×

Seribu satu jurus, sanad tetap lurus “Sang Kyai Dana Talangan”

Malam itu, angin di halaman majlis terasa biasa saja. Tidak ada tanda-tanda acara besar, tidak pula hiruk pikuk persiapan. Hanya tikar, termos teh, dan beberapa wajah jamaah yang sudah saling hafal satu sama lain.

Rapat penutupan sementara Majlis Ashkhabiyyah baru saja dimulai.

Mas Didit, selaku ketua panitia penutupan sementara, membuka catatan kecilnya. Suaranya pelan tapi tegas.

“Ini laporan terakhir. Dana kas tersisa sekian…,” ia berhenti sejenak, menatap angka di kertas. “Kalau untuk konsumsi dan operasional penutupan minggu depan, masih kurang.”

Beberapa jamaah saling pandang. Tidak panik, tapi juga tidak kaget. Situasi seperti ini bukan hal baru.

Mas Sony langsung menyender, tersenyum sambil mengangkat alis.

“Tenang wae, Mas… ana Gusse. Lak kurang, mesti ditambal,” celetuknya, disambut tawa kecil.

Mas Agus ikut menimpali,

“Wis langganan iki. Dana majlis minus, sing deg-degan dudu jamaah.”

Semua tertawa. Semua kecuali satu orang.

KH Masda Andi—yang oleh jamaah sering dipanggil Gus Da—hanya tersenyum tipis. Tangannya tetap di dalam saku bajunya. Tidak ikut tertawa, tapi juga tidak terlihat keberatan.

Ia membuka suara dengan nada datar.

“Ya dicukupkan saja. Yang penting acaranya jalan, jamaah khusyuk, dan adab tetap dijaga.”

Mas Didit mengangguk. Ia tahu betul maksud kalimat itu. Tanpa diumumkan, tanpa dicatat di papan laporan, dana itu akan kembali “dicukupkan”.

Seperti biasa.

Julukan itu—“kyai dana talangan”—tidak pernah datang dari mimbar. Ia lahir dari kebiasaan yang berulang. Saat ziarah, ketika bus belum lunas. Saat acara internal, ketika konsumsi mendadak bertambah. Bahkan ketika kas benar-benar nol, majlis tetap berjalan.

Dan yang paling sering heran justru jamaah baru.

“Kasnya dari mana, Gus?” tanya salah satu dari mereka suatu hari.

Gusse hanya menjawab singkat,

“Ndak usah dipikir. Fokus amaliyah.”

Namun ada satu hal yang tak pernah beliau longgarkan: sanad amaliah.

Dalam hal dana, beliau longgar. Tapi ketika menyangkut wirid, ijazah, atau bacaan yang dibagikan ke jamaah, sikapnya berubah total. Setiap lafadz ditelusuri, setiap amalan dijaga jalurnya.

“Amal itu bukan soal banyak atau ramai,” katanya suatu malam, “tapi soal dari siapa kita menerima dan ke mana kita menyambung.”

Mas Sony pernah bercanda,

“Gus, duit njenengan entek ora popo, tapi sanad ora iso kurang siji wae.”

Gusse tersenyum.

“Kalau duit, insyaAllah bisa dicari. Tapi kalau sanad rusak, yang repot bukan aku—jamaah semua.”

Rapat malam itu pun ditutup tanpa keputusan rumit. Tidak ada penggalangan dana mendadak. Tidak ada tekanan. Jamaah pulang dengan tenang.

Mas Agus berbisik sambil membersikah bekas puntung rokok,

“Majlis iki unik yo. Danane sering seret, tapi jalannya alus.”

Mas Didit menghela napas pelan.

“Alus karena ada yang diam-diam nahan beban.”

Di sudut ruangan, Gusse berdiri, memasukkan kembali catatan ke dalam sakunya. Tak ada pengumuman. Tak ada laporan.

Hanya satu kebiasaan yang terus berjalan:

Majlis tetap hidup, jamaah tetap tenang,

dan dana—entah bagaimana—selalu “ketambal”.

Seribu satu jurus, sanad tetap lurus “Sang Kyai Dana Talangan”

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca