Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Jika malam ini engkau hadir, engkau akan merasakan bahwa langkahmu melambat sejak memasuki halaman. Tanah masih lembap. Hujan turun rintik-rintik—tidak deras—seolah langit pun menjaga suaranya agar tidak menutupi dzikir.
Aroma bukhur menyambut lebih dulu daripada salam. Wangi itu tidak menusuk, tetapi pelan, merayap, lalu menetap di dada. Udara sejuk. Nafas terasa lebih panjang dari biasanya.
Kami duduk sebagaimana murid duduk:
tidak merasa datang untuk mengisi,
tetapi untuk menerima.
Lalu suara guru kami, KH Masda Andi, terdengar. Tidak meninggi, tidak pula tergesa. Hanya cukup untuk membuat hati diam.
“Mugi-mugi Jumat Sabtu diparingi terang.
Sak iki udan, nggih mboten napa-napa.”
Kalimat itu jatuh perlahan, seperti hujan yang sedang turun. Tidak ada yang menimpali. Tidak ada yang merasa perlu bertanya. Dalam tasawuf, saat seperti ini bukan untuk dijelaskan, tetapi dirasakan.
Wirid Dimulai: Nafas, Nama, dan Pengakuan
Ketika wirid dimulai, engkau akan menyadari satu hal:
tidak ada yang berlomba cepat.
Tidak ada yang mengeraskan suara.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm dibaca 111 kali.
Setiap lafadz terasa seperti mengetuk pintu batin sendiri.
Seolah-olah kita diingatkan: jangan masuk sebelum mengetuk.
Lalu Rabbighfir lī warḥamnī wa tub ‘alayya dibaca 70 kali.
Pada bacaan ke sekian, engkau mungkin menunduk lebih dalam.
Bukan karena lelah, tapi karena sadar:
yang kita bawa ke majelis ini hanyalah butuh.
Guru membuka dengan doa “Laqad jā`akum rasūlun…”.
Nama Rasulullah ﷺ disebut.
Dan anehnya, dada terasa lapang, seolah ada yang mengatur ulang letak hati.
Kemudian Sholawat Jibril dilantunkan 100 kali.
Jika engkau peka, pada hitungan-hitungannya yang akhir, suasana menjadi sunyi—bukan karena tidak ada suara, tetapi karena hati tidak ingin berbicara lagi.
Isyarat Diam: Istirahat yang Bukan Berhenti
Disampaikan bahwa rotib kalih Bulughul Marom sementara diistirahatkan. Tidak ada raut kecewa. Tidak ada gumam.
Seorang murid tahu:
yang diistirahatkan adalah bacaan,
bukan hubungan.
Lalu terdengar permintaan maaf kepada Ustadz Bahrul, dari guru kami. Pada saat itu, engkau akan merasakan sesuatu yang halus:
jam’iyah ini dijaga dengan akhlak, bukan hanya wirid.
Pagi Tadi: Tamu yang Menyisakan Rasa
Guru menyebut tamu yang datang pagi tadi. Masih ada hubungan kalihMbah Rodiah disebut. Juga Gus Mik &Mbah Imam.
Tidak panjang penjelasannya.
Namun di ruang seperti ini, nama bukan sekadar nama.
Ia membawa jejak, sanad, dan kisah yang tidak perlu diucapkan.
Sebagian dari kami hanya saling pandang.
Sebagian menunduk.
Karena kami paham: tidak semua pertemuan dimaksudkan untuk diceritakan ulang.

Pesan Jumat Terakhir Rajab
Engkau mendengar pesan tentang Jumat terakhir bulan Rajab.
Tentang bacaan:
أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
“Ahmad Rasulullah Muhammad Rasulullah”
sebanyak 35 kali, saat khatib duduk di antara dua khutbah.
Tidak terdengar janji berlebihan.
Hanya disebut sebagai ikhtiar, sebagaimana diajarkan para ulama tasawuf. Di dapat guru kami dari habib abdurohman bil faqih malanh
Lalu kisah sederhana tentang bawang merah dan Qul Huwa Allāhu Aḥad untuk sengatan hewan berbisa. Jika engkau perhatikan, pelajaran di sini bukan soal bawangnya, tetapi tentang tauhid yang turun ke urusan paling dekat dengan kehidupan.( didapat guru kami dari kyai sahal, kyai sahal sangking kyai abdussalam pati)
Menjelang Akhir: Malam yang Menyambut Diam
Hujan masih turun.
Bukhur masih beraroma.
Tidak ada tanda-tanda tergesa untuk pulang.
Ini bukan malam penutupan.
Ini adalah malam penyambutan—
penyambutan bagi hati yang akan belajar berhenti tanpa meninggalkan,
diam tanpa memutus,
dan menepi tanpa merasa jauh.
Jika engkau hadir malam ini,
engkau pulang tanpa membawa banyak kata,
tetapi dengan satu rasa yang tinggal lebih lama:
tenang, dan cukup.
Wallāhu a‘lam



1 comment