Temanku bercerita, pada awal ia bergabung dalam jam’iyah Ashkhabiyyah, semangatnya begitu menggebu. Ia mengira jam’iyah itu adalah jalan cepat menuju Tuhan—instan dan pasti. Maka ia menjalani wirid dan suluk dengan, yang telah di ijasahkan dengan penuh keyakinan, hampir tanpa jeda.
Suatu malam, ketika ia hendak tidur, ia merasakan angin masuk ke kamarnya. Udara berubah dingin dan sunyi. Dalam keheningan itu, terdengar suara samar, seakan sedang mencari seseorang yang biasa menempati sebuah tempat khusus, namun saat itu tidak berada di sana.
Ia terkejut. Dadanya berdegup kencang. Namun ia memilih diam, menganggap mungkin itu hanya kelelahan batin.
Beberapa waktu kemudian, seusai wirid Saman, ia masih berdiam di tempatnya. Tiba-tiba muncul gambaran langit yang luas. Di sana terlihat kantong-kantong tipis berwarna putih melayang-layang. Di antaranya ada beberapa yang berwarna kuning, memancarkan cahaya lembut.
Dalam hatinya ia bertanya,
“Di manakah ini?”
Sebuah suara menjawab tanpa rupa:
“Itu adalah ruh-ruh manusia yang akan diturunkan ke bumi. Yang berwarna kuning adalah ruh pilihan, ruh yang telah menjaga dzikir meski masih di alam ruh.”
Belum sempat ia memahami penjelasan itu, tiba-tiba ia dipanggil. Jarinya diikat dengan benang yang sangat tipis, namun terasa kuat ketika ditarik.
“Ikuti arah benang ini,” ujar suara itu.
Ia pun mengikuti benang tersebut hingga tiba di suatu tempat. Di sana ia melihat dua orang sepuh dengan wajah teduh. Di samping mereka berdiri seorang pendamping yang tampak lebih muda, namun auranya dalam dan menenangkan.
Salah satu orang sepuh itu memberinya sehelai daun sukun.
Dengan suara gemetar ia bertanya,
“Panjenengan sinten?”
Pendamping itu hanya menjawab,
“Beliau adalah seorang guru.”
Hatinya bergetar. Ia menatap daun sukun di tangannya. Dalam benaknya muncul makna yang membuatnya takut: sukun—berhenti. Dan berhenti, baginya saat itu, terasa seperti akhir.
Ia terbangun dari tempat wirid dengan napas tersengal. Hari-hari setelahnya ia diliputi kegelisahan. Ia mencoba bercerita kepada seorang teman majelis, namun cerita itu menyebar hingga sampai kepada gurunya.
Tak lama kemudian, sang guru menghubunginya. Beliau menjelaskan bahwa sosok yang ia lihat merupakan bagian dari mata rantai sanad dzikir yang sedang ia amalkan.
Ia terkejut.
Dengan hati-hati ia bertanya tentang makna daun sukun.
Sang guru hanya tersenyum dan berkata singkat,
“InsyaAllah, itu pertanda rezeki.”
Tak ada penjelasan panjang. Hanya senyum dan ketenangan.
Wallāhu a‘lam.
Sekitar satu bulan setelah kejadian itu, temanku mulai memahami potongan-potongan isyarah tersebut. Ia mengerti bahwa pada malam itu, sosok yang biasa menempati tempatnya memang sedang menjalankan amanah tertentu. Di waktu yang sama, sang guru juga tengah diuji dengan cobaan berat dalam keluarganya.
Saat itulah ia sadar: daun sukun bukan isyarat kematian, melainkan isyarat berhenti dari rasa merasa paling benar. Berhenti tergesa-gesa. Berhenti mengira jalan menuju Tuhan selalu lapang tanpa ujian.
Ia hanyalah seorang pendosa yang sedang diajari untuk melambat, membaca tanda, dan menundukkan hati.
Dan hingga kini, jejak itu masih ia pelajari, setapak demi setapak.
Tambahan:
Ketika Allah Menyuruh Kita Berhenti Sejenak
Tidak semua kegelisahan adalah tanda kita jauh dari Allah.
Kadang justru sebaliknya—itu pertanda kita sedang diperhatikan.
Ada orang yang rajin ibadah, tekun wirid, tidak pernah meninggalkan amalan. Namun tiba-tiba hatinya gelisah, pikirannya kacau, dan langkahnya terasa berat. Ia bertanya-tanya, “Apa yang salah denganku?”
Padahal, bisa jadi Allah sedang menyuruhnya berhenti sejenak.
Berhenti dari merasa cepat sampai.
Berhenti dari merasa lebih dulu paham.
Berhenti dari mengira jalan kepada Allah selalu ringan tanpa ujian.
Dalam perjalanan ruhani, Allah sering berbicara dengan isyarah, bukan dengan suara yang keras. Kadang lewat pertemuan, kadang lewat kegelisahan, bahkan lewat ketakutan yang tidak kita mengerti saat itu.
Seperti daun sukun—ia bukan tanda akhir, tapi tanda ditenangkan.
Disukunkan. Dihentikan sementara.
Agar hati bisa menunduk, bukan meninggi.
Tidak semua yang terasa berat itu buruk.
Tidak semua yang membuat kita takut itu ancaman.
Bisa jadi itu adalah cara Allah membersihkan niat kita
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Allah Maha Mengetahui mana yang paling benar.



Tinggalkan Balasan