Jumat siang itu, salah satu jamaah membagikan sebuah video AI berisi doa sholawat ummi. Secara makna, pesan yang disampaikan memang baik. Namun pelafalan yang dihasilkan oleh AI terdengar kurang tepat, terutama pada makhārijul ḥurūf.
Hal tersebut langsung mendapat perhatian dan teguran dari guru kami. Teguran yang bukan sekadar kritik teknis, tetapi peringatan serius tentang bahaya spiritual jika hal seperti ini diviralkan dan diamalkan tanpa ilmu.
Guru kami dawuh:
“ucapan gak bener ojo di viralno bahaya,
mergo goegle gak pernah belajar makhorijul huruf,
iku nek diamalno wong awam ucapane ngunu iso ngrusak akidah,
bahayyyyya……iso gak di akui ummate Njeng Nabi”
Teguran itu menohok, bukan untuk menjatuhkan teknologi, tetapi untuk menjaga kemurnian adab dalam beragama. Karena dalam Islam, lafal bukan sekadar bunyi, melainkan amanah makna dan aqidah.
Kemudian beliau menutup dengan doa dan dawuh yang sangat dalam maknanya:
“MENUNGSO MEMANG AKEH
RENCANANE
TAPI SAYANG KURANGAN DANA
TERUS OPO ARTINE AKEH
RENCANANE
TAPI GAK DUWE DANA
BECIKLAH GAK DUWE
RENCANA
TAPI DANA NE TURAH2….
ALLOHUMMA YA ROBBANA
CUKUPONO,LUBERONO
LAA ILAHA ILLALLOH
MUHAMMADUR ROSULULLOH.”
(Refleksi Pribadi)
1. AI Tidak Punya Sanad
AI belajar dari data, bukan dari guru.
Ia mengenal teks, tetapi tidak mengenal adab, tidak punya sanad keilmuan, dan tidak pernah duduk di hadapan mursyid untuk belajar makhraj, sifat huruf, atau ruh sebuah doa.
Dalam perkara doa dan sholawat, kesalahan satu huruf bisa menggeser makna, bahkan berpotensi merusak aqidah jika diamalkan terus-menerus oleh orang awam.
2. Masalahnya Bukan Teknologi, Tapi Viral Tanpa Ilmu
Guru tidak melarang teknologi secara mutlak.
Yang beliau ingatkan adalah “ojo di viralno” — jangan diviralkan sesuatu yang belum benar secara ilmu.
Karena viral itu punya daya rusak:
Orang awam mengamalkan tanpa tahu Salah ucap dianggap biasa Lama-lama yang salah terasa benar
3. Agama Ini Dijaga dengan Lisan yang Benar
Islam bukan hanya niat baik, tetapi juga ucapan yang lurus.
Makhorijul huruf adalah bagian dari amanah risalah Nabi ﷺ.
Jika lisan rusak, dzikir rusak.
Jika dzikir rusak, rasa rusak.
Jika rasa rusak, arah hidup ikut rusak.
4. Penutup Guru: Tentang Rencana dan Kecukupan
Dawuh terakhir guru sebenarnya menampar kesombongan manusia modern:
Banyak rencana Banyak konsep Banyak teknologi tapi lupa cukup dan luber dari Allah
Lebih baik:
sedikit rencana tapi ditopang kecukupan dari Allah daripada banyak rencana tapi kosong dari pertolongan-Nya
Doa beliau bukan sekadar ekonomi, tapi tauhid ketergantungan:
cukupono, luberono
cukupkan iman kami, limpahkan berkah-Mu
dalam naungan
LAA ILAHA ILLALLOH
MUHAMMADUR ROSULULLOH
Penutup
Tulisan ini bukan untuk menolak zaman,
tetapi untuk menjaga adab di tengah kemajuan.
Karena tidak semua yang canggih itu selamat,
dan tidak semua yang viral itu benar.
Ilmu tetap harus bersanad.
Dzikir tetap harus beradab.
Dan lisan tetap harus dijaga.





1 comment