Kisah ini disampaikan ust restu, dipengajian al-ashkhabiyyah di musholah sirojudin desa nglaban pada 15 mei 2026
Dikutip dari hikayat ke 10 kitab an-nawidir
Malam itu laut berubah wajah.
Angin meraung seperti hendak merobek langit. Ombak menggulung tinggi menghantam kapal besar yang membawa ratusan penumpang. Orang-orang panik. Sebagian berteriak, sebagian menangis, sebagian lagi hanya mampu berpegangan sambil membaca doa seadanya.
Air laut mulai naik ke atas dek.
Kapal semakin berat.
Ketakutan menyelimuti seluruh penumpang.
Menurut orang-orang yang pernah menaiki kapal itu, belum pernah terjadi badai sedahsyat malam tersebut. Seolah lautan benar-benar diperintah untuk menelan semuanya sekaligus.
Namun di tengah kepanikan itu, ada satu sosok yang justru terlihat begitu tenang.
Seorang lelaki berjubah duduk di sudut kapal. Wajahnya teduh. Tidak tampak ketakutan sedikit pun. Ia diam seperti seseorang yang hatinya sedang tenggelam dalam kehadiran Allah.
Lalu sesuatu yang mustahil pun terjadi.
Lelaki itu berdiri.
Kemudian berjalan keluar dari kapal.
Bukan berenang.
Bukan menaiki perahu kecil.
Tetapi berjalan di atas permukaan laut.
Ombak besar yang membuat kapal nyaris tenggelam itu seolah menjadi pijakan baginya. Bahkan yang lebih menggetarkan, lelaki tersebut berdiri melakukan shalat di atas gelombang air yang berguncang hebat.
Semua penumpang terpaku.
Di antara mereka ada seorang lelaki — sebut saja Fulan — yang menyadari bahwa sosok tersebut bukan manusia biasa.
Dengan suara gemetar ia berteriak:
“Wahai waliyullah, tolonglah kami!”
Namun lelaki itu tidak menoleh.
Fulan kembali memohon:
“Demi Dzat yang memberimu kekuatan untuk beribadah kepada-Nya, selamatkan kami!”
Kali ini lelaki berjubah itu menoleh.
Dengan wajah polos ia bertanya:
“Apa yang terjadi pada kalian?”
Fulan sampai heran mendengar pertanyaan tersebut.
“Apakah engkau tidak melihat kapal ini hampir tenggelam diterjang ombak dan badai?”
Lelaki itu menjawab singkat:
“Dekatlah kepada Allah.”
“Bagaimana caranya?” tanya Fulan.
“Meninggalkan dunia.”
Jawaban itu menghantam hati mereka lebih keras daripada ombak yang menghantam kapal.
Fulan dan seluruh penumpang pun berkata:
“Kami akan melakukannya.”
Lelaki tersebut lalu berkata:
“Keluarlah dari kapal sambil membaca bismillah.”
Perintah yang tampak mustahil.
Namun dalam keadaan tak memiliki harapan selain Allah, seluruh penumpang mengikuti instruksi itu. Satu demi satu mereka turun dari kapal sambil membaca basmalah.
Dan keajaiban pun terjadi.
Mereka tidak tenggelam.
Mereka berjalan di atas air.
Lebih dari dua ratus orang berdiri di atas lautan bersama lelaki misterius itu, sementara di hadapan mata mereka sendiri kapal yang tadi mereka tumpangi perlahan tenggelam ke dasar laut.
Setelah semuanya selamat, lelaki itu berkata:
“Kalian sudah diselamatkan Allah. Sekarang pergilah.”
Namun Fulan masih penasaran.
“Siapakah engkau sebenarnya?”
Lelaki itu menjawab pelan:
“Aku adalah Uwais al-Qarni.”
Nama yang mengguncang hati para pecinta orang-orang saleh.
Tetapi kisah belum selesai.
Fulan lalu berkata bahwa di dalam kapal terdapat harta milik seorang penduduk Mesir yang hendak disedekahkan kepada fuqara Madinah. Semua harta itu ikut tenggelam bersama kapal.
Uwais al-Qarni bertanya:
“Jika Allah mengembalikan harta kalian, maukah kalian membagikannya kepada fakir miskin Madinah?”
Mereka menjawab:
“Mau.”
Uwais kemudian melaksanakan shalat dua rakaat.
Ia berdoa lirih.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada pertunjukan.
Hanya doa seorang hamba yang dekat dengan Rabb-nya.
Tiba-tiba laut kembali berguncang.
Dan kapal yang telah tenggelam itu muncul kembali dari dasar lautan lengkap bersama seluruh isinya.
Para penumpang menangis menyaksikan kejadian tersebut.
Mereka kembali naik ke kapal.
Sedangkan Uwais al-Qarni menghilang entah ke mana.
Kapal itu akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Dan ketika sampai di sana, para penumpang benar-benar menepati janji mereka: membagikan harta tersebut kepada para fuqara Madinah sampai disebutkan tidak tersisa lagi orang fakir di sana.
Begitulah kisah karamah Uwais al-Qarni yang dinukil dalam kitab Al-Nawadir karya Ahmad Shihabuddin al-Qalyubi.
Kadang Allah memperlihatkan kepada manusia bahwa yang menyelamatkan bukan kapal, bukan kekuatan, bukan kepintaran.
Tetapi hati yang benar-benar bergantung kepada-Nya.
Dan salah satu pelajaran terbesar dari kisah ini adalah:
Sedekah yang ikhlas dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah, bahkan di saat manusia sudah merasa tidak memiliki jalan keluar sama sekali.
Wallahu a’lam.



Tinggalkan Balasan