Dalam salah satu maqolah disebutkan:
“Barang siapa menyangka bahwa ia memiliki penolong yang lebih utama daripada Allah, maka sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah.
Dan barang siapa menyangka bahwa ia memiliki musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya, maka sedikitlah ma’rifatnya kepada dirinya sendiri.”
Ungkapan ini sejalan dengan jalan para ulama tasawuf seperti Imam Junaid al-Baghdadi, yang menempatkan ma’rifat sebagai inti perjalanan seorang hamba.
1. Ketika Allah Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Sandaran
Guru kita, KH Masda Andi, mengingatkan:
“Barang siapa menyangka bahwa ada penolong yang lebih mumpuni dibanding Allah, maka orang itu baru sedikit mengenal Allah.”
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menggantungkan harapan pada banyak hal: harta, relasi, dan kekuatan diri. Padahal semua itu hanyalah sebab, bukan sumber.
Al-Qur’an menegaskan:
“Jika Allah menimpakan kesusahan kepadamu, tidak ada yang mampu menghilangkannya selain Dia.” (QS. Al-An’am: 17)
Di sinilah seorang hamba mulai belajar tentang tawakkal yang hakiki: bersandar penuh kepada Allah, tanpa menggantungkan hati pada selain-Nya.
2. Nafsu: Musuh yang Paling Dekat dan Paling Halus
Guru kita juga menegaskan:
“Barang siapa mengira mempunyai musuh yang lebih kejam dibanding nafsunya, berarti orang itu baru sedikit mengenal dirinya sendiri, bahkan bisa jadi malah belum mengenal.”
Sering kali manusia sibuk melihat musuh di luar dirinya, padahal musuh terbesar justru berada di dalam.
Sebagaimana dijelaskan oleh Abu Hamid al-Ghazali, nafsu adalah sumber banyak penyimpangan. Ia halus, tersembunyi, dan sering menyamar bahkan dalam kebaikan.
Maka mengenal diri bukan sekadar mengetahui siapa kita, tetapi menyadari kelemahan, kecenderungan, dan tipu daya nafsu yang selalu menyertai.
3. Perubahan Arah Ibadah: Dari Meminta Menuju Menyerah
Dalam penjelasan beliau, terdapat isyarat yang dalam:
“Ibadah sering dipahami sebagai jalan untuk memperoleh sesuatu, namun ada tahap ketika hubungan dengan Tuhan bukan lagi sekadar meminta, melainkan mendekat dan menyerahkan diri.”
Ini adalah pergeseran besar dalam perjalanan ruhani.
Seorang hamba mulai beribadah bukan hanya karena ingin diberi, tetapi karena menyadari bahwa Allah memang layak untuk dimuliakan.
Para ulama tasawuf menjelaskan tingkatan ibadah:
- ibadah karena takut
- ibadah karena berharap
- hingga ibadah karena cinta
Di sinilah ibadah berubah dari sekadar permintaan menjadi penghambaan yang murni.
4. Ketika Ridha Lebih Tinggi dari Keinginan
Guru kita mengisyaratkan:
“Keridaan Ilahi jauh lebih berharga daripada sekadar terpenuhinya keinginan.”
Pada tahap ini, hati tidak lagi memaksa takdir. Doa tetap dipanjatkan, tetapi tidak disertai kegelisahan yang menuntut.
Seorang hamba belajar untuk:
- berharap tanpa memaksa
- berdoa tanpa menggugat
- menerima tanpa kehilangan iman
Hidup menjadi lebih jernih karena hati selaras dengan kehendak-Nya.
5. Menemukan Karunia dalam Kesederhanaan
Guru kita menutup dengan ungkapan yang penuh makna:
“Sering kali, justru ketika manusia berhenti menuntut terlalu banyak, ia mulai menyadari betapa luasnya pemberian yang selama ini mengelilinginya.”
Di sinilah mata hati mulai terbuka.
Hal-hal kecil yang sering terlewat—napas, waktu, dan ketenangan—berubah menjadi nikmat yang terasa besar.
Dan pada akhirnya, seorang hamba sampai pada kesadaran:
“Di sinilah letak akan tahu tentang Tuhan sebagai Khaliq dan tahu tentang diri sebagai makhluq.”
Penutup
Perjalanan ini bukan tentang cepat atau lambat, tetapi tentang kesungguhan dalam mengenal:
- Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar
- diri sebagai makhluk yang penuh keterbatasan
Dalam bahasa sederhana:
sing durung kenal, isih gumantung
sing wis kenal, bakal pasrah lan tentrem
Semoga tulisan ini menjadi khazanah keilmuan yang menumbuhkan iman, memperhalus hati, dan menambah rasa syukur dalam setiap keadaan.







Tinggalkan Balasan