Catatan Pengajian 1 Ramadhan 1447 H
Al-Ashkhabiyyah – Maqbaroh Mbah Ahmad (Dempok)
Oleh: Seorang Murid yang Mendengarkan dengan Penuh Adab
Kiblat Tauhid Ahlussunah wal Jama’ah
Dalam bab aqidah, guru kami menegaskan bahwa kiblat tauhid Ahlussunah wal Jama’ah adalah dua imam besar:
Keduanya adalah penjaga manhaj tauhid umat, yang merumuskan aqidah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para salaf.
Dalam bab fiqih, Ahlussunah wal Jama’ah berpegang pada empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Adapun dalam tasawuf, kiblatnya adalah:
Dan salah satu mahakarya Imam al-Ghazali yang menjadi rujukan besar umat adalah:
Konsep Beragama: Tiga Tangga Menuju Allah
Guru kami menyampaikan bahwa dalam beragama, seorang hamba harus menapaki tiga tangga:
Syariat Tarekat Hakikat
Kitab Ihya’ disusun selaras dengan perjalanan ini. Di dalamnya terdapat empat juz besar:
1️⃣ Juz Pertama – Rubu’ al-‘Ibadat (Fiqih Ibadah)
Imam al-Ghazali menjelaskan kewajiban beragama secara fiqih: thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, dan adab-adabnya.
Beliau menegaskan bahwa ibadah lahir harus benar secara hukum.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Innamal a‘maalu bin niyyaat, wa innamaa likulli imri’in maa nawaa.”
Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
2️⃣ Juz Kedua – Rubu’ al-‘Adat (Muamalah)
Membahas adab kehidupan: makan, nikah, mencari nafkah, bertetangga, dan kehidupan sosial.
Dua juz pertama ini menggabungkan antara ibadah mahdhah dan kehidupan sehari-hari, sehingga agama tidak hanya di masjid, tetapi juga di pasar dan rumah.
3️⃣ Juz Ketiga – Rubu’ al-Muhlikat (Perkara yang Merusak Hati)
Di sini dibahas penyakit hati:
Sombong (kibr) Iri dengki (hasad) Riya’ Hubbud dunya Ujub
Allah berfirman:
“Yaauma laa yanfa‘u maalun wa laa banuun, illa man atallaha biqalbin saliim.”
Pada hari tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.
(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
4️⃣ Juz Keempat – Rubu’ al-Munjiyat (Perkara yang Menyelamatkan)
Setelah hati dikosongkan dari sifat tercela, maka ia diisi dengan sifat-sifat terpuji:
Ikhlas Tawakal Syukur Sabar Mahabbah
Inilah tahap penyucian hati yang sesungguhnya.
Takhalli, Tahalli, Tajalli
Guru kami menjelaskan:
Jika juz 1, 2, dan 3 dilakukan maksimal → itu takhalli (mengosongkan diri dari keburukan). Juz 4 → itu tahalli (menghiasi diri dengan kebaikan). Jika semuanya istiqamah, maka tinggal menunggu karunia Allah → tajalli (tersingkapnya cahaya ma‘rifat).
Namun beliau memberi peringatan keras:
Jika seseorang tidak menapaki tahap 1-2-3-4 tetapi mengaku sudah mengalami tajalli, maka tidak ada jaminan itu dari Allah — bisa jadi tipu daya jin.
Ini adalah teguran keras agar murid tidak tertipu oleh rasa atau pengalaman batin yang tidak dibangun di atas syariat.
Fiqih dan Tasawuf Tidak Boleh Dipisah
Guru kami KH Masda Andi dawuh:
Ruhul jasmani ada pada daging dan darah, dan dibebani syariat.
Artinya, selama jasad masih hidup, hukum fiqih tetap berlaku.
Beliau juga menegaskan:
“Orang bertasawuf belum tentu berfiqih. Tetapi orang yang benar-benar berfiqih, sejatinya sudah memasuki tasawuf, karena sebelum ibadah ada niat. Dan niat tempatnya di hati — itu wilayah tasawuf.”
sing
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Alaa wa inna fil jasadi mudhghah, idzaa shaluhat shaluhal jasadu kulluh, wa idzaa fasadat fasadal jasadu kulluh, ألا وهي القلب.”
Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Maka orang yang mengaku tasawuf tetapi belum memahami fiqih, itu belum sempurna jalannya.
Sebaliknya, fiqih tanpa tasawuf akan kering dari ruh.
Penutup: Agar Tidak Gumunan
Guru kami menyampaikan ini agar kami tidak “gumunan” melihat orang yang tampak alim atau tampak memiliki pengalaman batin.
Ukuran kebenaran bukan pada rasa, bukan pada penampakan, bukan pada cerita-cerita tajalli.
Tetapi pada:
Aqidah yang lurus Fiqih yang benar Hati yang dibersihkan Adab kepada guru Dan istiqamah dalam syariat
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang berjalan perlahan namun benar, tidak tergesa-gesa mengaku sampai, padahal belum menapaki tangga pertama.
Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba‘ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnajtinaabah.



1 comment