Ada masa-masa dalam perjalanan ruhani ketika seorang murid merasa dekat dengan gurunya. Nasihat mudah didengar, petunjuk terasa jelas, dan kehadiran sang guru seperti selalu menyertai langkah-langkahnya.
Namun ada pula masa yang berbeda.
Beberapa minggu terakhir aku merasakan keadaan yang sulit dijelaskan. Guruku ada, namun seperti tidak ada. Beliau terlihat, tetapi kehadirannya tidak terasa sebagaimana biasanya. Di grup jamiyah yang biasanya hidup dengan candaan, arahan, dan perhatian beliau kepada para anggota, aku seperti tidak menemukan sosok yang selama ini akrab mengawasi perjalanan kami.
Perasaan ini bukan pertama kali datang.
Aku pernah mengalaminya saat awal mengikuti jamiyah. Saat itu aku memahami bahwa guru sedang menjalankan tugas tertentu. Karena itu, ketika rasa yang sama kembali hadir, aku menduga mungkin ada keadaan yang serupa.
Tetapi kali ini terasa berbeda.
Aku tidak segera mencari jawaban kepada siapa pun. Selama kurang lebih dua minggu, aku memilih mencari pemahaman sendiri di bawah kolong langit. Aku memandang perjalanan hidup, memperhatikan keadaan batin, dan bertanya dalam diam:
“Pelajaran apa yang sedang diajarkan semesta kepadaku?”
Dari perenungan itu, muncul satu pemahaman.
Mungkin dzikir ruhani bukan sekadar jalan untuk naik menuju rasa kedekatan kepada Allah. Dzikir juga mengajarkan bagaimana seorang salik mengalami pendakian dan penurunan maqamat secara sadar. Ada saat hati dipenuhi cahaya, ada saat terasa kering. Ada masa dipenuhi rasa hadir, ada masa dipenuhi rasa kehilangan.
Keduanya bukan musuh perjalanan.
Keduanya adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.
Pada saat hati diangkat, seorang hamba belajar mensyukuri tajalli, yaitu penampakan rahmat dan cahaya Ilahi yang menyentuh batinnya. Sedangkan ketika hati diturunkan dan rasa-rasa itu dicabut sementara, seorang hamba belajar membersihkan dirinya dari ketergantungan kepada selain Allah.
Pendakian mengajarkan keindahan.
Penurunan mengajarkan keikhlasan.
Pendakian menghadirkan rasa.
Penurunan menguji kesungguhan.
Barangkali di sanalah hijab-hijab diri mulai tersingkap sedikit demi sedikit, hingga seorang pencari tidak lagi bergantung kepada keadaan batinnya sendiri, melainkan kepada Allah semata.
Lalu muncul pemahaman lain yang lebih dalam.
Mungkin inilah pelajaran yang sedang diajarkan kepada kami: jangan memandang guru hanya melalui kehadiran yang tampak. Jangan bergantung kepada sosok guru tanpa usaha berjalan sendiri.
Seorang guru sejati tidak selalu mendampingi murid dengan kata-kata. Kadang beliau mengajar dengan diam. Kadang beliau mengajar dengan jarak. Kadang beliau mengajar dengan membiarkan murid mencari sendiri apa yang selama ini hanya didengar dari orang lain.
Seakan-akan beliau tidak ada.
Padahal beliau tetap mengawasi.
Seakan-akan beliau menjauh.
Padahal beliau sedang mengajarkan cara berdiri dengan kaki sendiri.
Karena tujuan perjalanan ruhani bukanlah menjadikan murid bergantung kepada guru. Tujuannya adalah agar murid menemukan jalan menuju Allah dengan kesadaran, kesungguhan, dan pengalaman yang lahir dari perjuangannya sendiri.
Maka ketika guru terasa jauh, belum tentu itu tanda ditinggalkan.
Bisa jadi itu tanda bahwa pelajaran telah memasuki bab yang baru.
Bab ketika seorang murid harus belajar berjalan, sementara sang guru mengawasi dari kejauhan.
Dan mungkin, justru dalam keadaan itulah banyak rahasia perjalanan mulai dibukakan.



Tinggalkan Balasan