Pada 18 Agustus 2025, Pengasuh Gus Masda menuliskan sebuah pesan penting di dalam grup. Pesan ini bukan sekadar informasi, tetapi juga pengingat ruhani yang dalam, karena di dalamnya tersambung sanad, doa, dan nasihat tentang makna tirakat yang sering kali disalahpahami.
Beliau menuliskan:
Tuan Guru Hasan Sanusi (catak gayam) bin Mbah Ali Rokiyan + Mbah Nyai Kafiyab bin Pangeran penggulu Gusti bin Pangeran Paget Jaya Sakti bin Pangeran Prabu Kian Santang bin Prabu Siliwangi Rodliallohu’anhum wa ghofarollohu dzunubahum, nafa’ana bihim bi barokatihim wa anwarihim wa asrorihim wa ’ulumihim bis sirril Fatikha….
Tirakat atau riyadloh iku ora kanggo ngganti kersané Gusti, nanging kanggo nyucèkaké ati. Ati sing resik bakal luwih gampang nampani pangayoman lan kabegjan.”
Kutipan ini mengandung dua lapis makna yang sangat penting dalam perjalanan spiritual.
Tirakat dan Kesalahpahaman yang Sering Terjadi
Banyak orang mengira bahwa tirakat atau riyadloh dilakukan untuk “memaksa” kehendak Tuhan: agar hajat cepat terkabul, rezeki dilapangkan, atau masalah segera selesai. Padahal, seperti yang ditegaskan dalam dawuh di atas, tirakat bukan alat untuk mengubah kersané Gusti.
Kehendak Allah tetap berjalan sesuai hikmah-Nya.
Yang diubah melalui tirakat bukanlah takdir, melainkan hati manusia itu sendiri.
Hati yang Disucikan
Ketika hati disucikan melalui tirakat, riyadloh, dan laku prihatin, maka seseorang menjadi lebih siap secara batin:
Lebih tenang menerima ketetapan Lebih peka terhadap tanda-tanda pertolongan Lebih lapang dalam menghadapi ujian Lebih mudah berada dalam lindungan Allah
Seperti yang disampaikan dalam kutipan tersebut, ati sing resik bakal luwih gampang nampani pangayoman lan kabegjan. Bukan karena dunia tiba-tiba berubah, tetapi karena hati yang berubah membuat seseorang selaras dengan rahmat dan penjagaan-Nya.
Sanad dan Barokah
Disebutkannya silsilah para leluhur dan wali bukanlah sekadar penulisan nama, tetapi pengingat bahwa laku spiritual selalu bersandar pada sanad, adab, dan keberkahan. Doa nafa’ana bihim bi barokatihim wa anwarihim wa asrorihim wa ‘ulumihim menegaskan harapan agar kita tidak hanya mewarisi cerita, tetapi juga cahaya, rahasia, dan ilmu mereka.
Penutup
Tulisan ini menjadi pengingat lembut bahwa jalan ruhani bukan jalan ambisi, melainkan jalan penyucian. Bukan tentang seberapa berat tirakatnya, tetapi seberapa jujur hati dibersihkan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemampuan untuk memahami makna tirakat dengan benar, dan diberi manfaat dari barokah para guru dan leluhur yang shalih.
Bis sirril Fatikha.





Tinggalkan Balasan