(Penjabaran murid dengan penuh adab dari hikmah yang beredar di tengah jamaah)
Mukadimah
Dengan penuh adab, tulisan ini bukan untuk memastikan kebenaran asal-usul bahasa, tetapi nggih nyobi ngambil hikmah lan rasa dari filosofi bilangan dalam bahasa Jawa, agar menjadi bahan renungan bagi kita semua.
1. Likur: Simbol “Mulai Mendapat Tempat”
Dalam bahasa Jawa, angka:
- 21 → selikur
- 22 → rolikur
- hingga 29 → songo likur
Tidak disebut “rong puluh siji” dan seterusnya, tetapi menggunakan istilah likur.
Diartikan secara hikmah:
Likur = lingguh kursi (duduk di kursi)
Penjabaran:
Usia 21–29 adalah fase:
- mulai menemukan arah hidup
- mulai punya pekerjaan atau peran
- mulai “duduk” pada posisi kehidupan
➡️ Makna hakikat:
Manusia mulai diuji bukan lagi dengan mencari, tetapi menjaga posisi dan tanggung jawab hidupnya.
2. Selawé (25): Puncak Gejolak Rasa
Ada keunikan pada angka 25, tidak disebut “limang likur”, tetapi:
Selawé = senenge lanang lan wedok
Penjabaran:
Ini menggambarkan fase:
- puncak ketertarikan antara laki-laki dan perempuan
- masa di mana banyak orang mulai menikah
➡️ Makna hakikat:
Bukan sekadar asmara, tetapi ujian bagaimana menyalurkan rasa dalam jalan yang halal dan bertanggung jawab.
3. Seket (50): Tanda Kembali ke Kesadaran
Secara pola harusnya “limang puluh”, namun disebut:
Seket = seneng kethunan (senang memakai tutup kepala)
Penjabaran:
Di usia ini:
- rambut mulai memutih
- fisik mulai menurun
- tanda-tanda usia terlihat jelas
Namun dalam makna lebih dalam:
- kopiah/tutup kepala → simbol ketaatan
- tanda mulai serius dalam ibadah
➡️ Makna hakikat:
Usia 50 adalah panggilan untuk kembali menata diri, memperbanyak ibadah, dan menyiapkan bekal akhirat.
4. Sewidak (60): Isyarat Wektu Tindak
Angka 60 dalam Jawa disebut:
Sewidak / Suwidak = sejatiné wis wayahe tindak
Penjabaran:
Ini adalah pengingat halus:
- umur sudah matang
- waktu hidup di dunia semakin sedikit
- saatnya benar-benar siap menghadap Allah
➡️ Makna hakikat:
Hidup bukan lagi tentang merencanakan dunia, tetapi mempersiapkan kepulangan.
5. Benang Merah: Dari Duduk hingga Berangkat
Jika dirangkai, filosofi ini memberi alur kehidupan:
- Likur → mulai mendapat tempat
- Selawé → mengelola rasa dan hubungan
- Seket → kembali kepada ibadah
- Sewidak → siap untuk pulang
➡️ Makna hakikat:
Hidup manusia itu bergerak:
dari dunia → menuju tanggung jawab → menuju kesadaran → menuju kepulangan
Penutup
Filosofi ini bukan sekadar permainan kata, tetapi bisa menjadi:
- pengingat perjalanan hidup
- cermin untuk melihat posisi diri
- dorongan untuk memperbaiki arah
Dalam bahasa sederhana:
enom goleki papan
diwasa ngopeni tanggung jawab
tuwa bali marang Gusti
Mugi-mugi kita sedaya:
- diparingi umur sing manfaat
- diparingi kesadaran sebelum terlambat
- lan dipungkasi kanthi khusnul khotimah
Aamiin…
Gusti Allah






Tinggalkan Balasan