbaroh Tebuireng, pengijazahan Dalailul Khoirot dengan saksi Mbah Hasyim , Ya Alloh Ya Robb dengan wasilah maqbaroh Tebuireng jadikanlah kami semua ahlus Sholawat, dan kumpulkanlah kami semua dengan Guru kami, besok di Padang Ma’zar, dengan Syafaat Kekasih Engkau dan dalam naungan Engkau. Allohumma a’tina yaumal qiyamati syafa’ata Nabiyyika Muhammadin Shollallohu ‘Alaihi was salam, yauma laa syafa’ata ila Syafa’atuhu, wa adhillana yauma laa dhilla ila dhiluka….Aamiin” Kalimat ini bukan tulisan biasa. Ia adalah jejak sanad yang ditulis ulang oleh waktu, kini hadir kembali tepat ketika guru sanad berada dalam ujian sakit yang berat. Seakan Allah mengingatkan para murid: sanad bukan hanya ketika ijazah diterima, tapi ketika guru diuji, murid dipanggil untuk setia dalam doa. Maqbarah Tebuireng, dengan kesaksian Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, menjadi saksi bahwa sholawat tidak pernah mati. Ia berpindah dari lisan ke lisan, dari hati ke hati, dan kelak akan menjadi naungan di Padang Mahsyar, sebagaimana doa guru kami sendiri. Tulisan ini terasa bukan sekadar nostalgia, melainkan isyarat ruhani: bahwa sholawat yang diijazahkan dahulu, kini sedang kembali naik sebagai doa untuk para guru. Bahwa sanad Dalā’ilul Khairāt bukan hanya bacaan, tapi tali penghubung saat hidup dan saat menuju akhir. Di saat Habib Hasan diuji sakit, para murid sejatinya sedang diuji: apakah sholawat masih dibaca dengan adab, apakah guru masih dihadirkan dalam doa, dan apakah sanad masih dijaga dengan tawadhu’. Semoga Allah menerima semua sholawat yang mengalir, mengangkat derajat para guru, dan mengumpulkan kita semua kelak bersama mereka, di bawah Syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, dalam naungan yang tiada naungan selain naungan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

08 Jan 2026 • Admin

Seng Penting Rutin Bagian 2

(Catatan Dawuh Guru – 8 Januari 2026) Tulisan ini tentu tidak akan pernah mampu menggambarkan seluruh kemuliaan sosok Guru kami. Namun setidaknya, dari pengalaman dan kisah yang disampaikan, kita dapat mengambil teladan tentang kehidupan seorang Guru yang dimuliakan Allah. Sebagaimana dawuh Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: من أراد الفلاح فليصر ترابا تحت أقدام الشيوخ “Barang siapa menghendaki keberuntungan, hendaklah ia menjadi debu di bawah telapak kaki para guru.” Semoga kita semua memperoleh keberkahan dari para Guru kita. Aamiin. Eling-Elingen… Dudu awak dewe sing memilih dadi murid. Dalam dunia tasawuf, pernyataan bahwa “bukan engkau yang memilih menjadi murid” memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Ia berkaitan dengan hakikat kehendak, takdir, dan kasih sayang Allah. Murid adalah orang yang diinginkan oleh Tuhan. Para sufi meyakini bahwa seseorang tidak akan memiliki keinginan untuk mencari dan mendekat kepada Allah, kecuali jika Allah terlebih dahulu menghendaki orang tersebut untuk mendekat kepada-Nya. Keinginan untuk belajar agama dan tasawuf sejatinya adalah pantulan dari kehendak Allah yang sedang menarik hati kita. Jika Allah tidak menggerakkan hati dan memberikan hidayah khusus, maka sejuta guru pun tidak akan mampu membawamu ke jalan ini. Tasawuf mengajarkan bahwa merasa “aku yang memilih” adalah kesombongan halus. Sebaliknya, merasa dipilih dan dipanggil akan melahirkan rasa faqir, merasa tidak memiliki daya dan upaya apa pun, serta rasa syukur karena mendapat anugerah yang luar biasa: diundang ke hadirat-Nya. Perjumpaan dengan Guru Ruhani Bukanlah Kebetulan Perjumpaan dengan Guru ruhani tidak pernah dianggap sebagai kebetulan. Ruh-ruh itu ibarat pasukan yang berbaris; yang saling mengenal akan saling terpikat. Seorang Guru sejati sering kali telah melihat muridnya secara ruhani, jauh sebelum sang murid menyadarinya. Maka ketika seseorang merasa memilih Guru, sejatinya sang Guru—atas izin Allah—telah menerima dan menarik ruh murid tersebut. Sebagai adab, perjalanan spiritual ini bukan tentang kehebatanmu dalam mencari, tetapi tentang kerinduan Allah kepadamu, yang termanifestasi dalam bentuk pencarianmu. Faham ta…? Kesimpulan Engkau mencari karena engkau sedang dicari. Engkau mencintai karena engkau terlebih dahulu dicintai. Allah Maha Baik, Maha Uapik Tenan. Bersyukurlah jika awak dewe dipilih. Bukan awak dewe sing memilih, tetapi Allah yang memilih awak dewe. Awas ojo GR! Bersyukurlah… bersyukurlah… Ketika awak dewe ditarik masuk ke jam’iyyahan apa pun, di mana pun, yang penting Gurunya bersanad dan jelas. Tentang Ashkhabiyyah Ashkhabiyyah tidak mudah mengatakan “kafir”, tidak mudah mengatakan “syirik”, dan tidak merasa paling lurus sendiri. Ashkhabiyyah tidak mudah menyalahkan amaliyah yang memiliki dalil. Jamaah Ashkhabiyyah seharusnya rajin beribadah tanpa merendahkan orang lain. Memahami sunnah, tetapi tetap menjaga adab. Hadits menjadi petunjuk hidup, bukan alat untuk menghantam tradisi umat Islam. Ayat Al-Qur’an membawa rahmat, bukan provokasi dan kebencian. Semoga tulisan ini bermanfaat dan membawa barokah bagi kita semua, dalam rangka menyambut tamu agung pada acara: Penutupan Sementara 🗓 16 Januari 2026 / 28 Rajab 1447 H 🕖 Jum’at Malam Sabtu, pukul 19.30 WIB 📍 Musholla Sirojul Ummat Catatan penulis: Sangat jarang Guru menyampaikan dawuh pada sore hari. Biasanya beliau mewanti-wanti di pagi hari, dan menyampaikan pesan pada malam hari. Ketika dawuh ini disampaikan di siang hari, ada rasa batin bahwa terdapat kondisi ruhani tertentu yang melatarbelakanginya. Maka dawuh ini ditulis dan didokumentasikan, tanpa mengubah isi sedikit pun, sebagaimana disampaikan oleh Guru kami KH. Masda Andi pada tanggal 8 Januari 2026.

08 Jan 2026 • Admin

Menyambut Pagi, Menata Laku

Catatan Ruhani dari Sebuah Kultum Ada pagi-pagi tertentu yang rasanya tidak sekadar pagi. Bukan karena matahari lebih terang, tapi karena hati sedang disentuh oleh makna. Pagi ini saya membaca kembali satu kultum singkat dari guru. Kalimatnya sederhana, bahasanya ringan, namun ketika dibaca pelan-pelan, ia seperti menarik batin untuk berhenti sejenak dari kegaduhan rencana, target, dan bayangan masa depan. Teks Kultum (Asli) SELAMAT PAGI UNTUK SEMUA……… 🤣 MARI SAMBUT PAGI INI DENGAN PENUH BAHAGIA…. OJO LALI NGOPI “tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati (banyak terjadi, keturunan orang kecil yang akhirnya menjadi orang besar. Dan sebaliknya, banyak keturunan orang besar yang justru tidak menjadi apa-apa. Dan dalam hubungannya dengan dunia pesantren, hal tersebut terjadi karena yang satu mau ngaji, dan satunya tidak)” Dari beberapa cerita yang saya dengar langsung dari Guru2, saya belajar bahwa nilai diri yang jujur tak perlu dicari, dia datang sendiri seiring laku pribadi. Kita tak perlu sibuk memoles diri demi mendapatkan penilaian orang lain. Karena derajat sejati adalah murni anugerah ilahi. Santri, harta, atau jabatan apapun adalah murni rezeki. Tak perlu bingung nanti akan menjadi apa atau siapa, mendapat apa??? mau bagaimana…? dst….., cukup seriusi setiap usaha yang menjadi tugas didepan mata. Jadikan mimpi dan cita-cita selayak kompas yang mengarahkan kemana langkah kaki, namun tak perlu risau dengan hasil akhir. Oleh karennya pasrahkan semua kegiatan kita ke Alloh di awal sebelum mulai dan pamitlah/nyuwun pangestu kepada Njeng Nabi…… Karena tugas kita hanya berusaha.. Sebagaimana kata pepatah: “Setiap hasil takkan menghianati usaha”. kesimpulan OJO MELOK2 NGGARIS TIWAS MENCENG KABEH. TETAP SEMANGAT MENYAMBUT ROHMAT ALLOH….. SEMOGA SELALU DIRIDLOI ALLOH DAN DAPAT PANGESTU NJENG NABI… SEMUA LANGKAH KITA PAGI INI… AAMIIN. Renungan Ruhani (Pemahaman Pribadi) Bagi saya, kalimat “tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati” bukan sekadar pepatah sosial. Ia seperti cermin batin. Sering kali kita merasa hidup ini harus cepat “jadi”, harus terlihat berhasil, harus sesuai garis yang tampak di mata manusia. Padahal, dalam laku ruhani, yang menentukan hidup atau matinya seseorang bukan garis, bukan nasab, bukan kemudahan, melainkan kesediaan untuk terus tumbuh. Saya belajar bahwa nilai diri tidak lahir dari pengakuan, tapi dari kesetiaan pada laku yang sepi. Laku yang mungkin tidak dilihat siapa-siapa, namun dicatat oleh Allah. Kultum ini juga mengingatkan saya untuk tidak terlalu ribut memikirkan hasil akhir. Karena ketika batin terlalu menggenggam hasil, sering kali langkah justru menjadi berat. Pasrah di awal, berusaha di tengah, ridho di akhir. Di situlah saya merasa hidup menjadi lebih ringan. Dan mungkin itulah maksud terdalam dari kalimat: ojo melok-melok nggaris — jangan terlalu sibuk melihat jalan orang lain, hingga lupa menapaki jalan sendiri dengan benar.

05 Jan 2026 • Admin

Wirid Sunyi yang Menata Takdir Oleh KH masda andi

(Cerita KH Masda Andi di Group wa jamiyah Ashkhabiyyah) Seng Penting Rutin! mumpung kelingan….dasare lagi longgar gawean maklum ejih Januari…………….“napak tilas kehidupan 30 tahun yang lalu” Pada tahun 1996…… Masda sumpeke puol2an,…maklum tembe tamat sarjana,tamat mondok,mulih lolalolo alias plongaplongo….arep nyambut gae opo iki…..di tambah kerupekan liyone…wis pokoke puol mumete….😇😇😇 Koyok2 Muhal iso mberesi. Ndelalah kersane Allah Ta’ala Masda eling duwe Guru nang sokopuluhan Pati,paring asmo Mbah Yai Sa’dun sing tak kenal sejak tahun 1993…….. Akhire masda sowan, curhat rupeke urip ( waktu iku durung kenal Gus Ali ), nasibe Guru memang kanggo sambatan muride.🤣 Cerita ngalor ngidul dan achirnya masda diperintah wiridan . “ Cung, iki wae woconen. Tapi kudu ajeg “ Beliau diam dan diam. “ Siap. Nopo Yi “wiridane………….Alhamdulillah dan luar biasa estu. Kerumpekan terurai dengan sendirinya( bersambung, mbuh kapan nek eling…….) Alhamdulillah hasile yo koyo saiki iki….. Membaca cerita ini di awal tahun, terasa jelas bahwa suasana hati guru sedang longgar, lega, dan penuh syukur. Bukan suasana euforia, tapi ketenangan orang yang pernah kusut, pernah buntu, lalu dituntun pelan-pelan oleh rutin yang sederhana. Dari cerita ini saya menangkap satu kerangka berpikir yang sangat dalam namun sering disepelekan: Hidup itu tidak selalu menunggu solusi besar. Kadang justru mulai beres saat kita patuh pada satu amalan kecil yang dijalani terus-menerus. Guru hadir bukan untuk menghilangkan masalah, tapi memberi pegangan agar murid tidak tercerai-berai saat hidup terasa “plongaplongo”. Wirid bukan alat sulap, tapi latihan ajeg agar batin pelan-pelan tertata, sampai kerumitan “mbedah dhewe” tanpa kita sadar kapan mulainya. Hasil akhirnya bukan sekadar keberhasilan lahiriah, melainkan ketenangan menerima hidup seperti sekarang ini, sambil tetap ingat bahwa semua bermula dari rutin. Maka saya memahami kenapa guru menutup dengan kalimat: “Alhamdulillah hasile yo koyo saiki iki.” Bukan sombong, bukan pamer, tapi pengakuan jujur bahwa hidup yang sekarang adalah buah dari kesetiaan kecil yang dulu dijalani tanpa banyak paham. Dan barangkali, itulah pesan awal tahun yang paling halus: 👉 ojo ngoyak sing rame, sing penting ajeg.

05 Jan 2026 • Admin

Penutupan Sementara Jamiyah Ashkhabiyyah: Isyarah Berkumpulnya Sanad, Riyadlah, dan Barokah

Tidak semua penutupan adalah akhir. Dalam tradisi ruhani, ada penutupan yang justru menjadi pintu pembuka—pembuka pemahaman, pembuka adab, dan pembuka barokah yang lebih dalam. Penutupan sementara Jamiyah Ashkhabiyyah bukanlah peristiwa kosong makna. Ia hadir sebagai waqaf ruhani, jeda yang disengaja agar langkah tidak melenceng, agar niat kembali diluruskan, dan agar majelis tetap berdiri di atas sanad dan adab, bukan sekadar semangat berkumpul. Asbāb Keluarnya Tulisan Ini Tulisan ini keluar bukan karena kehendak pribadi, bukan pula karena keinginan menonjolkan siapa pun. Ia lahir sebagai respon batin atas apa yang disampaikan guru kami, KH. Masda Andi, pada pagi 5 Januari 2026—saat beliau menuliskan dan menjabarkan profil para masyayikh yang insya Allah rawuh dalam majelis penutupan sementara Jamiyah Ashkhabiyyah. Bagi yang terbiasa memandang majelis dengan kacamata lahiriah, penjabaran profil tersebut mungkin terlihat sebagai informasi biasa. Namun bagi yang menjaga adab batin, penjelasan itu adalah isyarah. Isyarah bahwa: Majelis ini tidak berdiri tanpa akar. Jamiyah ini tidak berjalan tanpa sanad. Dan penutupan ini tidak terjadi tanpa kehendak langit. Maka tulisan ini hadir sebagai upaya memahami isyarah itu, agar tidak berlalu begitu saja tanpa direnungi. Isyarah di Balik Berkumpulnya Para Masyayikh Para masyayikh yang telah mengonfirmasi kehadiran bukanlah figur sembarangan. Mereka adalah mata rantai hidup dari sanad keilmuan, riyadlah, dan khidmah umat. Gus Kamaluddin Ismail Al-Hafidz – PonPes Nur Muhammad Wonoayu Tengah(gus kamal) Beliau hadir sebagai pewaris pondok yang berdiri sejak tahun 1291 H, pondok yang usianya lebih tua dari banyak pondok besar di Nusantara. Sanad keluarganya bukan sekadar nasab, tetapi nasab amal: Qur’an yang dijaga dengan hafalan dan pengorbanan Riyadlah puasa bertahun-tahun Wirid istiqamah yang melahirkan umur panjang dan keberkahan hidup Dalam tradisi ruhani, umur panjang para ulama bukan tujuan, tetapi buah dari istiqamah dan pengabdian tanpa henti. KH. Sahal Musyaffa – PonPes Roudlotus Salam Gresik Kh sahal musyaffa Beliau adalah cermin ulama khidmah: nyentrik tapi lurus, sederhana tapi dalam. Santri dari Simbah Yai Sahal Mahfudz Pati dan Mbah Maimun Zubair—dua figur yang dikenal menjaga ilmu dengan adab dan riyadlah. Santri gratis, hidup bersama santri, bekerja bersama santri. Inilah pesan yang tidak diucapkan, tapi dihidupkan: bahwa ilmu tidak ditinggikan dengan jarak, melainkan dengan pengorbanan dan keteladanan. Simbah Hasan – Sidoarjo Kanan (mbah hasan) Beliau adalah pengingat bahwa jalur ruhani tidak selalu kasat mata. Sebagai murid Sunan Lawu secara ruhani, kehadiran beliau menegaskan bahwa: Ilmu tidak selalu diwariskan lewat bangku dan kitab Ada ilmu yang turun melalui adab, khidmah, dan kesungguhan batin Ini adalah warisan lama para wali Nusantara. Makna “Bertabur Bintang” yang Sesungguhnya Bertabur bintang bukan berarti ramai nama besar. Dalam pandangan ruhani, bertabur bintang berarti: Berkumpulnya penjaga sanad Berkumpulnya pelaku riyadlah Berkumpulnya ulama yang hidup untuk umat, bukan dari umat Ketika orang-orang seperti ini rawuh dalam sebuah majelis penutupan, itu adalah isyarah kuat bahwa Jamiyah Ashkhabiyyah sedang dijaga—bukan hanya dari arah lahir, tetapi dari arah batin. Penutupan yang Menjadi Doa Maka penutupan sementara ini tidak kita pahami sebagai berhenti, tetapi sebagai: Penguatan niat Penjernihan arah Pengembalian jamiyah pada ruh awalnya: adab, dzikir, sanad, dan khidmah Semoga Allah menurunkan manfaat melalui kehadiran mereka, melalui doa-doa yang tidak terdengar, dan melalui barokah yang tidak selalu tampak. Nafa‘anallāhu bihim wa bi ‘ulumihim wa bi barokātihim. Aamiin.

04 Jan 2026 • Admin

Mengulas kembali dawuh kyai ali ashkhabi

Sabtu, 23 Agustus 2025 Kediaman Guru KH. Masda Andi Majelis Jamaah Ashkhabiyyah Ringkasan Majelis Pada Sabtu, 23 Agustus 2025, jamaah Ashkhabiyyah mengikuti majelis ilmu dan mau‘idhah ruhaniyah bersama Kyai Ali Ashkhab di kediaman Guru KH. Masda Andi. Majelis berlangsung dengan khidmat dan penuh adab, membahas perjalanan ruhani seorang hamba dalam bingkai syariat, thariqah, haqiqat, dan ma‘rifat. Dawuh Kyai Ali Ashkhab Dalam penyampaiannya, Kyai Ali Ashkhab mendawuhkan: “Syariat, thoriqoh, hakikat dan makrifat bagaikan bahan makanan, memasak hidangan, hidangan makanan siap disajikan, dan rasa makanan. Tetapi bagaimana kita menyiapkan bahan, cara memasak bahan, cara menghidangkan, dan rasa akan hidangan.” Dawuh ini disampaikan sebagai pengingat bahwa perjalanan ruhani tidak cukup dipahami secara istilah, tetapi harus dijalani dengan benar, tertib, dan beradab. Makna Dawuh (Ringkas) Syariat Diibaratkan sebagai bahan makanan. Ia adalah dasar yang harus ada dan benar: ibadah, adab, serta menjaga halal dan haram. Thariqah Diibaratkan sebagai cara memasak bahan. Proses ini memerlukan bimbingan guru, istiqamah, dan kesabaran agar tidak menyimpang. Haqiqat Diibaratkan sebagai hidangan yang telah matang. Amal ibadah mulai menghadirkan kesadaran dan makna. Ma‘rifat Diibaratkan sebagai rasa dari hidangan. Tidak tampak dan tidak dipamerkan, tetapi terasa manfaatnya dan tercermin dalam akhlak. Hikmah Majelis Majelis ini menegaskan bahwa: tidak benar berbicara rasa tanpa menjaga syariat, dan tidak cukup menjaga lahir tanpa memperbaiki batin. Jalan yang lurus adalah menyatukan syariat, thariqah, haqiqat, dan ma‘rifat dalam satu perjalanan yang seimbang dan penuh adab. Penutup Semoga dawuh Kyai Ali Ashkhab menjadi wasilah kebaikan, memperkuat istiqamah jamaah Ashkhabiyyah, dan membawa keberkahan bagi siapa pun yang membaca serta mengamalkannya.

Menampilkan halaman 2 dari 5 (Total 43 data)