×

Perjalanan ruhani sang pendosa 6 Cahaya di Balik Sedekah Beras (29 romado 1446H)

Di sebuah majlis yang penuh berkah, tuan guru kami mendapat petunjuk agar majlis ini semakin berkembang. Salah satu ikhtiarnya adalah dengan bersedekah beras 5 kg. Setiap anggota jamiyah diminta membawa beras sebagai wujud keikhlasan. Saat daftar nama dibacakan, aku bersyukur namaku tidak tercantum dalam daftar utama. Bukan karena tidak ingin bersedekah, tetapi aku merasa masih anggota baru dan khawatir timbul kesombongan dalam hatiku jika namaku disebut.

Malam itu, majlis mengadakan riyadhoh, memanjatkan doa agar sedekah yang dikumpulkan menjadi jalan kebaikan bagi seluruh anggota. Saat guru kami menyentuh beras yang telah dikumpulkan, aku melihat sesuatu yang luar biasa. Lima cahaya muncul, masing-masing melambangkan nikmat yang akan membantu para anggota menemukan jalan hidup mereka:

1. Cahaya putih 

2. Cahaya kuning 

3. Cahaya hijau 

4. Cahaya coklat (biru)

5. Cahaya merah 

Saat itu, aku menyadari bahwa setiap orang membutuhkan salah satu dari lima nikmat ini untuk menemukan kebenaran dalam hidupnya.

Tiba-tiba, suara berbisik di batinku memberitahuku bahwa malaikat akan datang. Seketika, aku mengirimkan Al-Fatihah untuk beliau. Aku mendengar suara batin yang mengatakan malaikat turun dari langit, tidak menyentuh tanah, tetapi bertengger di dedaunan, menyaksikan proses penulisan nasib nikmat di atas beras sedekah. Saat itu hujan turun, tetapi anehnya ketika guru kami mulai mendoakan beras, hujan menjadi rintik ringan, seolah tertahan oleh keberkahan (aku yakin itu sayap beliau), Dan begitu doa selesai, hujan kembali turun agak deras.

Kemudian, Ustadz Bahrul Ulum membacakan Surah Al-Bayyinah. Wajah malaikat tampak gembira sebelum beliau kembali ke langit. Setelah itu, para anggota melanjutkan wirid, dan aku merasakan seakan penduduk langit mengamini riyadhoh kami. Acara pun ditutup dengan bacaan Ya Dzal Jalali wal Ikram, penduduk bumi seakan mengamini riyadoh kami, dan seluruh majlis penuh dengan keberkahan.

Namun, ada satu hal yang membuatku gelisah. Aku mulai bertanya-tanya: Nikmat apa yang tertulis pada berasku? Jika itu nikmat dunia seperti harta, aku bisa membalasnya dengan lebih banyak sedekah untuk majlis. Tapi bagaimana jika itu nikmat iman? Atau nikmat keluarga? Atau nikmat waktu? Apa yang bisa aku berikan sebagai balasan?

Malam itu, aku merenung. Aku sadar bahwa setiap nikmat yang Allah berikan adalah amanah. Dan ketika kita mendapatkannya, kita harus mencari cara untuk mensyukurinya dengan sebaik mungkin.

Perjalanan ruhani sang pendosa 6 Cahaya di Balik Sedekah Beras (29 romado 1446H)

1 comment

comments user
Anonim

Masok

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca