Sebagai murid, kami menulis ini bukan untuk mengajari siapa pun, melainkan ngaturi eling diri pribadi, seraya nyuwun pangapunten bila pemahaman kami masih terbatas. Dawuh Guru tidak untuk diperdebatkan, melainkan diamalkan dan direnungi.
Eling…..elingen iki….zaman wis akhir…waktu keroso cepet…..
Karo dokter hewan wae mbutohno,
Opo maneh karo dokter ati yo iku Guru Waskito.
Karo sego ae olehe nggoleki sampek nteke dino,
Mosok karo guru waskito di lalekno.
Opo yo guno sehate rogo…… nek atine loro…???
Ilingooooo….. !!! Moloekat Izroil kui tekone ndadak ora kondo2… SIAP2O YO……….
Lagi sak jam kepungkur nduwe ingkung sak ambenge,
Saiki kari balung sak sampahe, ….wektu banget cepet mlesate….
Jarene ndunyo muter sesuai laku jantrane,…ojo sek Gumede naliko lagi iso lan Nduwe…..,mergo iso lan nduwe gak iso ngendek puteran Rodane.
Tangi tangi leeee…..,mumpung Ruwah ojo lali ongkok sholawate ……..
edisi Malam Jumat Kliwon…..AGHITSNII…..YA ROSULALLOH SARI’AN BI IDZATILLAH.
Eling sebagai Peringatan, Bukan Hiasan Kata
Dawuh “eling” yang disampaikan Guru bukanlah kalimat indah, melainkan peringatan keras yang lahir dari kasih sayang. Sebagai murid, kami memahami bahwa cepatnya waktu yang terasa di akhir zaman adalah teguran agar hati tidak lengah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ mengingatkan bahwa lalai adalah awal dari kerasnya hati. Bila waktu terasa habis namun amal tak bertambah, maka itu tanda bahwa barakah sedang dicabut, dan ini hanya bisa disadari oleh orang yang mau eling.
Guru Waskito: Nikmat yang Sering Tidak Disyukuri
Opo maneh karo dokter ati yo iku Guru Waskito.
Sebagai murid, kami sadar betul bahwa guru ruhani adalah nikmat besar, bahkan lebih besar daripada kesehatan jasad. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa orang yang tidak memiliki pembimbing akan mudah tertipu oleh amalnya sendiri.
Ibnu ‘Arabi pun mengajarkan bahwa mursyid bukan pembuat jalan, melainkan penunjuk jalan yang telah dilalui dengan luka dan tangis. Maka melupakan guru bukan sekadar kelalaian adab, tetapi bahaya bagi keselamatan ruh.
Sehat Jasad, Sakit Hati: Musibah yang Halus
Opo yo guno sehate rogo…… nek atine loro…???
Sebagai murid, kalimat ini terasa menampar. Banyak dari kami sibuk menjaga raga, tetapi lupa membersihkan hati. Padahal menurut tasawuf, penyakit hati tidak terasa sakit, namun mematikan.
Ibnu ‘Arabi menyebutnya sebagai hijab halus: seseorang tampak baik, ibadah berjalan, tetapi hatinya jauh dari Allah dan Rasul-Nya.
Maut dan Kesiapan Diri
Moloekat Izroil kui tekone ndadak ora kondo2…
Guru mengingatkan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi agar murid tidak menunda taubat. Sebab menurut Al-Ghazali, orang yang menunda taubat sejatinya sedang berjudi dengan ajalnya sendiri.
Sebagai murid, kami hanya bisa menunduk dan bertanya pada diri:
Sudah siapkah bila dipanggil hari ini?
Dunia Berputar, Murid Jangan Gumede
ojo sek Gumede naliko lagi iso lan Nduwe…..
Ibnu ‘Arabi mengajarkan bahwa dunia adalah tajalli yang terus berubah, tidak layak dijadikan sandaran. Guru mengingatkan agar murid tidak gumede ketika diberi kemampuan dan kepemilikan, sebab itu semua titipan sementara.
Hari ini di atas, besok bisa di bawah. Yang dibawa mati bukan “nduwe”, tetapi keadaan hati.
Ruwah, Sholawat, dan Tangisan Murid
Tangi tangi leeee…..,mumpung Ruwah ojo lali ongkok sholawate ……..
Sebagai murid, kami memahami bahwa Ruwah adalah waktu untuk menata ulang batin, memperbanyak sholawat sebagai bentuk pengakuan bahwa kami tidak punya apa-apa selain bergantung kepada Rasulullah ﷺ.
Dan puncaknya adalah jeritan hati:
AGHITSNII…..YA ROSULALLOH SARI’AN BI IDZATILLAH.
Ini bukan seruan berlebihan, melainkan pengakuan kelemahan murid, sebagaimana dijelaskan Ibnu ‘Arabi bahwa istighatsah adalah adab orang yang sadar dirinya fakir di hadapan Allah.
Penutup: Murid yang Terus Belajar Eling
Tulisan ini hanyalah catatan kecil murid yang sedang belajar eling, jauh dari sempurna. Bila ada kebenaran, itu dari dawuh Guru dan limpahan ilmu para ulama. Bila ada kekurangan, itu dari keterbatasan kami sebagai murid.
Semoga kami tidak hanya pandai mengutip dawuh, tetapi mampu mengamalkannya, tidak hanya terharu, tetapi benar-benar berubah.
Allahumma aghitsnaa, wa laa takilnaa ilaa anfusinaa tharfata ‘ain





Tinggalkan Balasan