×

Hikayat Sumur, Ular, dan Tawakal: Memahami Kisah Sufi dengan Kacamata Hikmah, Bukan Sekadar Logika

Oleh: Jamaah Al Ashkhabiyyah
Disampaikan dalam pengajian Hilayat 11 Kitab An-Nawadir oleh Ust. Restu pada 12 Dzulhijjah 1447 H

Pengantar

Pada pembacaan Hikayat ke-11 Kitab An-Nawadir, dikisahkan seorang sufi bernama Thariq As-Siddiq yang terjatuh ke dalam sumur ketika sedang menempuh perjalanan. Setelah berada di dalam sumur, ada rombongan musafir yang hendak berangkat haji menutup sumur tersebut karena khawatir membahayakan orang lain.

Dalam keadaan gelap dan tanpa jalan keluar, Thariq As-Siddiq tidak berteriak meminta tolong, tidak pula panik. Ia memasrahkan dirinya kepada pertolongan Allah.

Di tengah kegelapan itu, ia melihat cahaya yang ternyata berasal dari mata seekor ular. Namun ular tersebut tidak mencelakakannya. Justru melalui sebab ular itulah akhirnya ia dapat keluar dari sumur dan terselamatkan.

Bagi sebagian jamaah, kisah ini terasa sulit dipahami. Bahkan ada yang merasa hikayat sebelumnya—tentang seorang ahli ibadah yang shalat di tengah lautan—lebih mudah dicerna dibandingkan kisah ular yang menolong seorang sufi keluar dari sumur.

Padahal justru di sinilah letak rahasia hikmah yang ingin disampaikan.


Menelusuri Jejak Kisah yang Mirip

Ketika ditelusuri lebih jauh, ditemukan adanya kisah yang sangat mirip dalam literatur tasawuf mengenai seorang sufi bernama Abu Hamzah Al-Baghdadi atau Abu Hamzah Al-Khurasani.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa beliau pernah terjatuh ke dalam sumur saat melakukan perjalanan menuju haji. Setelah sumur itu ditutup oleh orang-orang yang lewat, beliau memilih bertawakal kepada Allah dan tidak berteriak meminta pertolongan. Pada akhirnya beliau diselamatkan melalui seekor binatang yang menjadi sebab keluarnya dari sumur. Link temuan kisah sama

Kemiripan alur antara kisah dalam Hikayat ke-11 dan riwayat Abu Hamzah menunjukkan bahwa kemungkinan besar hikayat tersebut berasal dari rumpun kisah tasawuf yang sama, hanya berbeda penyebutan tokoh atau rincian peristiwanya.

Dalam tradisi hikayat klasik, hal semacam ini bukanlah sesuatu yang asing. Sering kali satu kisah berpindah dari satu kitab ke kitab lain, dari satu daerah ke daerah lain, dengan variasi nama tokoh ataupun bentuk peristiwa, sementara pesan ruhani yang dibawa tetap sama.


Mengapa Banyak Orang Sulit Mencerna Kisah Ini?

Kesulitan memahami hikayat seperti ini biasanya terjadi karena kisah tersebut dibaca hanya sebagai laporan sejarah.

Padahal tujuan utama para ulama tasawuf ketika menyampaikan hikayat bukan sekadar menceritakan kejadian masa lalu. Mereka ingin menunjukkan keadaan hati seorang hamba ketika berhadapan dengan takdir Allah.

Fokus utama cerita bukanlah:

  • Apakah ular benar-benar menolong?
  • Bagaimana cara ular mengangkat manusia?
  • Apakah peristiwa itu masuk akal secara ilmiah?

Melainkan:

  • Bagaimana sikap seorang hamba ketika semua sebab lahiriah tertutup?
  • Seberapa kuat keyakinannya kepada pertolongan Allah?
  • Apakah ia tetap tenang ketika tidak melihat jalan keluar?

Di sinilah nilai pendidikan ruhani yang ingin ditanamkan.


Tawakal Tidak Berarti Menolak Sebab

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap para sufi mengajarkan meninggalkan ikhtiar.

Padahal para ulama Ahlussunnah wal Jamaah membedakan antara:

Tawakal, yaitu menyandarkan hati kepada Allah.

dan

Asbab, yaitu menggunakan sebab-sebab yang Allah ciptakan.

Ketika Allah hendak menolong Nabi Musa, laut menjadi jalan.

Ketika Allah hendak menyelamatkan Nabi Yunus, ikan menjadi sebab.

Ketika Allah hendak menjaga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat hijrah, gua menjadi tempat perlindungan.

Maka jika dalam sebuah hikayat Allah menjadikan ular sebagai sebab keselamatan seorang hamba, inti pesannya bukan memuliakan ular, melainkan menunjukkan bahwa Allah mampu mengirim pertolongan dari arah yang tidak pernah diduga manusia.


Ketika Kisah Sufi Dijadikan Bahan Serangan Aqidah

Di masa sekarang, sebagian kelompok menjadikan kisah-kisah tasawuf seperti ini sebagai bahan untuk menyerang tradisi Ahlussunnah dan kaum sufi.

Salah satu contohnya adalah kajian yang mengkritik kisah Abu Hamzah yang masuk sumur dan menganggapnya sebagai bentuk penyimpangan atau talbis. Link meragukan kisah ini

Namun perlu dipahami bahwa ada perbedaan besar antara:

  1. Mengkritik sanad atau keabsahan riwayat.
  2. Menuduh seluruh pesan hikmah dalam kisah sebagai kesesatan.

Para ulama sejak dahulu memang berbeda pendapat mengenai sebagian hikayat para sufi. Akan tetapi mayoritas ulama tidak menjadikan hikayat-hikayat tersebut sebagai dasar aqidah.

Hikayat berfungsi sebagai:

  • Pelajaran akhlak.
  • Penguat semangat ibadah.
  • Gambaran tentang tawakal.
  • Renungan bagi para pencari jalan Allah.

Selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pokok aqidah Islam, maka hikayat dipahami sebagai ibrah (pelajaran), bukan sebagai dalil pokok agama.


Mengapa Pertolongan Allah Sering Datang dari Sesuatu yang Tidak Disukai?

Ada rahasia yang sangat halus dalam kisah ini.

Ular secara umum adalah makhluk yang ditakuti manusia.

Sumur adalah tempat yang menakutkan.

Kegelapan adalah keadaan yang membuat hati gelisah.

Namun justru dari tiga hal yang menakutkan itulah datang keselamatan.

Ini mengajarkan bahwa seorang hamba tidak boleh menilai takdir hanya dari penampilannya.

Terkadang sesuatu yang terlihat buruk justru menyimpan rahmat.

Sebaliknya, sesuatu yang tampak indah bisa saja menjadi ujian.

Karena itu para ahli ma’rifat sering mengatakan bahwa seorang salik harus belajar melihat tangan Allah di balik setiap kejadian, bukan hanya melihat bentuk kejadiannya.


Penutup

Jika Hikayat ke-11 dibaca hanya dengan ukuran logika, maka yang terlihat hanyalah cerita tentang seorang sufi, sebuah sumur, dan seekor ular.

Namun jika dibaca dengan mata hati, maka yang terlihat adalah pelajaran tentang:

  • Tawakal ketika semua jalan tertutup.
  • Ketenangan saat menghadapi takdir.
  • Keyakinan bahwa pertolongan Allah tidak terbatas oleh sebab.
  • Kesadaran bahwa Allah mampu mengirim keselamatan dari arah yang tidak pernah disangka manusia.

Karena itu, nilai terbesar dari hikayat ini bukan terletak pada ular yang menolong, melainkan pada hati seorang hamba yang tetap percaya kepada Allah ketika berada dalam kegelapan sumur dan tidak melihat jalan keluar sedikit pun.

Di situlah letak ruh dari kisah tersebut.

Hikayat Sumur, Ular, dan Tawakal: Memahami Kisah Sufi dengan Kacamata Hikmah, Bukan Sekadar Logika

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca