Saat mengikuti dzikir Ramadan, aku terkejut ketika guru membaca “Allahumma syafi’il Khalqi wa ‘ala alaih” sebanyak 1.500 kali dalam waktu sekitar 1 jam.
Aku pun mencoba menghitung. Jika dzikir itu harus dibaca sebanyak itu dalam satu jam, berarti setiap bacaan hanya punya waktu sekitar 2 detik. Aku sudah mengikuti dzikir ini empat kali, tetapi tidak pernah berhasil menyelesaikannya. Aku mulai ragu, “Apakah guruku benar-benar bisa menyelesaikan dzikir ini?”
Saat itu, tiba-tiba ada suara dalam batinku yang menegur:
“Tahukah kamu? Ahli dzikir itu ada tingkatannya. Jika seseorang sudah sampai pada tingkatan membuka titik-titik dzikir dalam tubuhnya, maka titik-titik itu yang akan melafalkan wirid tersebut.”
“Sadarkah kamu? Tasbih itu sebenarnya hanya sebagai alat untuk menghitung bagi orang yang masih dalam tahap awal dzikir.”
“Bagi ahli dzikir sejati, pelafalan dzikir bukan hanya terjadi di pikiran, hati, atau lisan, tetapi seluruh titik dalam tubuh ikut berzikir. Itu sebabnya mereka bisa membaca dzikir dengan cepat tanpa kehilangan maknanya.”
Dari situ, aku mulai memahami bahwa dzikir bukan hanya soal seberapa cepat kita membaca, tetapi bagaimana dzikir itu menyatu dengan diri kita.



Tinggalkan Balasan