Ketika Satu Titik Mengajarkan Batas Akal dan Tak Terbatasnya Tuhan
Ada sebuah renungan sederhana tentang dua huruf Arab: ذ (Dhal) dan ف (Fa).
Secara bahasa, keduanya tentu memiliki akar kata dan makna yang berbeda. Namun jika bentuk hurufnya direnungkan sebagai simbol filosofis, keduanya seakan membuka pintu menuju pertanyaan yang jauh lebih dalam: sejauh mana akal manusia mampu memahami sesuatu yang tidak terbatas?
ذ adalah huruf awal dari Dzikr—mengingat.
Bentuknya tampak tidak membentuk ruang yang benar-benar tertutup. Ia seperti sebuah garis yang terus bergerak, sementara di atasnya terdapat satu titik.
Bagi saya, bentuk ini dapat direnungkan sebagai gambaran kebebasan yang tidak terbatas.
Satu titik menjadi simbol tentang Yang Esa.
Sedangkan garis yang tidak terkurung menjadi gambaran tentang kesadaran manusia yang diarahkan kepada sesuatu yang melampaui batas.
Berbeda dengan ف, huruf awal dari Fikr—berpikir.
Pada bentuknya terdapat ruang yang lebih menyerupai sebuah batas, dengan satu titik di atasnya.
Di sini saya melihat sebuah simbol yang menarik:
akal manusia memiliki batas.
Manusia dapat berpikir tentang alam semesta, waktu, kehidupan, kematian, bahkan tentang Tuhan. Tetapi akal tidak pernah mampu memasukkan Yang Tak Terbatas ke dalam batas pikirannya.
Akal dapat bertanya tentang Tuhan.
Akal dapat mencari tanda-tanda kebesaran-Nya.
Tetapi akal tidak dapat menjadikan Tuhan sebagai sesuatu yang selesai dipahami dan dibatasi.
Maka ada perbedaan yang indah:
Fikr bergerak di dalam keterbatasan manusia. Dzikr mengarahkan manusia kepada Yang Tidak Terbatas.
Akal adalah alat untuk mencari.
Dzikr adalah kesadaran untuk mengingat.
Akal bertanya:
“Bagaimana?”
Dzikr mengingatkan:
“Siapa?”
Dan mungkin di situlah manusia sering keliru.
Kita mengira semakin banyak berpikir berarti semakin dekat kepada kebenaran. Padahal akal yang tidak disucikan dapat menjadikan manusia semakin pintar dalam membenarkan dirinya sendiri.
Karena itu, akal membutuhkan hati yang bersih.
Fikr tanpa dzikr dapat tersesat dalam pikirannya sendiri. Dzikr yang melahirkan fikr dapat membuat manusia berpikir dengan kesadaran.
Manusia diberikan kebebasan untuk berpikir. Bahkan pikiran dapat melampaui apa yang mampu dilakukan tubuh. Kita dapat membayangkan masa lalu, masa depan, kebaikan, keburukan, bahkan sesuatu yang tidak pernah ada.
Namun kebebasan berpikir bukan berarti manusia memiliki pengetahuan tanpa batas.
Justru kesadaran terhadap keterbatasan akal adalah salah satu bentuk kebijaksanaan.
Kita berpikir bukan untuk menaklukkan Tuhan dengan pikiran.
Kita berpikir untuk menyadari betapa kecilnya pikiran kita di hadapan sesuatu yang tidak terbatas.
Maka Dhal dan Fa dapat menjadi sebuah renungan:
ذ — Dhal: mengingat Yang Esa.
ف — Fa: berpikir dalam batas manusia.
Satu titik.
Dua bentuk.
Dua jalan kesadaran.
Yang satu mengingat.
Yang satu berpikir.
Dan mungkin tujuan akhirnya bukan memilih antara dzikr dan fikr, melainkan mempertemukan keduanya:
Akal yang berpikir, tetapi hati yang mengingat. Akal yang bebas menjelajah, tetapi tidak sombong terhadap batasnya. Pikiran yang mencari, tetapi hati mengetahui kepada siapa pencarian itu akhirnya kembali.
Sebab mungkin kemerdekaan akal yang paling tinggi bukan ketika ia merasa mampu memahami segala sesuatu, melainkan ketika ia mampu menyadari bahwa ada Yang Tidak Mungkin dibatasi oleh pikirannya.
Fikr memiliki batas. Dzikr mengingat Yang Tak Terbatas.
Dan di antara keduanya, manusia belajar mengenal dirinya sendiri.



Tinggalkan Balasan