×

Wewelar yang hanya lewat Layar

Guru itu menatap layar ponselnya cukup lama.

Pesan terakhir masih ada di sana, belum tenggelam oleh obrolan lain.

“Manggono ngqof ojo nang nun.

Belajar istiqomah, jangan mengejar karomah.”

Beliau mengirimkan kalimat itu ke tiga grup WhatsApp majlis ashkhabiyyah.

Tidak sekali.

Beliau menuliskannya dengan hati-hati, lalu mengulanginya tiga kali, seolah berharap pengulangan bisa menggantikan suara dan tatapan.

Dalam batinnya ia bertanya:

“Apakah pesan yang baik memang harus diulang-ulang agar dianggap penting?”

Belum yakin cukup, beliau menjadikannya status WhatsApp dua kali dalam satu hari.

Pagi, lalu sore.

Bukan untuk pamer nasihat, tapi karena ada kegelisahan yang tak bisa ia ucapkan langsung.

Beliau membaca kembali status itu.

“Aku tidak sedang melarang karomah,” batinnya berbicara,

“aku hanya takut kalian tersesat arah.

Ngqof itu tempat berdiri, nun itu tujuan.

Kalau berdirinya belum kuat, mengapa ingin cepat sampai?”

Namun yang ia lihat di percakapan grup justru hal lain.

Pertanyaan-pertanyaan tentang tanda, mimpi, kejadian aneh.

Cerita-cerita yang lebih bersemangat saat membahas keistimewaan,

namun sunyi ketika diajak bicara tentang kesabaran dan kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari.

Guru itu menarik napas pelan.

“Apa istiqomah memang terlalu biasa sampai tak dianggap berharga?”

“Atau aku yang terlalu berharap pada pesan singkat di layar?”

Jarinya sempat ragu sebelum mengunci ponsel.

“Tugasku hanya mengingatkan,” katanya dalam hati,

“meski hanya lewat tulisan,

meski harus diulang,

meski hanya menjadi status yang dilewati.”

Sore itu, beliau tidak menulis lagi.

Beliau memilih diam, membiarkan pesan itu bekerja dengan caranya sendiri.

Sebab beliau tahu,

wewelar guru bukan soal dibaca atau tidak, tetapi soal kapan hati siap menerima.

Wewelar yang hanya lewat Layar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca