×

Menemukan Aib dari Dawuh guruku

Bukan tentang ramai-ramai amal,

bukan tentang siapa terlihat paling sibuk di jalan Allah,

tetapi tentang jujur menghadapkan diri kepada-Nya.

Bagaimana mungkin aku meminta kaya,

sedang hidupku sendiri masih gemar bergelimang gemerlap.

Bagaimana mungkin aku berdoa diluaskan rezeki,

namun hatiku tak pernah merasa cukup.

Apakah pantas aku bersedekah berlebih di jalan Allah,

sementara dalam doa aku mengadu kekurangan di hadapan-Nya?

Apakah pantas aku mengeluh,

jika nikmat-nikmat kecil saja tak pernah benar-benar aku syukuri?

Betapa munafiknya aku. Saat melakukan amaliah, hatiku diam-diam menunggu balasan.

Saat berkhidmah, aku berharap dicatat. Saat bersungguh-sungguh,

aku ingin diperhatikan. Aku berlindung di keramba al-wilayah,

bernaung di bawah atap ashkhabiyyah, namun jiwaku masih sibuk mencari pengakuan manusia.

Saat aku beramal, aku berharap pandangan guruku tertuju kepadaku.

Betapa munafiknya aku. Maka di hadapan tulisan guruku,

aku tak menemukan apa-apa selain aibku sendiri. Yang kuminta kini bukanlah balasan amal,

bukan pula pujian atau pengakuan, melainkan kejujuran hati

agar amal tak lagi menjadi topeng, dan ibadah tak lagi menjadi transaksi.

Ya Allah,

jika Engkau belum menerima amalku, cukup jangan Engkau cabut rasa malu ini dari hatiku.

Menemukan Aib dari Dawuh guruku

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca