×

Detik-Detik Menjelang Penutupan: Isyarat Ruhani dari Guru di Gubuk Kawah Condro Dimuko

klik untuk melihat video yang dibagikan

Menjelang penutupan sementara Jam’iyyah Al Ashkhabiyyah, suasana batin jama’ah seakan ditarik masuk ke ruang yang lebih dalam. Tidak ramai oleh acara, tidak hiruk oleh simbol, tetapi sunyi oleh makna. Pada saat-saat seperti inilah guru kami, KH Masda Andi, justru sering membagi tulisan—singkat, sederhana, namun menghujam tepat ke inti hati.

Tulisan-tulisan itu bukan sekadar pesan. Ia seperti isyarat, seperti ketukan halus dari langit yang hanya bisa didengar oleh hati yang sedang waspada.

Guru kami menulis:

DETIK DETIK MENUNGGU ACARA PENUTUPAN JAM’IYYAH AL ASHKHABIYYAH………..

gubuk kawah condro dimuko

Eling…elingen iki….tenan…tenan iki….

(sendiko dawuh Mbah …..)

awakmu nglakoni dosa gak opo opo

tapi kowe ojo sampek gak telaten tobat,…gak telaten istighfar

lan ojo sampek naliko kowe tobat, kalah semangat ambek naliko awakmu nglakoni duso.

bedane wong iman garo wong gak iman artine bedane wong sing arep slamet garo sing gak arep slamet iku gampang.

“idza dzukiro dzakaro” ketika diingatkan mau mendengarkan……….

iku berarti alamat slamet,…tapi kowe nek wis dinasehati wong, dielingke wong, wis gak iso,……

berarti kowe iki ngenteni dielingke Pengeran, dielingke Pengeran kui ngeri tenan leeee……

dielingke kok dielingke Pengeran, iku rodo gawat lee.

Ya Alloh Ya Robb diujung Bulan Rojab, bulan ampunan, bulan diterimanya tobat…….

ampunilah kami semua keluarga besar jama’ah Al Ashkhabiyyah,

jadikanlah kami semua golongan yang ahli taubat dan berilah kami semua hati yang lembut yang selalu mau menerima nasehat nasehat baik…..

dan matikanlah kami semua dalam KHUSNUL KHOTIMAH…..AAMIIN

Sebagai murid, kami tidak berani menafsirkan berlebihan. Namun dalam adab tasawuf, diam yang merenung sering kali lebih fasih daripada bicara yang panjang. Pesan ini seakan mengajak kami kembali kepada perkara paling mendasar dalam suluk: taubat yang jujur dan hati yang mau diingatkan.

Taubat: Bukan Bebas dari Dosa, tapi Setia Kembali

Guru tidak pernah menuntut muridnya menjadi suci tanpa cela. Bahkan dengan bahasa Jawa yang sangat membumi, beliau menegaskan: awakmu nglakoni dosa gak opo opo. Ini bukan pembenaran dosa, melainkan pengakuan hakikat manusia. Bahwa jatuh itu manusiawi.

Namun garis tegasnya ada pada kelanjutan pesan itu: ojo sampek gak telaten tobat, gak telaten istighfar. Dalam tasawuf, bukan dosa yang paling ditakuti, melainkan berhentinya seseorang dari kembali. Lebih berbahaya lagi jika semangat taubat kalah oleh semangat berbuat dosa. Di situlah hati mulai mati pelan-pelan.

Isyarat Keselamatan: Mau Mendengar Saat Diingatkan

Guru mengutip kalimat yang bersumber dari makna Al-Qur’an dan hadits:

“idza dzukiro dzakaro” — ketika diingatkan, ia mau ingat.

Inilah alamat keselamatan. Bukan banyaknya ilmu, bukan tingginya wirid, tetapi kelembutan hati saat dinasihati. Dalam tasawuf, hati yang masih bisa bergetar oleh nasihat manusia adalah hati yang masih hidup.

Sebaliknya, jika sudah tidak bisa dinasihati siapa pun, maka seseorang sedang menunggu peringatan langsung dari Allah. Dan guru kami menyebutnya dengan bahasa yang sangat jujur dan menggetarkan: ngeri tenan… rodo gawat. Karena peringatan Allah tidak selalu datang dalam bentuk kata, kadang berupa kejadian yang mengguncang hidup.

Penutupan Majlis: Ditutup di Lahir, Dibuka di Batin

Menjelang penutupan sementara majlis, pesan-pesan seperti ini terasa bukan sebagai akhir, melainkan pembukaan pintu ke dalam diri. Seolah guru ingin mengatakan bahwa majlis sejati tidak pernah tutup—ia berpindah dari lantai gubuk ke relung hati masing-masing jama’ah.

Doa di ujung tulisan beliau, yang dipanjatkan di akhir Bulan Rajab, adalah doa kolektif: agar kami menjadi ahli taubat, diberi hati yang lembut, dan ditutup usia dalam khusnul khotimah. Dalam tasawuf, inilah puncak harapan seorang murid: bukan karamah, bukan maqam, tetapi akhir yang diridhai.

Sebagai murid, kami hanya bisa menundukkan kepala, menyimpan pesan ini dalam-dalam, dan berusaha mengamalkannya semampu kami. Jika tulisan ini terasa mengetuk hati, itu bukan karena indahnya kata, melainkan karena barokah nasihat guru yang lahir dari laku, bukan sekadar pikir.

Semoga kami semua selalu termasuk orang-orang yang eling nalika dielingke, dan tidak menunggu peringatan Allah dalam bentuk yang menakutkan.

Allahumma ahyinaa bi al-inabah, wa amitnaa ‘alaa husnil khatimah. Aamiin.

Detik-Detik Menjelang Penutupan: Isyarat Ruhani dari Guru di Gubuk Kawah Condro Dimuko

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca