19 Desember 2025
Bagian 1: Yaumil Mahsyar dan Keadilan Allah
Pada Yaumil Mahsyar, hari dikumpulkannya seluruh manusia, akan berlangsung hisab (perhitungan amal).
Allah adalah Māliki Yaumid-Dīn — Pemilik dan Penguasa hari pembalasan — dan bertindak dengan keadilan yang sempurna.
Dikisahkan:
Seorang hamba menerima catatan amal berisi 100 catatan. 99 di antaranya adalah maksiat, hanya 1 amal kebaikan. Namun, Allah menimbang dengan keadilan dan rahmat-Nya.
Senjata pamungkas umat Nabi Muhammad ﷺ pada saat itu adalah:
“Lā ilāha illallāh”
Kalimat tauhid ini, jika diucapkan dengan iman yang benar, memiliki bobot yang sangat berat di sisi Allah, bahkan bisa mengalahkan banyak catatan dosa.
Bagian 2: Nabi Muhammad ﷺ Memikirkan Umatnya
Suatu ketika, Nabi Muhammad ﷺ didatangi Malaikat Jibril عليه السلام.
Ada dua kemungkinan kedatangan Jibril:
Membawa kabar dari Allah Karena Nabi sedang bersedih
Jibril berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah menitipkan salam kepadamu. Allah melihat engkau sedang bersedih.”
Padahal Allah Maha Mengetahui kesedihan Nabi.
Namun pertanyaan ini dituliskan dalam hadis agar umat manusia bisa memahami perasaan Nabi dan kasih sayangnya.
Nabi ﷺ bersabda:
“Sudah lama aku memikirkan umatku, kelak di hari kiamat.”
Menurut penjelasan Guru KH Masda:
Nabi sebenarnya sudah diberi gambaran kondisi hari kiamat saat Isra’ Mi’raj. Ini menunjukkan bahwa doa terbaik adalah mendoakan orang lain, bukan diri sendiri. Doa Nabi adalah doa yang tidak menuntut apa-apa untuk dirinya, tetapi penuh kasih untuk umatnya.
Bagian 3: Siapa Umat yang Dipikirkan Nabi?
Jibril bertanya:
“Wahai Muhammad, umat yang engkau pikirkan kelak itu yang kafir atau yang Islam?”
Nabi menjawab:
“Bukan, wahai Jibril. Yang aku pikirkan adalah umatku yang di dunia mengucapkan dzikir ‘Lā ilāha illallāh’.”
Bagian 4: Gambaran Nasib Ahli Dzikir dan yang Lalai
Jibril lalu memegang tangan Nabi ﷺ dan membawanya ke kuburan Bani Salamah.
Peristiwa Pertama
Jibril mengepakkan sayap kanannya di atas kuburan sambil berkata: “Bangkitlah engkau dengan izin Allah.” Maka bangkitlah seorang lelaki berwajah bersinar terang. Orang itu berkata: “Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn.”
Peristiwa Kedua
Jibril mengembalikan keadaan seperti semula. Lalu mengepakkan sayap kirinya. Bangkitlah seorang lelaki lain berwajah gelap dan bermata lebar. Orang itu berkata dengan penuh penyesalan: “Menyesal aku, sakit aku.”
Kemudian Jibril berkata kepada Nabi ﷺ:
“Engkau telah mengetahui, wahai Muhammad: umatmu yang memegang dzikir (tauhid) akan bercahaya, sedangkan yang tidak, wajahnya gelap.”
Inti Pelajaran dari Kisah Ini
Kalimat “Lā ilāha illallāh” adalah penyelamat utama umat Nabi Muhammad ﷺ. Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya luar biasa, bahkan melebihi kepentingan dirinya sendiri. Dzikir dan tauhid memberi cahaya, baik di alam kubur maupun di akhirat. Kelalaian dari dzikir membawa penyesalan dan kegelapan. Kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi mengajak umat agar tetap menjaga iman dan dzikir.



Tinggalkan Balasan