(Catatan ruhani seorang murid)
Dalam laku sunyi mau bengi, saat badan menepi dan hati diajak menunduk, seorang murid belajar satu perkara penting:
nglakoni amanate Guru bukan soal rame-rame amal, tapi soal jujur menghadapkan diri kepada Allah.
Guru kami, KH. Masda Andi, dawuh dengan bahasa yang sederhana namun menghunjam ke dalam qolb. Dawuh ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan—terutama oleh diri penulis sendiri yang masih belajar menata batin.
“Gak ono SATU NAFAS PUN TERLEPAS TEKO AKU (ALLOH),
melainkan di situ pula ada QODARKU yang berlaku untuk awak dewe.”
Kalimat ini mengajarkan bahwa hidup bukan ruang kebetulan. Nafas, langkah, bahkan diam kita—semuanya berada dalam genggaman Qadar Allah. Maka laku ruhani bukan soal merasa mampu, tetapi sadar sepenuhnya bahwa kita ini lemah.
Guru lalu mengingatkan dengan contoh yang sangat halus namun tegas:
“👉 IBLIS KUWI BANGET ALIME
iblis ahli Al-Qur’an…
iblis ahli hadist…
iblis ahli riwayat…
iblis alim/pandai dalam segala ilmu…”
Namun semua ilmu itu tidak menjadikannya kekasih Allah.
Sebab di dalam dirinya tumbuh satu kalimat berbahaya:
“AKU LEBIH BAIK DARI KAMU.”
Di sinilah letak peringatan besar bagi para pencari jalan:
ilmu tidak otomatis melahirkan ketaatan, dan banyak tahu tidak selalu berbuah tawadhu’.
Guru tidak menunjuk siapa pun. Dawuh ini justru ditujukan agar setiap murid berani bercermin, bukan menunjuk keluar.
“Yang aku takut…”
Bukan takut pada orang lain,
tetapi takut pada diri sendiri:
Hati yang mengeras namun lihai menasihati. Merasa paling benar hingga merendahkan yang lain. Ego yang tinggi, lupa bahwa semua hanya titipan. Pandai berprasangka, tapi malas mengoreksi diri. Lidah lincah membuka aib orang lain, namun menutup mata pada aib sendiri. Hebat dalam berkata, lemah dalam berbuat. Cerdas mengkritik, namun malas bertobat. Membenci dosa orang lain, tapi memaklumi dosa sendiri.
Sebagai murid, penulis memahami bahwa dawuh ini bukan untuk menilai siapa pun, melainkan sebagai peringatan halus agar kita tidak terjebak pada kesombongan spiritual—kesombongan yang sering tersembunyi di balik pakaian agama dan bahasa kebaikan.
Penutup dawuh guru adalah doa, bukan vonis:
“Kiranya Allah Subhana Wa Ta’alla
senantiasa menyadarkan KITA SEMUA
sehingga lebih rajin instrospeksi diri
daripada mengurusi orang lain…”
Inilah adab jalan ruhani:
melihat ke dalam sebelum menilai ke luar.
Membersihkan hati sebelum membenahi dunia.
Sebagai murid yang masih banyak kurangnya, tulisan ini ditata semata-mata untuk menjaga amanah dawuh guru, bukan untuk mengaku paham hakikatnya. Bila ada kebaikan, itu datang dari Allah. Bila ada kekurangan, itu murni dari diri penulis.
Salam welas asih. 🙏






2 comments