Tentang Islam, Persaudaraan, dan Ujian Jalan Batin
Jum’at sering dipahami sebagai hari mulia. Namun lebih dari itu, Jum’at adalah penanda komitmen. Di awal kalender rutinan tahun 2026, pesan guru kami, KH. Masda Andi, hadir sebagai pengingat arah: bahwa kebesaran Islam tidak lahir dari kesalehan yang terputus dari kemanusiaan, dan bahwa perjalanan ruhani bukan panggung untuk merasa lebih suci.
Beliau dawuh:
“Islam iso gede ora sebab poso dalail terus, qiyamul lail terus. Ngono iku ora nguntungke Islam blassss, paling banter awak dewe terkenal wali ae….😆😆😆🤣🫢🥹.
Tapi sing nguntungke Islam iku ketika hati kita berkomitmen untuk menjalin kesinambungan persaudaraan/ashkhabiyyah sesama Muslim mbuh alim, mbuh preman,mbuh pedotan,mbuh penduso kuabeh kudu di konconi nggih..ojo pilih pilih…..bukan hanya sesama anggota jam’iyyah tok.
eling elingen iki
Pendaftaran wali Allah saiki sepi🤣🫢, mergo menungso saiki sibuk mencari cintanya makhluk. dudu cinta Tuhannya”
Kutipan ini menampar kesadaran kita:
Islam tidak tumbuh besar hanya karena banyaknya orang yang rajin riyadlah pribadi. Islam tumbuh ketika hati-hati kaum Muslim saling terhubung, saling menguatkan, saling menanggung, tanpa syarat status moral, kelompok, atau citra kesalehan.
Ashkhabiyyah—persaudaraan sejati—tidak memilih-milih.
Bukan hanya sesama jamaah, bukan hanya yang tampak alim, tapi semua yang masih bersyahadat: yang jatuh, yang salah, yang belum sampai, tetap harus dirangkul.
Lalu beliau melanjutkan dengan peringatan yang jauh lebih dalam, khusus bagi para penempuh jalan batin:
“Maka….Wahai Saudaraku/ashkhabiii penempuh jalan rahasia,
Ketahuilah, terbukanya telinga batin (kasyaf) adalah ujian amanah, bukan lencana kemuliaan. Barangsiapa yang Allah izinkan mendengar kabar yang jauh, maka wajib baginya memiliki hati seluas lautan untuk mengubur aib sesama, bukan menyebarkannya.
Jangan sampai keasyikane awak dewe mendengar suara makhluk membuat hatine awak dewe tuli dari panggilan Tuhanmu. Jika awak dewe mendengar pujian, takutlah pada Istidraj. Jika awk deweu mendengar rahasia buruk, tutuplah dengan Doa.
Ingatlah satu kaidah ini: “Carilah Sang Pemilik Suara (Allah), jangan terhenti hanya pada suara-Nya.”
Ini adalah kaidah besar dalam tasawuf:
kasyaf bukan tujuan, tapi cobaan.
Mendengar yang tidak didengar orang lain bukan tanda kemuliaan, melainkan beban amanah. Semakin terbuka batin seseorang, semakin besar kewajibannya untuk:
menutup aib, bukan membuka, berdoa, bukan menghakimi, takut pada istidraj ketika dipuji, dan semakin rendah hati dalam diam.
Bahaya terbesar bagi penempuh jalan rahasia bukan maksiat lahir, tapi terhenti pada pengalaman, sibuk dengan suara, isyarat, atau bisikan, hingga lupa mencari Pemilik Suara itu sendiri.
Karena itu, pesan ini sejatinya bukan hanya untuk para salik, tapi untuk siapa pun yang mengaku berjalan menuju Allah:
jangan sampai kesibukan spiritual justru membuat kita tuli terhadap panggilan Tuhan yang paling dasar—yaitu menjaga hati, persaudaraan, dan adab.
Semoga Jum’at ini, dan kalender rutinan yang kita mulai di tahun 2026, bukan hanya mencatat amalan, tapi juga memperbaiki arah.
Wallahu a‘lam.





Tinggalkan Balasan