WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

26 Apr 2026 • Admin

Dalam suasana penuh adab, tawadhu’, dan khidmah murid kepada guru, tam...

Dalam suasana penuh adab, tawadhu’, dan khidmah murid kepada guru, tampak rombongan Jamiyyah Al-Ashkhabiyyah Dempok yang dipimpin KH Masda Andi sowan ke Serayu, Malang Jawa Timur, untuk menjenguk Ndoro Habib Hasan BSA yang sedang dalam keadaan sakit. Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan wujud mahabbah, bakti, dan sambung rasa seorang murid kepada guru—menguatkan dengan doa, menghadirkan kasih, serta menjaga tali ruhani yang telah lama tersambung dalam perjuangan Jamiyyah Ashkhabiyyah dan amaliyah Dalailul Khoirod. Di majelis yang sederhana namun sarat keberkahan itu, tergambar jelas bahwa adab bukan hanya saat menerima ilmu, tetapi juga saat membersamai guru dalam ujian dan sakitnya. Sebab khidmah sejati adalah hadir, mendoakan, dan membersamai dengan hati yang tulus. Alhamdulillah, kabar yang menyejukkan turut menyertai: kondisi beliau berangsur-angsur membaik. Semoga Allah SWT segera mengangkat sakit beliau, melimpahkan sehat, kekuatan, serta memanjangkan umur dalam keberkahan dan manfaat bagi umat. “Adab murid bukan hanya duduk mendengar nasihat guru, tetapi juga hadir mendoakan ketika guru sedang diuji.” Semoga Jamiyyah Al-Ashkhabiyyah senantiasa dijaga dalam istiqamah, persaudaraan, dan keberkahan sanad mahabbah kepada para masyayikh hingga Rasulullah SAW.

22 Apr 2026 • Admin

Semua Yang Diposting di Aplikasi dan Website Al-Ashkhabiyyah, Bersifat...

Semua Yang Diposting di Aplikasi dan Website Al-Ashkhabiyyah, Bersifat INTERNAL organisasi, tidak diperkenankan menyebar isi tanpa IZIN, -Semua Hal yang ada diaplikasi dan web sepenuhnya kepemilikan Organisasi Jamiyyah Al-Ashkhabiyyah -Hal yang mengenai pengamalan atau amaliah lain, dimohon agar meminta sanad dari abah masda andi secara langsung Prihal adanya sarana digitalisasi, baik web maupun aplikasi ada karena memudahkan anggota baru dalam mengejar materi pengajian. sebagai rujukan yang bersanad dalam beribadah

21 Apr 2026 • Admin

Rahasia Doa & Hakikatnya

Rahasia Doa Para Salik Ashkhabiyyah: Ketika Permohonan Menjadi Gelombang Cahaya (Risalah Ruhani Jalan Ashkhabiyyah tentang Hakikat Doa) Wahai anak suluk,ketahuilah… doa itu bukan sekadar rangkaian kata yang keluar dari lisan,melainkan getaran rasa yang memancar dari dalam hati. Namun jangan salah memahami—jalan ini bukan meninggalkan doa dengan lisan,bukan pula meninggalkan syariat. Seorang salik tetap berdoa, tetap sholat, tetap mengikuti sunnah,tetapi batinnya tidak lagi menuntut,tidak lagi memaksa kehendak kepada Allah. Karena hakikat doa bukan pada banyaknya kata,melainkan pada hadirnya hati di hadapan-Nya. Ketika seorang salik bersungguh-sungguh dalam dzikir,maka doa tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang harus diucapkan,melainkan hadir dengan sendirinya… Seperti bunga yang mekar tanpa diperintah,karena memang sudah tiba musimnya. Doa yang hanya lahir dari akal dan lisan,baru menyentuh langit dunia. Namun doa yang lahir dari rasa yang hidup,itulah yang menembus ke hadirat Allah. Di maqam ini, doa bukan sekadar permintaan,melainkan kesadaran mendalam: bahwa segala sesuatu telah berada dalam genggaman Allah. Ketika engkau berkata:“Ya Allah, kabulkanlah…”maka sejatinya engkau sedang mengakuibahwa Allah Maha Mengetahui sebelum engkau meminta. Dan ketika hatimu mulai berhenti menagih,tidak lagi memaksa hasil, di situlah rahasia mulai terbuka—bahwa Allah bekerja dalam diam,dalam pasrah,dalam hati yang rela menerima. Ingatlah, wahai para salik Ashkhabiyyah…orang yang mulai matang dalam rasa,tidak lagi sibuk mengatur Allah harus berbuat apa. Mereka hanya hadir,membuka diri,menjadi wadah bagi kehendak Ilahi. Doa mereka tidak lagi:“Ya Allah, berikan aku ini…” tetapi berubah menjadi:“Ya Allah, tampakkan kehendak-Mu dalam hidupku.” Di sinilah makna dari pesan guru kita: “.” Maksudnya bukan tidak berdoa,bukan pula meninggalkan permohonan, tetapi tidak menuntut dengan ego. Karena seorang salik memahami,yang ia butuhkan bukan sekadar apa yang ia inginkan,melainkan apa yang mendekatkannya kepada Allah. Dan seringkali,yang Allah berikan itu bukan yang diminta,tetapi yang paling dibutuhkan oleh ruhnya. Bagi para salik,keterlambatan terkabulnya doa bukanlah penolakan, melainkan proses penjernihan hati,agar yang turun nanti bukan sekadar keinginan,tetapi kebaikan yang lebih dalam dan hakiki. Doa yang sejati kadang bukan suara…melainkan keheningan. Saat hati bersujud tanpa kata,rasa menyatu dalam cahaya kehidupan dari Allah,dan seluruh diri ikut bertasbih tanpa dipaksa. Namun ingat—keheningan ini bukan alasan untuk meninggalkan ibadah lahir,melainkan buah dari ibadah yang dijalani dengan istiqamah. Pada maqam ini, hati tidak lagi berkata:“Ya Allah, kabulkan keinginanku…” melainkan berubah lembut menjadi:“Ya Allah, jadikan aku bagian dari kehendak-Mu.” Inilah maqam doa dalam jalan Ashkhabiyyah: setiap nafas menjadi dzikir,setiap kedipan mata menjadi permohonan,setiap detak jantung menjadi tasbih. Mereka tetap berharap surga,dan tetap takut neraka dalam syariat, namun dalam batin,cinta kepada Allah lebih mendominasidaripada sekadar harap dan takut. Maka jika engkau berdoa…berdoalah dengan sungguh-sungguh, namun jangan menagih,jangan memaksa hasil. Berdoalah… lalu serahkan. Karena yang sebenarnya engkau caribukan sekadar terkabulnya permintaan,melainkan terbukanya hijab antara engkau dan Allah. Dan ketika hijab itu mulai tersingkap,engkau tidak lagi berdoa hanya dengan kata-kata, tetapi dengan rasa,dengan cahaya,dengan cinta yang hening— yang hanya dimengerti oleh Allahdan para kekasih-Nya.

20 Apr 2026 • Admin

RUANGAN TUBUH(Menelusuri Ruang Batin dalam Diri)

BismillahirrahmanirrahimShollallahu ‘ala Sayyidina Muhammad Catatan kecil seorang murid, sekadar pepiling untuk diri sendiri. Ditulis untuk mengingatkan, bukan untuk merasa sudah sampai, dibuat karena teman pengamal dzikir samaniah sering dibingungkan dengan cahaya atau lain hal yang datang setalah dzikir, Ruangan 1 – Awal Memasuki DiriDi dalam tubuhmu terdapat susunan halus yang saling terhubung, seperti tenunan sutra yang rapi dan indah.Itulah gambaran dirimu yang sebenarnya. Jika engkau ingin memasukinya, masuklah dengan sungguh-sungguh.Dan jika belum mampu, belajarlah kepada orang yang telah lebih dulu mengenalnya. Ruangan 2 – Keyakinan AwalBagaimana melihat ruangan batin dalam tubuh?Apakah itu nyata atau hanya khayalan? Wahai pencari jalan ashkhabiyyah, ketahuilah:segala “perabot” dalam dirimu telah tersusun rapi,seperti merak yang membuka bulunya — indah, tapi hanya tampak bagi yang mau melihat. Ruangan 3 – Terbukanya Nur TauhidEngkau akan mulai melihat,ketika dzikirmu mampu membuka nur tauhid dalam sirmu. Saat cahaya itu memancar,engkau akan menyadari bahwa dalam dirimu terdapat “kerajaan” yang luas. Ruangan 4 – Adab Memasuki BatinSetelah berdzikir, jangan tergesa berdoa.Diamlah sejenak… Siapa tahu nur itu sedang memancar.Pusatkan perhatianmu, lalu masuklah perlahan. Lihatlah ruangannya…dindingnya, isinya… semuanya dalam cahaya. Setelah itu, barulah berdoa.Dan jangan lupa bersyukur. Ruangan 5 – Alam AkalJika engkau masuk ke dalam otakmu,engkau akan melihat kilauan cahaya berwarna-warni,seperti bintang bertaburan di langit. Itulah akalmu —yang selama ini menemanimu berpikir. Ruangan 6 – Alam NafsuJika engkau masuk ke dalam hatimu,engkau akan melihat cahaya yang berubah-ubah warna. Itulah nafsumu —yang selama ini mendorongmu bergerak dalam kehidupan. Ruangan 7 – Alam RuhJika engkau masuk ke dalam jantungmu,engkau akan melihat cahaya putih jernih,seperti telaga kautsar. Itulah ruhmu —yang menghidupi seluruh hidupmu. Ruangan 8 – Alam SirrJika engkau masuk lebih dalam ke dalam ruhmu,engkau akan melihat cahaya seperti kristal yang berkilau. Itulah sirmu —rahasia halus yang membimbing arah hidupmu. Ruangan 9 – Alam NurJika engkau terus masuk ke dalam sirr,engkau akan melihat cahaya yang sangat terang. Itulah nurmu —yang selama ini menerangi perjalananmu. Ruangan 10 – Alam Dzat (Isyarat Kedalaman)Jangan berhenti pada cahaya itu.Teruslah masuk… Hingga engkau merasakan seakan berada dalam ruang tanpa batas,tenang… luas… dan tidak terjangkau. Itulah isyarat kedalaman dirimu,yang menghubungkan kepada Dzat-Nya. (Bukan untuk dibayangkan, tapi untuk dirasakan dengan adab dan bimbingan.) Ruangan 11 – Hakikat DzikirBegitulah ruangan batin dalam tubuhmu.Hendaknya engkau mengenalnya sebelum datangnya kematian. Hidupkan hatimu dengan dzikir.Hingga dzikirmu tidak lagi bergantung pada suara dan huruf,tapi hidup dalam kesadaran. Sebagaimana isyarat:kembalinya manusia khusus adalah ketika qalbunya hidup oleh cahaya tauhid,dan ia terus melazimi asma tauhid dalam lisan sirri — tanpa suara, tanpa huruf. Ruangan 12 – Adab BerguruJika engkau masih ragu,maka bergurulah pada ahlinya. Mereka ada di mana-mana.Kadang tampak sederhana, bahkan tidak dikenal.Kadang tampak aneh di mata manusia. Ada yang mudah ditemui,ada yang justru sulit dicari. Maka bersyukurlah jika engkau dipertemukan. Penutup Perjalanan ini bukan untuk dibanggakan,tapi untuk disadari. Bukan untuk diceritakan ke mana-mana,tapi untuk memperbaiki diri. Masuklah ke dalam dirimu dengan dzikir,dan pulanglah kepada-Nya dengan kesadaran.

20 Apr 2026 • Admin

Mengendalikan Angan-angan yang Liar(Tentang Panjang Angan-Angan dan Dzikir Akal)

BismillahirrahmanirrahimShollallahu ‘ala Sayyidina Muhammad Catatan kecil seorang murid, sekadar pepiling untuk diri sendiri. Ditulis bukan untuk menggurui, tapi sebagai pengingat bagi diri yang sering lalai, dikarenakan penulis pemudah yang sering berangan-angan tidak jelas disibukan isi kepala sendiri, dan mencari penitipan otak tidak menemukannya, muncullah diary ini sebagaimana yang dicoba penulis untuk penawar tulul amal Dialog Aki Qurdi dan Fakir Fakir:Aki… akhir-akhir ini batinku terasa lelah.Banyak angan berseliweran di kepala. Seolah aku hidup dalam hal-hal yang belum terjadi… tapi capeknya terasa nyata. Aki Qurdi:(tersenyum lembut)Itulah yang disebut tulul amal — panjang angan-angan.Ia lahir dari khayal (khayal) yang belum tertata. Sifatnya halus seperti kabut… tidak berat, tapi bisa menutup cahaya batin. Fakir:Tapi bukankah angan itu bagian dari akal juga, Ki?Bukankah dari situ bisa muncul ilham? Aki Qurdi:Benar.Dalam jalan ini, khayal itu adalah alat. Ia bisa menjadi pintu ilham kalau disucikan,dan bisa menjadi jerat kalau dibiarkan liar. Yang membuatmu lelah bukan angannya…tapi karena akalmu belum hidup dalam dzikir. Fakir:(jeda sejenak)Lalu bagaimana cara menenangkan angan-angan ini, Aki?Aku sudah dzikir… tapi sering kali pikiranku tetap berlari. Aki Qurdi:Karena engkau dzikir dengan lidah,tapi belum sampai ke markaz al-‘aql — pusat akalmu. Dzikir yang belum menyentuh pusat ini hanya berputar di permukaan,sedangkan khayal bergerak lebih dalam. Fakir:Markaz al-‘aql itu bagaimana, Aki? Aki Qurdi:Sederhananya, pusatkan perhatianmu ke dalam kepala bagian tengah.Di situlah tempat berkumpulnya kesadaran. Kalau perhatianmu hadir di situ,dzikirmu tidak lagi tercecer. Fakir:Apakah itu yang disebut dzikir akal? Aki Qurdi:Iya.Dzikir yang dilakukan dengan hudur — hadirnya hati dan perhatian. Caranya: Duduk tenang.Tarik napas perlahan.Pusatkan perhatian ke markaz tadi. Lalu lafadzkan dalam batin: lailahaillallah Bukan sekadar ucapan,tapi rasakan gema tauhid itu memenuhi akalmu…perlahan mengurai khayal yang kusut. Fakir:Jadi… bukan mematikan khayal, tapi menyucikannya? Aki Qurdi:Betul. Khayal itu seperti cermin.Kalau kotor, ia hanya memantulkan bayangan yang kabur.Kalau bersih, ia memantulkan cahaya. Begitulah khayal dalam diri manusia. Fakir:Dan kalau tidak dijaga, Aki? Aki Qurdi:Ia akan menjadi jerat yang halus. Membuatmu sibuk dengan hal yang belum terjadi,menjauh dari kenyataan,dan lalai dari hadirat Allah. Itulah penderitaan panjang angan-angan:tampak indah… tapi menyesatkan arah. Fakir:Aki… aku ingin belajar dzikir akal ini.Bagaimana aku memulainya? Aki Qurdi:Mulailah dengan istiqamah: Setelah subuh dan sebelum tidur, duduklah hening.Hadirkan dirimu sepenuhnya. Tarik napas perlahan.Pusatkan perhatian ke markaz al-‘aql. Lalu ulangi dalam batin: lailahaillallah Jika khayal datang, jangan dilawan keras.Cukup kembalikan perlahan ke dzikir. Dari situ, anganmu akan mulai terikat,tidak lagi liar. Fakir:(dengan hati yang lebih ringan)Aku mulai mengerti, Aki… Ternyata dzikir bukan hanya lafadz,tapi menghadirkan kesadaran dalam diri. Aki Qurdi:Nah… itu inti suluk. Dzikir yang hidup akan menata akal.Akal yang tenang akan menenangkan hati.Hati yang tenang akan mendekatkan pada Allah. Suluk itu bukan lari dari dunia,tapi pulang ke dalam diri. Penutup Angan-angan tidak perlu dimatikan.Ia cukup diarahkan dan disucikan. Jika dibiarkan liar, ia melelahkan.Jika dituntun dengan dzikir, ia menjadi jalan ilham. Maka jangan sibuk memerangi pikiran…cukup hadirkan dzikir di dalamnya. Karena ketika tauhid hidup di akal,khayal akan tunduk, dan hati akan tenang.

15 Apr 2026 • Admin

Hakikat Menyalahkan dan Cermin Diri dalam Jalan Ashkhabiyyah

Ini hanyalah catatan kecil seorang murid, yang diposting sekadar sebagai pepiling (pengingat) bagi diri sendiri. Semesta adalah cermin diri. Apa yang kita lihat di luar, sejatinya adalah pantulan dari apa yang ada di dalam hati kita sendiri. Kita, sebagai manusia, sering terjebak dalam kebiasaan menyalahkan sesuatu di luar diri. Ketika hidup terasa berat, kita menyalahkan keadaan. Ketika disakiti, kita menyalahkan orang lain. Bahkan, tidak jarang kita menyalahkan takdir. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, akar dari banyak persoalan justru bersumber dari dalam diri kita sendiri. Dawuh Guru Besar Jamiyah “KH Ali Ashkhab” Dalam jalan ashkhabiyyah, diajarkan bahwa dunia luar hanyalah cermin dari keadaan batin. Apa yang tampak sebagai masalah, benturan, atau ujian, sering kali merupakan pantulan dari hati yang belum bersih. Nafsu yang masih kuat, hati yang lalai dari dzikir, dan batin yang belum jernih—semua itu memengaruhi bagaimana kita memandang dan merasakan dunia. Seorang salik tidak diajarkan untuk sibuk menunjuk kesalahan di luar. Sebaliknya, ia dilatih untuk menundukkan pandangan ke dalam dirinya sendiri. Ia belajar bertanya: “Apa yang perlu saya benahi dalam diri saya?” bukan “Siapa yang salah di luar sana?” Sebab musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan nafsu yang bersemayam dalam dada. Nafsu inilah yang sering menipu, membelokkan niat, dan menutup kejernihan hati. Barangsiapa mampu menundukkan nafsunya, maka ia akan mulai melihat dengan pandangan yang berbeda. Masalah tidak lagi dipahami sebagai hukuman, tetapi sebagai panggilan dari Allah—undangan untuk kembali, untuk membersihkan diri, dan untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya. Ketika hati mulai jernih dengan dzikir, maka pandangan terhadap dunia pun ikut jernih. Apa yang dulu terasa berat, bisa berubah menjadi pelajaran. Apa yang dulu menyakitkan, bisa dipahami sebagai bentuk kasih sayang Allah yang tersembunyi. Ketika batin telah damai bersama Allah, maka segala peristiwa—baik maupun buruk—akan tampak sebagai rahmat. Tidak lagi ada keluhan yang berlebihan, karena hati telah yakin bahwa semua yang terjadi membawa hikmah. Inilah jalan ashkhabiyyah: menyelam ke dalam diri, membersihkan nafsu, memperbanyak dzikir, hingga tersingkap sebuah hakikat—bahwa tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah semata. Wallahu a’lam.

Menampilkan halaman 5 dari 17 (Total 152 data)