×

Hakikat Wirid yang dibaca Pengajian 2 Ramadhan 1447 H

Maqbarah Mbah Ahmad – Adab, Sholawat, dan Hakikat Tasawuf

2 Ramadhan 1447 H dibuka dengan suasana yang penuh khidmah di maqbarah Mbah Ahmad. Angin malam berhembus pelan, jamaah duduk bersila, hati ditata. Guru kami membuka pengajian bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan satu pertanyaan sederhana namun dalam:

“Sholawat apa yang dibaca dalam pengajian ini?”

Lalu beliau menuntun kami membaca:

“Allohumma Sholli wa Salim ‘Ala Sayyidina Muhammadin wa ‘Ala Aalih, sholata ahlis samawati wal ardli ‘Alaih.”

Sholawat yang singkat, namun lautan makna.

Hakikat Sholawat: Menghubungkan Langit dan Bumi

Secara lahir, kita membaca satu kali.

Namun guru kami menjelaskan:

Barangsiapa membaca sholawat ini satu kali, seakan-akan ia mendapatkan catatan sholawatnya seluruh penduduk langit dan penduduk bumi.

Ini bukan hitungan matematis biasa. Ini adalah hakikat keterhubungan.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“InnaLloaha wa malaa-ikatahu yusholluuna ‘alan Nabi…”

(Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi)

Artinya, sholawat bukan hanya ibadah manusia.

Ia adalah amalan kosmik — amalan langit dan bumi.

Ketika seorang hamba bersholawat, ia sedang masuk ke dalam arus dzikir semesta.

Mengapa Disebut Angka 132?

Guru kami menyebut angka 132, dan menjelaskan dari ilmu hisab huruf (abajadun).

Dalam perhitungan huruf Arab:

Namun jika dihitung dengan variasi tertentu dalam tradisi abajadun yang diperluas (termasuk nilai tersembunyi atau isim kamil), sebagian ulama menghitungnya menjadi 132.

Bagi ahli tasawuf, angka bukan sekadar nominal.

Ia adalah isyarat.

132 menjadi simbol bahwa nama “Muhammad” mengandung limpahan rahmat yang tak terhingga.

Namun yang lebih penting dari angka adalah:

keyakinan dan mahabbah ketika membaca.

Tasawufnya: Dari Hitungan Menuju Kehadiran

Dalam hakikat tasawuf, wirid bukan soal banyaknya bacaan.

Tetapi soal:

Hadirnya hati Luruhnya ego Tersambungnya ruh kepada Rasulullah ﷺ

Satu sholawat yang dibaca dengan hadir,

lebih berat dari seribu sholawat tanpa rasa.

Guru kami tidak hanya menjelaskan pahala.

Beliau menanamkan semangat dan keyakinan agar Ramadhan tidak menjadi slogan, tetapi menjadi perjalanan ruhani.

Pesan Paling Tegas: Jangan Merasa Paling Benar

Di akhir pembukaan pengajian malam ini, guru kami dawuh:

“Jenengan ahli sholat ojo nyalahno wong seng gurung sholat.”

“Jenengan ahli poso ojo nyalahno wong seng durung poso.”

Inilah inti tasawuf.

Ahli ibadah yang masih suka menyalahkan orang lain, berarti ibadahnya belum menembus hati.

Tasawuf mengajarkan:

Sholat membersihkan diri, bukan untuk merasa suci. Puasa melatih sabar, bukan untuk merasa lebih tinggi.

Orang yang sudah merasakan manisnya ibadah, biasanya justru lebih lembut kepada yang belum mampu.

Hakikat Wirid yang dibaca Pengajian 2 Ramadhan 1447 H

1 comment

comments user
Anonim

jama’ah pasar Cukir hadir nyimak online

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca