×

Rebo Wekasan, Silaturahim (kh khusein ilyas), dan Pelajaran tentang Istiqamah

20 Agustus 2025

Entah benar atau tidak, dalam benakku terlintas prasangka baik: sepertinya guruku habis sowan ke KH Khusein Ilyas Mojokerto. Setelah itu, beliau menulis sebuah pesan di grup. Tulisan yang sederhana, menggunakan bahasa Jawa sehari-hari, namun menghantam batin dengan sangat dalam.

Pesan itu seperti oleh-oleh silaturahim, khususnya pada Malam Rebo Wekasan—malam yang oleh banyak orang dipahami sebagai waktu muhasabah, perlindungan, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Berikut kutipan tanpa ada perubahan satu huruf pun dari dawuh beliau:

“Oleh2e silaturohim Malam Rebo Wekasan….

“Ojo sepisan pisan ngucap : ora ono faedah atau manfaate aku teko nang majlis ilmu, sementara aku ejih seneng bermaksiat tur aku yo durung iso ninggalno maksiat, wong sing berburu iku kudu tetep nglemparno alat buruane, najan dino iki durung iso oleh buruan, mungkin meneh isuk tembe oleh buruan”

Mbah Yai Kusen dawuh “ naliko guru akherat wis gelo karo murid, milyatan auliya pun ra bakal iso ngentaske murid iku”……😭

GUSTI…..ajeng Panjenengan paringi dalan pripun mawon kulo manut GUSTI…. kulo yakin dalan Panjenengan mboten klentu….”

Renungan Pribadi

Kalimat “ojo sepisan pisan ngucap ora ono faedah” terasa seperti tamparan lembut namun telak. Betapa sering manusia—termasuk aku—merasa putus asa karena belum mampu meninggalkan maksiat, lalu menilai hadir di majelis ilmu sebagai sesuatu yang sia-sia.

Padahal dawuh itu mengingatkan:

orang yang berburu tidak boleh berhenti melempar alat burunya, meski hari ini belum dapat hasil. Bisa jadi esok hari, Allah memberi buruan.

Yang lebih membuat gemetar adalah dawuh Mbah Yai Kusen:

naliko guru akherat wis gelo karo murid, milyatan auliya pun ra bakal iso ngentaske murid iku

Ini bukan ancaman, tapi peringatan penuh kasih. Bahwa hubungan murid dan guru akhirat bukan perkara formal, melainkan ikatan batin, adab, dan kejujuran dalam berjalan.

Dan penutup doa guruku—yang juga menjadi doa setiap murid yang sadar diri—adalah kepasrahan total:

“GUSTI….. ajeng Panjenengan paringi dalan pripun mawon kulo manut GUSTI… kulo yakin dalan Panjenengan mboten klentu…”

Tidak meminta jalan yang mudah.

Tidak meminta cepat sampai.

Hanya meminta jalan dari Allah, dan kesiapan untuk manut.

Penutup

Tulisan singkat di grup itu mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun bagi yang sedang berjalan tertatih di jalan ilmu dan tobat, ia menjadi penopang agar tidak berhenti, agar tidak putus asa, agar tetap “melempar alat buruan”.

Semoga Allah menjaga para guru, menjaga adab murid, dan menjaga kita semua agar tidak berhenti melangkah—meski hari ini belum mendapatkan apa-apa.

Aamiin.

Rebo Wekasan, Silaturahim (kh khusein ilyas), dan Pelajaran tentang Istiqamah

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca