×

Pertanyaan Gus Nafi (Pak Mudin) kepada Guru Kami: KH Masda Andi

Dalam sebuah dialog, Gus Nafi (Pak Mudin) bertanya kepada guru kami, KH Masda Andi, tentang hakikat shoum:

“Jika shoum, apakah ditentukan waktu?”

Guru menjawab dengan merujuk pada makna dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Maryam, ketika Sayyidah Maryam berkata:

“Innii nadzartu lirrahmaani shouman falan ukallima al-yauma insiyya”

(Aku bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa, maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang pun).

Di sini, shoum dimaknai bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari berbicara.

✦ Makna Shoum Secara Umum

Guru dawuh:

Fal yakul khairan aw liyasmut — Berkatalah yang baik atau diam. Shoum secara umum adalah mencegah diri dari ucapan yang tidak bermanfaat.

Namun beliau juga menegaskan:

Shoum dalam arti tidak berbicara total memang ada. Tetapi itu adalah maqom tertentu, dilakukan oleh sedikit orang dalam konteks riyadhoh (latihan spiritual). Tidak boleh ditempatkan sembarangan, karena bisa mengganggu hubungan sosial.

Beliau memberi contoh pengalaman pribadi:

“Kulo nate ngelakoni shoum ba’da Isya’ sampai Subuh.”

Artinya, latihan diam itu dilakukan pada waktu tertentu, sebagai riyadhoh, bukan sebagai kewajiban umum.

Dalam kaidah suluk disebutkan:

Siapa yang riyadhoh 40 hari dengan sungguh-sungguh, akan keluar kalam hikmah dari hatinya, bahkan ia sendiri tidak menyadarinya.

Beliau juga menceritakan kisah tentang Gus Hasyim yang pernah melakukan riyadhoh tidak terkena sinar matahari di rumahnya di Jatirejo — sebuah bentuk latihan batin, bukan syariat umum.

✦ Kesimpulan

Shoum dalam makna riyadhoh:

Tidak mengikat waktu syariat tertentu. Bersifat latihan spiritual. Harus sesuai porsi dan bimbingan guru.

2️⃣ Apakah Orang yang Tidak Berpuasa Harus Menghormati yang Berpuasa?

Pertanyaan kedua:

“Beberapa hari disampaikan orang yang tidak berpuasa harus menghormati orang yang berpuasa.”

Guru menjawab dengan mengutip dawuh Abdurrahman Wahid (Gus Dur):

“Jika Anda Muslim yang terhormat, maka puasa Anda akan mampu menghormati orang yg tidak berpuasa”

Ini bukan soal paksaan, tetapi soal kehormatan diri.

✦ Makna “Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu”

Ketika Allah berfirman:

Yaa ayyuhalladziina aamanuu (Wahai orang-orang yang beriman),

Itu adalah panggilan kehormatan.

Allah sendiri yang memanggil.

Maka pertanyaannya kembali pada diri masing-masing:

Apakah kita tergoda untuk mengabaikan panggilan itu?

Atau kita merasa terhormat ketika dipanggil sebagai orang beriman?

Menghormati orang yang tidak berpuasa adalah bagian dari menjaga adab sosial dan ukhuwah.

Bukan semata-mata soal hukum, tetapi soal akhlak dan kesadaran iman.

Penutup

Dari dialog ini kita belajar:

Shoum bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan lisan. Shoum dalam maqom riyadhoh tidak mengikat waktu syariat, namun harus dalam bimbingan. Menghormati orang yang tidak berpuasa adalah cermin kehormatan diri sebagai muslim.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang ketika dipanggil:

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu”

kita menjawab dengan hati yang tunduk dan lisan yang terjaga

Pertanyaan Gus Nafi (Pak Mudin) kepada Guru Kami: KH Masda Andi

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca