×

Mengendalikan Angan-angan yang Liar(Tentang Panjang Angan-Angan dan Dzikir Akal)

Bismillahirrahmanirrahim
Shollallahu ‘ala Sayyidina Muhammad

Catatan kecil seorang murid, sekadar pepiling untuk diri sendiri. Ditulis bukan untuk menggurui, tapi sebagai pengingat bagi diri yang sering lalai, dikarenakan penulis pemudah yang sering berangan-angan tidak jelas disibukan isi kepala sendiri, dan mencari penitipan otak tidak menemukannya, muncullah diary ini sebagaimana yang dicoba penulis untuk penawar tulul amal


Dialog Ruhani Aki Qurdi dan Fakir

Fakir:
Aki… akhir-akhir ini batinku terasa lelah.
Banyak angan berseliweran di kepala. Seolah aku hidup dalam hal-hal yang belum terjadi… tapi capeknya terasa nyata.

Aki Qurdi:
(tersenyum lembut)
Itulah yang disebut tulul amal — panjang angan-angan.
Ia lahir dari khayal (khayal) yang belum tertata.

Sifatnya halus seperti kabut… tidak berat, tapi bisa menutup cahaya batin.


Fakir:
Tapi bukankah angan itu bagian dari akal juga, Ki?
Bukankah dari situ bisa muncul ilham?

Aki Qurdi:
Benar.
Dalam jalan ini, khayal itu adalah alat.

Ia bisa menjadi pintu ilham kalau disucikan,
dan bisa menjadi jerat kalau dibiarkan liar.

Yang membuatmu lelah bukan angannya…
tapi karena akalmu belum hidup dalam dzikir.


Fakir:
(jeda sejenak)
Lalu bagaimana cara menenangkan angan-angan ini, Aki?
Aku sudah dzikir… tapi sering kali pikiranku tetap berlari.

Aki Qurdi:
Karena engkau dzikir dengan lidah,
tapi belum sampai ke markaz al-‘aql — pusat akalmu.

Dzikir yang belum menyentuh pusat ini hanya berputar di permukaan,
sedangkan khayal bergerak lebih dalam.


Fakir:
Markaz al-‘aql itu bagaimana, Aki?

Aki Qurdi:
Sederhananya, pusatkan perhatianmu ke dalam kepala bagian tengah.
Di situlah tempat berkumpulnya kesadaran.

Kalau perhatianmu hadir di situ,
dzikirmu tidak lagi tercecer.


Fakir:
Apakah itu yang disebut dzikir akal?

Aki Qurdi:
Iya.
Dzikir yang dilakukan dengan hudur — hadirnya hati dan perhatian.

Caranya:

Duduk tenang.
Tarik napas perlahan.
Pusatkan perhatian ke markaz tadi.

Lalu lafadzkan dalam batin: lailahaillallah

Bukan sekadar ucapan,
tapi rasakan gema tauhid itu memenuhi akalmu…
perlahan mengurai khayal yang kusut.


Fakir:
Jadi… bukan mematikan khayal, tapi menyucikannya?

Aki Qurdi:
Betul.

Khayal itu seperti cermin.
Kalau kotor, ia hanya memantulkan bayangan yang kabur.
Kalau bersih, ia memantulkan cahaya.

Begitulah khayal dalam diri manusia.


Fakir:
Dan kalau tidak dijaga, Aki?

Aki Qurdi:
Ia akan menjadi jerat yang halus.

Membuatmu sibuk dengan hal yang belum terjadi,
menjauh dari kenyataan,
dan lalai dari hadirat Allah.

Itulah penderitaan panjang angan-angan:
tampak indah… tapi menyesatkan arah.


Fakir:
Aki… aku ingin belajar dzikir akal ini.
Bagaimana aku memulainya?

Aki Qurdi:
Mulailah dengan istiqamah:

Setelah subuh dan sebelum tidur, duduklah hening.
Hadirkan dirimu sepenuhnya.

Tarik napas perlahan.
Pusatkan perhatian ke markaz al-‘aql.

Lalu ulangi dalam batin: lailahaillallah

Jika khayal datang, jangan dilawan keras.
Cukup kembalikan perlahan ke dzikir.

Dari situ, anganmu akan mulai terikat,
tidak lagi liar.


Fakir:
(dengan hati yang lebih ringan)
Aku mulai mengerti, Aki…

Ternyata dzikir bukan hanya lafadz,
tapi menghadirkan kesadaran dalam diri.

Aki Qurdi:
Nah… itu inti suluk.

Dzikir yang hidup akan menata akal.
Akal yang tenang akan menenangkan hati.
Hati yang tenang akan mendekatkan pada Allah.

Suluk itu bukan lari dari dunia,
tapi pulang ke dalam diri.


Penutup

Angan-angan tidak perlu dimatikan.
Ia cukup diarahkan dan disucikan.

Jika dibiarkan liar, ia melelahkan.
Jika dituntun dengan dzikir, ia menjadi jalan ilham.

Maka jangan sibuk memerangi pikiran…
cukup hadirkan dzikir di dalamnya.

Karena ketika tauhid hidup di akal,
khayal akan tunduk, dan hati akan tenang.

Mengendalikan Angan-angan yang Liar(Tentang Panjang Angan-Angan dan Dzikir Akal)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca