Mudah-mudahan menjadi kenyataan, usulan dari Tuan Guru Turmudzi (Pengasuh Ponpes Qomarul Huda Bagu, Lombok):
“Idealnya, Syuriah NU tingkat pusat mengkhatamkan: Al-Umm, Al-Raudhah (Raudhatut Thalibin wa Umdat al-Muftin) karya Imam Nawawi, dan Al-Fath (Fathul Aziz Syarh al-Wajiz / Al-Syarhul Kabir) karya Imam Rafi’i.”
Kemudian diturunkan sesuai tingkatan:
- Tingkat Wilayah: khatam Al-Umm & Al-Muhadzab
- Tingkat Cabang: khatam Al-Raudhah & Fathul Wahab
- Tingkat MWC: khatam Fathul Mu’in
- Tingkat Ranting: khatam Fathul Qarib
Standar Keilmuan Sebagai Syarat Amanah
Dalam gagasan ini ditegaskan:
“PBNU tidak akan mengakui pengurus Syuriah yang tidak memenuhi syarat tersebut.”
Ini bukan untuk memberatkan, tetapi untuk menjaga martabat:
- Syuriah adalah posisi tertinggi dalam struktur keilmuan NU
- Maka yang mendudukinya harus benar-benar ulama
- Bukan sekadar organisator, tapi ahli ilmu yang mumpuni
Dengan demikian, jabatan tidak lagi menjadi rebutan, tetapi menjadi amanah ilmiah yang berat.
Menghidupkan Makna “Nahdlatul Ulama”
NU berarti “kebangkitan para ulama”.
Maka sangat pantas jika:
- yang tampil adalah ulama yang benar-benar berilmu
- yang berbicara adalah mereka yang memiliki dasar kitab
- yang memimpin adalah mereka yang bisa dipertanggungjawabkan ilmunya
Peran Aktif dalam Mencari Ulama Berkualitas
Dalam usulan ini juga terdapat arah penting:
“PBNU sebaiknya proaktif merekrut ulama yang memenuhi kualifikasi, meskipun bukan dari kalangan pesantren besar atau ‘darah biru’.”
Artinya:
- kualitas didahulukan daripada garis keturunan
- keilmuan didahulukan daripada popularitas
Sehingga jabatan tidak diisi oleh:
- yang sekadar dikenal
- atau yang sekadar memiliki jaringan
Tetapi oleh mereka yang benar-benar ahli dalam fiqih madzhab Syafi’i.
Tanggung Jawab Personal: Ngaji lan Nyiapno Diri
Bagi yang ingin masuk dalam jajaran Syuriah:
“Harus mempersiapkan diri dengan membaca dan mengkhatamkan kitab sesuai levelnya, serta membuat review sebagai bukti pemahaman.”
Ini menjadi ukuran:
- bukan sekadar pernah belajar
- tetapi benar-benar memahami isi kitab
Aplikasi di Tengah Jam’iyyah
Guru kita, KH Masda Andi, menegaskan dengan sangat tegas:
“Jam’iyyah sing ngakune NU yo kudu ngunu kuwi… penceramah kudu nggowo kitab.”
Lan dawuh sing nggetarke:
“Sing gak nggowo kitab, minggir… gak usah ceramah.”
Iki peringatan keras:
- ceramah tanpa dasar kitab → rawan nggedabrus
- omongan tanpa ilmu → ora ana manfaat lan ora ana barokah
Utamane kanggo jam’iyyahan rutin:
- kudu dijaga kualitas ilmuné
- kudu ana rujukan kitab sing jelas
Penutup
Iki dudu mung gagasan, nanging arah perbaikan:
- supaya ilmu dadi pondasi
- supaya ulama nduweni wibawa
- supaya umat entuk manfaat lan barokah
Mugi-mugi kita sedaya diparingi kekuatan:
- kanggo ngaji kanthi tenanan
- kanggo ngamal kanthi bener
- lan kanggo njaga sanad ilmu nganti tekan generasi sabanjure
Aamiin.







Tinggalkan Balasan