Malam Minggu bersejarah, menyambut datangnya bulan ROJAB (nanti malam / Malam Senin).
Kerawuhan tamu sepuh yang tidak saya kenal. Beliau berpesan:
“Sing tak bagekno nang jamaah iki ae.
Sing gelem ngamalno yo.
Kanggo niati opo ae wis, sing penting apik niate.
Gak kudu dagangan.”
Kemudian saya memberanikan diri matur:
+ “Mbah, nyuwun wiridan kersane urusan ndunyone digawe gampang.”
~ “Bismillah.. bondo bati.”
Saya kaget, lalu bertanya lagi:
+ “Cuman niku ta Mbah?”
~ “Yo.”
Masih belum yakin, saya lanjutkan:
+ “Diwaos ping pinten Mbah?”
~ “Pisan ae.”
(Aku mlongo. Uenak iki.)
Lalu saya bertanya kembali:
+ “Bakda sholat nopo Mbah?”
~ “Ora.”
Saya semakin bingung dan agak gemetar, intonasi Mbah mulai berbeda:
~ “Nalikane awakmu ngetokne shodaqoh, ngucapo:
‘BISMILLAH BONDO BATI’.”
Saya menjawab dengan penuh pasrah:
+ “Nggih Mbah, qobiltu.”
Beliau pun pamit:
“Wis, tak mulih aku.”
Saat saya melihat jam, tidak terasa sudah menunjukkan tengah tiga malam.
😭🤲
Ajastukum jami‘a.
Barokallohu fikum.
Penutup Refleksi Ruhani
Kadang Allah mengirim pelajaran bukan lewat kitab tebal atau majelis besar, melainkan lewat kalimat singkat dari seorang sepuh yang hadir sebentar, lalu pergi tanpa meninggalkan nama.
Bismillah bondo bati — sederhana di lisan, tetapi dalam maknanya:
segala urusan dunia dikembalikan pada adab batin, niat yang lurus, dan sedekah yang ikhlas.
Bukan soal banyaknya wirid, bukan soal waktu khusus, bukan pula soal hitungan —
tetapi soal saat hati rela melepas, di situlah pintu dilapangkan.
Rajab adalah bulan membuka pintu.
Membuka niat, membuka adab, membuka keikhlasan.
Dan siapa tahu, lewat sedekah yang kita kira kecil, Allah menurunkan bondo yang membawa bati — cukup, berkah, lan manfaat.
Mugi-mugi Allah paring manfaat,
lan sedaya niat ingkang sae diparingi dalan ingkang gampang.
Wallahu a‘lam.
Barokallohu fikum.




Tinggalkan Balasan