(Catatan Haul Mbah Ahmad)
INI PENTING SAYA SAMPAIKAN……..
Kami himbau dan mengajak dengan sangat semuanya bisa hadir nanti malam Haul Mbah Ahmad dengan ziaroh di pesareanya,Tahlil akan dimulai jam 21.00 WIB. Baca dibawah ini sampai selesai untuk dijadikan panduan dalam berziarah ke makam orrang2 sholeh manapun, agar tidak terjebak dalam kesyirikan……( jangan dikomentari dulu sebelum selsai saya menulis)
“Jika ada seseorang yang meninggal dunia dan dia termasuk ke dalam golongan jiwa yang suci sebelum meninggalkan tubuhnya (mati), maka ia akan tetap tinggal selamanya di alam ruh dalam keadaan penuh kebahagiaan bersama dengan akal-akal dan jiwa-jiwa [fusion_builder_container hundred_percent=”yes” overflow=”visible”][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”no” center_content=”no” min_height=”none”][yang tenang] dan dapat memberikan pengaruh [terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi] di dunia seperti halnya pengaruh yang dipancarkan oleh akal-akal langit. ( IBNU SINA )
Jadi tujuan dari doa dan ziarah (menziarahi kubur orang suci) ialah agar orang-orang yang berziarah tersebut berinteraksi dengan orang suci yang diziarahi untuk mendapat kekuatan yang mendatangkan kebaikan atau menolak kemudaratan (BAHASANE WONG DEMPOK: ngalap berkah/gandolan)…dan tentunya, jiwa-jiwa (orang yang soleh) yang diziarahi tersebut, karena berkedudukan sama dengan akal-akal langit dan karena tinggal berdekatan dengan mereka, dapat memberikan pengaruh secara sempurna (terhadap peristiwa di dunia) tergantung kepada berbagai kondisi dan situasi.”
Jika kita kaitkan dengan pandangan bahwa orang suci yang telah mati tinggal di dekat bintang-bintang imaginasi, maka akan dapat dipastikan bahwa mereka, kata Ibnu Sina, juga memiliki kekuatan untuk menalar, berfikir, bertindak atau bahkan memengaruhi kehidupan di bumi. Dan jika kita kaitkan lagi dengan orang-orang yang menziarahi wali-wali suci, bisa dipastikan, masih menurut Ibnu Sina, bahwa orang tersebut akan mendapat keberkahan yang nyata berdasarkan kepada kekuatan yang dipancarkan oleh orang yang suci tersebut.
Singkatnya, Ibnu Sina percaya bahwa menziarahi orang-orang suci yang sudah meninggal itu dapat mendatangkan kebaikan dan keberkahan. Selain itu, mereka juga dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang yang masih hidup dengan catatan masing-masing memiliki hati yang bersih.
Jika pandangan ini dapat diterima, maka cerita tentang bagaimana Ibnu Taymiyyah, sosok ulama yang diklaim sebagai leluhurnya gerakan Wahabi , menyelesaikan persoalan-persoalan waris dari alam kubur atau cerita mengenai bagaimana Gus Dur berbicara dengan Mbah Mutamakkin dan para wali lainnya dari alam kuburnya bisa juga diterima jika dibaca dari perspektif sinawiyan ini.
Ada banyak cerita, misalnya, tentang seseorang yang ingin terpilih sebagai DPR, atau ingin menjadi kaya raya, atau ingin terlepas dari hutang, dan ternyata solusinya ialah ziarah ke makam wali dan itu berhasil. Di sini bukan soal meminta pertolongan ke wali, tapi si peziarah dalam perspektif Ibnu Sina, sedang menyerap energi positif (bahasane awak dewe: ngalap berkah) dari pancaran rahmat yang pernah Allah karuniakan kepada ahli kubur semasa hidupnya, untuk kemudian dapat dimanfaatkannya untuk berbagai keperluan atau maksud yang dituju.
Namun persoalannya, rasionalkah pandangan demikian? Jawabnya, apapun argumennya, jika masalah ini dilihat dari sudut pandang yang logis, rasional dan positifistik, tentu tidak akan dapat diterima . Peristiwa seperti ini hanya bisa dipahami lewat jiwa , bukan rasio. Sebab, kemampuan rasio hanya mampu memahami yang tercerap secara inderawi sedangkan kemampuan jiwa dapat memahami realitas yang tak terindera, tentu jika dilatih dengan baik melalui zikir dan ritual-ritual tertentu.
Dan menariknya, filosof sekaliber Ibnu Sina, yang sangat terkenal dalam jagad raya pemikiran filsafat Islam dan pengaruh pemikirannya yang besar terhadap para pemikir setelahnya, mengakui kemungkinan orang mati masih bisa berinteraksi dengan orang hidup
semoga bisa menambah wawasan keilmuan dan menambah keyaqinan yang benar sesuai syariat dalam berziaroh serta semoga bermanfaat.




Tinggalkan Balasan