WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

02 Jan 2026 • Admin

Perkembangan teknologi Ai dan adab ilmu oleh KH masda andi

Jumat siang itu, salah satu jamaah membagikan sebuah video AI berisi doa sholawat ummi. Secara makna, pesan yang disampaikan memang baik. Namun pelafalan yang dihasilkan oleh AI terdengar kurang tepat, terutama pada makhārijul ḥurūf. Hal tersebut langsung mendapat perhatian dan teguran dari guru kami. Teguran yang bukan sekadar kritik teknis, tetapi peringatan serius tentang bahaya spiritual jika hal seperti ini diviralkan dan diamalkan tanpa ilmu. Guru kami dawuh: “ucapan gak bener ojo di viralno bahaya, mergo goegle gak pernah belajar makhorijul huruf, iku nek diamalno wong awam ucapane ngunu iso ngrusak akidah, bahayyyyya……iso gak di akui ummate Njeng Nabi” Teguran itu menohok, bukan untuk menjatuhkan teknologi, tetapi untuk menjaga kemurnian adab dalam beragama. Karena dalam Islam, lafal bukan sekadar bunyi, melainkan amanah makna dan aqidah. Kemudian beliau menutup dengan doa dan dawuh yang sangat dalam maknanya: “MENUNGSO MEMANG AKEH RENCANANE TAPI SAYANG KURANGAN DANA TERUS OPO ARTINE AKEH RENCANANE TAPI GAK DUWE DANA BECIKLAH GAK DUWE RENCANA TAPI DANA NE TURAH2…. ALLOHUMMA YA ROBBANA CUKUPONO,LUBERONO LAA ILAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH.” (Refleksi Pribadi) 1. AI Tidak Punya Sanad AI belajar dari data, bukan dari guru. Ia mengenal teks, tetapi tidak mengenal adab, tidak punya sanad keilmuan, dan tidak pernah duduk di hadapan mursyid untuk belajar makhraj, sifat huruf, atau ruh sebuah doa. Dalam perkara doa dan sholawat, kesalahan satu huruf bisa menggeser makna, bahkan berpotensi merusak aqidah jika diamalkan terus-menerus oleh orang awam. 2. Masalahnya Bukan Teknologi, Tapi Viral Tanpa Ilmu Guru tidak melarang teknologi secara mutlak. Yang beliau ingatkan adalah “ojo di viralno” — jangan diviralkan sesuatu yang belum benar secara ilmu. Karena viral itu punya daya rusak: Orang awam mengamalkan tanpa tahu Salah ucap dianggap biasa Lama-lama yang salah terasa benar 3. Agama Ini Dijaga dengan Lisan yang Benar Islam bukan hanya niat baik, tetapi juga ucapan yang lurus. Makhorijul huruf adalah bagian dari amanah risalah Nabi ﷺ. Jika lisan rusak, dzikir rusak. Jika dzikir rusak, rasa rusak. Jika rasa rusak, arah hidup ikut rusak. 4. Penutup Guru: Tentang Rencana dan Kecukupan Dawuh terakhir guru sebenarnya menampar kesombongan manusia modern: Banyak rencana Banyak konsep Banyak teknologi tapi lupa cukup dan luber dari Allah Lebih baik: sedikit rencana tapi ditopang kecukupan dari Allah daripada banyak rencana tapi kosong dari pertolongan-Nya Doa beliau bukan sekadar ekonomi, tapi tauhid ketergantungan: cukupono, luberono cukupkan iman kami, limpahkan berkah-Mu dalam naungan LAA ILAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH Penutup Tulisan ini bukan untuk menolak zaman, tetapi untuk menjaga adab di tengah kemajuan. Karena tidak semua yang canggih itu selamat, dan tidak semua yang viral itu benar. Ilmu tetap harus bersanad. Dzikir tetap harus beradab. Dan lisan tetap harus dijaga.

02 Jan 2026 • Admin

Jum’at Awal Kalender Rutinan 2026

Tentang Islam, Persaudaraan, dan Ujian Jalan Batin Jum’at sering dipahami sebagai hari mulia. Namun lebih dari itu, Jum’at adalah penanda komitmen. Di awal kalender rutinan tahun 2026, pesan guru kami, KH. Masda Andi, hadir sebagai pengingat arah: bahwa kebesaran Islam tidak lahir dari kesalehan yang terputus dari kemanusiaan, dan bahwa perjalanan ruhani bukan panggung untuk merasa lebih suci. Beliau dawuh: “Islam iso gede ora sebab poso dalail terus, qiyamul lail terus. Ngono iku ora nguntungke Islam blassss, paling banter awak dewe terkenal wali ae….😆😆😆🤣🫢🥹. Tapi sing nguntungke Islam iku ketika hati kita berkomitmen untuk menjalin kesinambungan persaudaraan/ashkhabiyyah sesama Muslim mbuh alim, mbuh preman,mbuh pedotan,mbuh penduso kuabeh kudu di konconi nggih..ojo pilih pilih…..bukan hanya sesama anggota jam’iyyah tok. eling elingen iki Pendaftaran wali Allah saiki sepi🤣🫢, mergo menungso saiki sibuk mencari cintanya makhluk. dudu cinta Tuhannya” Kutipan ini menampar kesadaran kita: Islam tidak tumbuh besar hanya karena banyaknya orang yang rajin riyadlah pribadi. Islam tumbuh ketika hati-hati kaum Muslim saling terhubung, saling menguatkan, saling menanggung, tanpa syarat status moral, kelompok, atau citra kesalehan. Ashkhabiyyah—persaudaraan sejati—tidak memilih-milih. Bukan hanya sesama jamaah, bukan hanya yang tampak alim, tapi semua yang masih bersyahadat: yang jatuh, yang salah, yang belum sampai, tetap harus dirangkul. Lalu beliau melanjutkan dengan peringatan yang jauh lebih dalam, khusus bagi para penempuh jalan batin: “Maka….Wahai Saudaraku/ashkhabiii penempuh jalan rahasia, Ketahuilah, terbukanya telinga batin (kasyaf) adalah ujian amanah, bukan lencana kemuliaan. Barangsiapa yang Allah izinkan mendengar kabar yang jauh, maka wajib baginya memiliki hati seluas lautan untuk mengubur aib sesama, bukan menyebarkannya. Jangan sampai keasyikane awak dewe mendengar suara makhluk membuat hatine awak dewe tuli dari panggilan Tuhanmu. Jika awak dewe mendengar pujian, takutlah pada Istidraj. Jika awk deweu mendengar rahasia buruk, tutuplah dengan Doa. Ingatlah satu kaidah ini: “Carilah Sang Pemilik Suara (Allah), jangan terhenti hanya pada suara-Nya.” Ini adalah kaidah besar dalam tasawuf: kasyaf bukan tujuan, tapi cobaan. Mendengar yang tidak didengar orang lain bukan tanda kemuliaan, melainkan beban amanah. Semakin terbuka batin seseorang, semakin besar kewajibannya untuk: menutup aib, bukan membuka, berdoa, bukan menghakimi, takut pada istidraj ketika dipuji, dan semakin rendah hati dalam diam. Bahaya terbesar bagi penempuh jalan rahasia bukan maksiat lahir, tapi terhenti pada pengalaman, sibuk dengan suara, isyarat, atau bisikan, hingga lupa mencari Pemilik Suara itu sendiri. Karena itu, pesan ini sejatinya bukan hanya untuk para salik, tapi untuk siapa pun yang mengaku berjalan menuju Allah: jangan sampai kesibukan spiritual justru membuat kita tuli terhadap panggilan Tuhan yang paling dasar—yaitu menjaga hati, persaudaraan, dan adab. Semoga Jum’at ini, dan kalender rutinan yang kita mulai di tahun 2026, bukan hanya mencatat amalan, tapi juga memperbaiki arah. Wallahu a‘lam.

01 Jan 2026 • Admin

Ruh kalam guru maskipun hanya tulisan medsos

kalam seorang guru bukan sekadar rangkaian huruf, tetapi nafas ruhani yang dibungkus tulisan. Walau ia hanya berupa status singkat di media sosial, atau kalimat sederhana di dalam grup, ruh ilmu tetap menyertainya. Sebab guru tidak menulis dari kehendak nafsu, melainkan dari izin dan sebab. Setiap kalamnya lahir membawa niat, hikmah, dan arah—meski tidak semua murid langsung memahaminya. Orang awam membaca tulisan guru dengan mata. Murid membaca dengan akal. Ahli suluk membaca dengan hati. Kadang satu kalimat terasa biasa hari ini, namun kelak—saat hati dibuka Allah—maknanya menjelma menjadi petunjuk. Karena ilmu sejati tidak selalu turun lewat lisan, tetapi sering dititipkan dalam isyarat. Guru menulis bukan untuk dipuji, bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk mengetuk pintu kesadaran. Siapa yang membaca dengan adab, akan menerima sesuai wadahnya. Siapa yang meremehkan, ia hanya melihat huruf, bukan cahaya. dikatakan: “Al-kalāmu ṣūratun, wa r-rūḥu ma‘nāhā.” Kalam itu bentuk, ruhnya adalah makna. Maka jangan meremehkan tulisan guru, sekecil apa pun. Bisa jadi di dalamnya tersembunyi doa, peringatan, atau panggilan pulang—yang hanya terdengar oleh hati yang siap. Wallāhu a‘lam. Jalan yang sedang kau tapaki ini bukan jalan biasa. Ini adalah jalan orang-orang yang berani, bukan berani berkelahi, tetapi berani kehilangan segalanya demi Allah. Para sahabat utama Nabi ﷺ — Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali — mereka bukan orang yang nyaman hidupnya. Mereka adalah orang yang siap menyerahkan harta, kehormatan, bahkan nyawa, agar Islam tetap tegak. Maka bila hatimu masih ingin aman, ingin dipuji, ingin selalu menang, lebih baik berhenti dengan jujur. Karena di jalan ini, orang yang setengah-setengah pasti akan jatuh. Jalan ini sudah lama. Ia dilalui oleh air mata para Nabi, dibasahi oleh darah para syuhada, dan akan terus seperti itu sampai akhir zaman. Bukan jalan pesta, tetapi jalan pengorbanan dan kesabaran. Namun jika engkau menyiapkan mentalmu, jika engkau siap sakit, diuji, disalahpahami, maka berjalanlah. InsyaAllah, dengan izin-Nya, aku akan menuntunmu agar selamat sampai kepada Allah, bukan sampai kepada manusia. Anakku… Jangan sibuk memerangi syaitan di luar dirimu. Karena musuh terdekatmu bukan di luar, tetapi di dalam hatimu sendiri. Kalahkan dulu: nafsu ingin dipuji rasa paling benar kemarahan kesombongan halus dan keinginan menguasai Jika syaitan di dalam dirimu telah kau tundukkan, maka syaitan di luar akan kehilangan pegangan. Anakku… Suatu hari kelak, engkau akan memahami: syaitan diciptakan bukan semata untuk menyesatkan, tetapi untuk melatih kewaspadaan dan menguatkan langkah para pencari kebenaran. Ia adalah lawan tandingmu, bukan tujuanmu. Ketika engkau telah benar-benar tertambat kepada Allah, syaitan tak lagi punya jalan. Sebab saat itu, yang ada hanya Dia, bukan aku, bukan engkau. Anakku… Akan datang masa ketika Allah sendiri yang mengujimu. Seperti kisah para ahli ibadah terdahulu, yang ditinggikan maqamnya lalu diberi pilihan kemuliaan. Jika ujian itu datang kepadamu, jangan meminta apa pun. Serahkan segalanya kepada-Nya. Sebab pada titik itu, meminta berarti memilih, dan memilih berarti turun dari penyerahan total. Keselamatanmu ada pada diam, ridha, dan pasrah penuh. Para Guru kita mengajarkan bahwa doa tertinggi adalah “Engkau yang ku maksud dan redha-Mu yang aku cari.” Maqam tertinggi itu tidak lain adalah menjadi Hamba yang baik. Anakku…. Jalan menuju syurga itu penuh duri dan air mata. Apakah kita harus mengalami sakit? Ya Apakah perlu menjalani derita? Ya Apakah harus mengalirkan airmata? Ya Dan hanya airmata orang Zikirullah yang boleh memadamkan neraka. Kalau engkau masih merasakan sakit, susah, kecewa dan tersinggung maka sebenarnya engkau masih lemah. Jalanilah semua cubaan Allah dengan sabar dan tawakal. Disaat semua penderitaan dan kesusahan yang menimpa tidak mempengaruhi anda sedikitpun, maka disaat itulah engkau telah mengalami pencerahan dan engkau telah menjadi manusia kuat dalam erti yang sebenarnya. Bukankah Rasulullah telah mengingatkan kita melalui sabdanya: “Orang kuat bukanlah orang yang mengalahkan musuh di medan pertempuran akan tetapi orang yang boleh menahan marah disaat dia marah.” Maka, jangan pernah kepercayaanmu kepada Allah lebih kecil daripada kepercayaanmu kepada manusia. Jika kepada tukang cukur saja engkau pasrahkan kepalamu tanpa curiga, mengapa kepada Allah engkau masih ragu terhadap takdir dan ketetapan-Nya? Husnudzonmu kepada Allah harus paling besar, karena Dia tidak pernah salah menata hidup hamba-Nya.

01 Jan 2026 • Admin

NGGANDOLO: Wong Selamet Ora Mlaku Dewe

Bismillāhirraḥmānirraḥīm Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh. Tulisan niki kulo aturake minangka cathetan dawuh lan pitutur sing jeru sanget saking guru kulo, KH Masda Andi. Mugi saged dados pangeling-eling tumrap kulo pribadi lan sedaya sing maos, bilih dalan kabecikan lan keshalihan punika boten nate mandiri, nanging tansah butuh gandolan, sanad, lan sandaran sing leres. Dawuhipun: Tak bocori titik ae yo Mbah…iki tenan Mbah…. Tak judul merawat sanad menguatkan ummat kuwi “NGGANDOLO” Kelas awak dewe iku yo nggandolllllll….tur golek gandolan iku yo sing nggenah ben gaj ceblok, umpomone kok ceblok iku mergo awak dewe kakean pola, gak manut garo sing nggendong. Ngene…… Ketika Alloh disebutke minimal 3 sifat, misale nang s. FATIHAH, Alloh disifati ARROHMAN NIROHIM ROBBIL ALAMIN MALIKIYYAUMIDDIN La nek wis ndungo kudu duwe cantelan, gandolan, sandaran opo iku “SHIROTHOLLADZINA….” dadi awak dewe iki ora iso dadi wong apik mergo awak dewe, apike awak dewe iku mesti kudu nyantel, nyandar nang Nabi, Wali seng sak durunge awak dewe. APIK IKU BUTUH SANAD, kudu nginduk ndukure….. faham kah…. Lanjutan……. Makane Qur’an nek nyebut wong apik iku “fa ulaika ma aladzina an‘amallohu ‘alaihim minanabiyyina….” (An-Nisa 69). La wong apik iku sopo???? Yo wong sing gelem nangkep hidayah. La wong sing gelem nangkep hidayah iku sopo????? Yo wong sing enek sanad e. Imam Abul Hasan Asy-Syadzili dawuh: “Awakmu iku sholehe gak ngarah sempurno,” mulane Alloh ngendikan: “Yā ayyuhalladzīna āmanū ittaqullāha wa kūnū ma‘ash-ṣādiqīn” (At-Taubah 119) Mergo awak dewe bener tenan iku gak iso, isone yo melok bergabung. Kuwi kudu nggandol wong sing bener, dudu nggandol wong sing gak bener. Makane redaksi Qur’an “wa kūnū ma‘ash-ṣādiqīn” nggawe lafadz “MA‘A”, ora nggawe lafadz “MIN”. Lapo nek Nabi nggawe MIN, kok awak dewe nggawe MA‘A? Sebab Nabi benere temenan, lah nek awak dewe ora mesti. Makane iaone melok gabung, nggandol, makane nggawe “MA‘A”. Sopo sing bener??? Iku wong sing thoat marang Alloh yo Nabi. An-Nisa 69 iki ono hubungan karo Ali Imran 31 sing wingine. Wong sing bener kuwi wong sing thoat marang Alloh lan Nabi. Makane nek pengin duwe ADAB, maqome awak dewe iku bergabung, nggandol, gonceng “MA‘A”. Intine awak dewe iku maqome “NDEREK MAWON.” Kesimpulan: Nek gak iso MIN, yo kudu MA‘A. Nek angel dadi wong sholeh, yo gabungo karo wong-wong sholeh. Lah nek wis faham iki, maka awak dewe kudu tawadlu‘, sebab apik e awake dewe iku yo BAROKAHE wong-wong SHOLEH sing ndisik-ndisik, ora sebab awake dewe iki. Dadi ojo GR AB. Kabeh iku FADLU MINALLĀH. WIS MANGGONO NANG QOF YO OJO NANG NUN. Semoga manfaat. Panutup: Mugi dawuh niki saged dados pituduh tumrap kita sedaya, ngelingake bilih maqom kita punika dudu ngadeg piyambakan, nanging nderek, nggandol, lan nyandhak marang sanad kabecikan para Nabi, para wali, lan wong-wong sholeh. Mugi Allah tansah maringi adab, tawadlu‘, lan istiqomah, lan nglumpukake kita ma‘ash-ṣādiqīn, boten mung min-min. Maturnuwun sanget Mbah. 🙏 Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

31 Dec 2025 • Admin

Puncak Makrifat: Istiqomah dalam Syariat, Bukan Karomah

Malam Rabu, sebuah pesan ruhani. Puncak makrifat bukanlah terletak pada karomah, bukan pula pada kemampuan luar biasa atau klaim fanābillāh. Puncak makrifat sejati justru tampak pada istiqomah menjalankan syariat dengan kualitas yang tinggi, dalam maqām baqā’ billāh. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani—yang dikenal sebagai penghulu para wali—adalah contoh nyata. Beliau dikenal memiliki banyak karomah: mampu terbang di udara, berjalan di atas air, bahkan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Namun, semua itu tidak pernah beliau jadikan tujuan, apalagi bahan pamer. Beliau memilih berjalan di bumi dengan adab, tunduk penuh pada syariat. Beliau mengenal hakikat, tetapi tidak pernah menanggalkan syariat. Sebab, orang yang benar-benar mengenal Allah bukan sibuk menunjukkan keistimewaan, melainkan takut jika satu perintah Allah terlalaikan. Makrifat tidak menjauhkan seseorang dari syariat. Sebaliknya, makrifat justru menguatkan dan memperhalus ketaatan. Semakin tinggi pengenalan kepada Allah, semakin halus pula sikap kehambaan. Karomah bisa saja muncul pada siapa pun, bahkan pada orang yang belum lurus jalan hidupnya. Namun istiqomah dalam syariat hanya lahir dari hati yang benar-benar mengenal Allah. Di situlah rahasia para wali: bukan menghilang sebagai manusia, tetapi utuh sebagai hamba. Utuh sebagai hamba. Utuh sebagai hamba. Utuh sebagai hamba. (Ali ‘Imran: 31) Waspada terhadap Klaim Hakikat tanpa Syariat Jika ada seseorang yang melarang atau meremehkan syariat—meskipun ia tampak sakti, mandraguna, mengaku sudah sampai hakikat, bisa terbang atau berjalan di atas air—maka jangan diikuti. Itu adalah manusia yang tertipu. Begitulah pesan terakhir dari guru kami. Semoga menjadi pengingat bagi kita semua. Tinggal di Qāf, Jangan Terjebak di Nūn “Manggono nang Qāf yo cung, ojo manggon nang Nūn,” tinggallah di Qāf, jangan berhenti di Nūn. Maknanya: jangan terjebak pada simbol, sensasi, dan keanehan lahiriah. Jika hati sudah tegak di Qāf—kokoh dalam tauhid dan syariat—maka dunia akan terasa ringan untuk dihadapi. “Nggih Mbah, pangestune.” Alam Adalah Pondok Alhamdulillah, ada ilmu yang tidak pernah kami dapatkan secara formal di pesantren, namun justru kami temukan dalam perjalanan hidup. Pondok itu bukan semata bangunan berpagar, bukan hanya masjid, bukan hanya orang bersarung, berkopiah, dan membawa kitab kuning. Alam ini adalah pondok. Setiap kejadian adalah pelajaran. Setiap nafas adalah pengajian. “Nggih Mbah.” Pesan ruhani dari guru kami KH. Masda Andi 31 Desember 2025

22 Dec 2025 • Admin

Malam minggu dengan tamu membawa pesan ruhani

Malam Minggu bersejarah, menyambut datangnya bulan ROJAB (nanti malam / Malam Senin). Kerawuhan tamu sepuh yang tidak saya kenal. Beliau berpesan: “Sing tak bagekno nang jamaah iki ae. Sing gelem ngamalno yo. Kanggo niati opo ae wis, sing penting apik niate. Gak kudu dagangan.” Kemudian saya memberanikan diri matur: + “Mbah, nyuwun wiridan kersane urusan ndunyone digawe gampang.” ~ “Bismillah.. bondo bati.” Saya kaget, lalu bertanya lagi: + “Cuman niku ta Mbah?” ~ “Yo.” Masih belum yakin, saya lanjutkan: + “Diwaos ping pinten Mbah?” ~ “Pisan ae.” (Aku mlongo. Uenak iki.) Lalu saya bertanya kembali: + “Bakda sholat nopo Mbah?” ~ “Ora.” Saya semakin bingung dan agak gemetar, intonasi Mbah mulai berbeda: ~ “Nalikane awakmu ngetokne shodaqoh, ngucapo: ‘BISMILLAH BONDO BATI’.” Saya menjawab dengan penuh pasrah: + “Nggih Mbah, qobiltu.” Beliau pun pamit: “Wis, tak mulih aku.” Saat saya melihat jam, tidak terasa sudah menunjukkan tengah tiga malam. 😭🤲 Ajastukum jami‘a. Barokallohu fikum. Penutup Refleksi Ruhani Kadang Allah mengirim pelajaran bukan lewat kitab tebal atau majelis besar, melainkan lewat kalimat singkat dari seorang sepuh yang hadir sebentar, lalu pergi tanpa meninggalkan nama. Bismillah bondo bati — sederhana di lisan, tetapi dalam maknanya: segala urusan dunia dikembalikan pada adab batin, niat yang lurus, dan sedekah yang ikhlas. Bukan soal banyaknya wirid, bukan soal waktu khusus, bukan pula soal hitungan — tetapi soal saat hati rela melepas, di situlah pintu dilapangkan. Rajab adalah bulan membuka pintu. Membuka niat, membuka adab, membuka keikhlasan. Dan siapa tahu, lewat sedekah yang kita kira kecil, Allah menurunkan bondo yang membawa bati — cukup, berkah, lan manfaat. Mugi-mugi Allah paring manfaat, lan sedaya niat ingkang sae diparingi dalan ingkang gampang. Wallahu a‘lam. Barokallohu fikum.

21 Dec 2025 • Admin

Eling lan Waspada Ing Lelaku Istighotsah 41 Malam

Tulisan ini saya catat sebagai pengingat bagi diri saya pribadi, sekaligus amanah dawuh dari guru. Khususnya bagi siapa saja yang sedang atau akan menjalani lelaku istighotsah 41 malam, agar tidak salah niat dan tidak keliru arah dalam menempuh jalan ruhani. Ini adalah nasihat langsung dari guru saya, KH Masda Andi, yang saya tuliskan kembali apa adanya, tanpa menambah dan tanpa mengurangi, semoga menjadi wasilah keselamatan niat dan kejernihan hati dalam beramal. “Tak eling no…..khusus sing bade ngamal istighotsah 41 malam nggih…… Ingat-ingatlah, ketika dalam lelaku/wirid/riyadloh awak dewe kok hanya mengincar suatu kekuatan gaib atau bisa menjadi super full karomah, maka awak dewe iki saat itu sedang salah arah, yang kita tuju malah ilmu, bukan Pemilik ilmu. Keadaan kita bisa diumpamakan orang yang hendak mengawini seorang wanita, tetapi yang kita incar untuk merampok hartanya. Waspadalah……. itu pikiran dari tipudaya setan.Maka jangan pedulikan apapun yang kita lihat/kita rasakan…apalagi sampai kita bangga diri…..kalau ini terjadi bukannya hijab kebuka tapi malah tambah tebal hijabnya.teruskan dzikir, jangan hiraukan semua itu.” Penutupan Semoga dawuh ini benar-benar menjadi cermin untuk diri sendiri, bukan untuk menilai orang lain. Karena dalam perjalanan batin, yang paling berbahaya bukan gelapnya jalan, tetapi merasa sudah sampai. Mugi Allah paring istiqamah, paring selamet niat, lan njaga ati kita sedaya, supaya yang kita tuju bukanlah pengalaman, bukanlah keistimewaan, namun ridho lan kehadiran Gusti Allah piyambak. Wallāhu a‘lam.

16 Oct 2025 • Admin

Pesan ghoib “tahun peti”

Pada tanggal 16 Oktober 2025, guru saya KH. Masda Andi menuliskan sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesan ini saya catat dan saya tulis kembali di blog ini sebagaimana adanya, sebagai pengingat diri pribadi dan siapa saja yang membacanya. Saya tidak menafsirkan, tidak menambah, dan tidak mengurangi isi pesan tersebut, karena ini adalah wejangan yang disampaikan apa adanya. Berikut isi pesan beliau: “Tahun iki tahun peti… Bakal akeh wong mati kerono ilmu hitam….. Tali pocong diudari… Tahun iki akeh wong dilebokne peti… Tahun rogo peti….. Niki pesene Mbahe, ayo podo sing ngati2 tur siap2….” Penutupan Tulisan ini saya simpan sebagai pengingat dan perenungan, bukan untuk menakut-nakuti, apalagi menghakimi. Setiap pesan dari guru dan para sepuh memiliki ruang hikmah yang hanya bisa dipahami oleh masing-masing hati. Semoga siapa pun yang membaca dapat mengambil sikap lebih waspada, lebih eling, dan lebih siap lahir batin, serta tetap berlindung kepada Allah SWT dalam setiap keadaan. Wallāhu a‘lam.

13 Oct 2025 • Admin

Pak Khurofat dan Asbabul Wurude

Kadang hidup penuh dengan hal-hal yang terdengar absurd, tapi justru di situlah kita bisa belajar makna yang lebih dalam. Baru-baru ini, aku dikejutkan dengan istilah “khurofat” yang tiba-tiba viral di media sosial. Awalnya kupikir ini cuma kata-kata lucu atau iseng, tapi ternyata ada cerita menarik di baliknya. Isi: Tak duduhi yo, percoyo kene gak yo gak duso… 🤣🤭 Ternyata kata-kata “khurofat” sing saiki viral… titik-titik ngomong cerito khurofat… khurofat kuwi… Eeeehhh… jebule khurofat iku jenenge wong, dadi yo Pak Khurofat… loh, iki temen loh, gak guyon… ilmu iki… ono asbabul wurude… Nah, aku njaluk tulung Abah Ust. Adi, monggo dikupas aken asbabul wurude Pak Khurofat niku… 🙏 RINDU TIDAK DICIPTAKAN OLEH JARAK TETAPI OLEH PERASAAN. KITA MERINDUKANNYA BUKAN KARENA IA JAUH, NAMUN KARENA IA TELAH ADA DI HATI KITA. Betulkan, Cak Agus… 🤣 Penutup: Kadang hal-hal yang terlihat lucu atau kebetulan, seperti Pak Khurofat ini, justru mengingatkan kita pada hal yang lebih dalam: rasa, hati, dan makna. Jadi jangan remehkan setiap cerita, karena di balik tawa bisa tersimpan hikmah yang bikin kita tersadar.

Menampilkan halaman 3 dari 5 (Total 43 data)