Pada malam ke-13, wirid ditutup dengan doa menghadap bulan:
“Allahumma sumber dunia, dalilnya lafadz Rahama, malaikat Qasim, Nabi Sulaiman, gedungnya Allah, kuncinya Rasulullah, Laa ilaha illallah.”
Saat aku melafalkan doa ini, tiba-tiba ada suara dalam batinku yang menggerutu:
“Ada orang yang membaca doa ini sambil berpikir ingin meminta sesuatu dari bulan. Wah, celaka! Tapi untungnya, doa ini diakhiri dengan kalimat Laa ilaha illallah. Semoga mereka paham dan tetap selamat dalam keimanan.”
Aku pun bertanya dalam hati:
“Apa sebenarnya maksud dari doa menghadap bulan ini?”
Lalu batinku menjawab:
“Ketahuilah, menghadap bulan itu bukan untuk menyembah bulan, tetapi sebagai pengingat akan sifat Rahim Allah.”
• Matahari melambangkan sifat Rahman Allah (kasih sayang-Nya yang diberikan kepada semua makhluk, baik mukmin maupun kafir).
• Sedangkan bulan melambangkan sifat Rahim Allah (kasih sayang-Nya yang khusus untuk orang-orang beriman).
Kemudian, makna dari doa ini semakin jelas:
• “Dalil lafadz Rahman” → Menjelaskan bahwa sifat Rahim Allah hanya diberikan kepada orang mukmin.
• “Malaikat Qasim” → Malaikat yang bertugas membagi rezeki, khusus untuk orang mukmin.
• “Seperti raja dunia, Nabi Sulaiman” → Sebagai simbol kekuasaan dan rezeki yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya.
• “Allah adalah pemilik doa ini” → Doa ini berasal dari kasih sayang Allah kepada Nabi Muhammad.
Jadi, berdoa menghadap bulan bukan berarti meminta kepada bulan, tetapi sebagai pengingat bahwa Allah memiliki kasih sayang khusus bagi orang-orang beriman.



Tinggalkan Balasan