Ada saatnya hidup terasa sumpek—bukan sekadar masalah lahir, tapi kegelisahan batin yang tak sanggup dituturkan kepada siapa pun. Pada titik itu, seorang murid tidak sedang membutuhkan nasihat ramai, melainkan hadirnya guru. Bukan untuk dihakimi, bukan untuk dipamerkan kesalehannya, tapi untuk ditenangkan ruhnya.
Karena dalam jalan tasawuf, masalah bukan selalu untuk diceritakan, melainkan untuk dikembalikan ke asalnya.
Guru kami pernah dawuh:
“Kalau hidup kita merasa rupek atau ada masalah yang tidak bisa diceritakan ke orang. Maka cepat datanglah ke Guru.”
Dawuh ini tidak berdiri di wilayah psikologi semata, tetapi masuk ke wilayah tarbiyah ruhaniyah. Guru bukan tempat curhat biasa, melainkan cermin batin, tempat ruh yang kusut diselaraskan kembali dengan sanadnya.
Santri Bukan Milik Guru, Tapi Milik Sanad
Dalam satu kesempatan, guru kami menegaskan dengan kalimat yang bagi orang awam terdengar keras, namun bagi murid justru penuh kasih sayang ruhani:
“Njenengan kuabeh sing nang group iki, iku ora tak akoni dadi santriku.”
Secara hakikat, ini bukan penolakan, melainkan pembebasan. Guru sedang memutus ketergantungan ego murid kepada figur lahir, agar murid tidak berhenti pada satu nama, satu sosok, atau satu majelis.
Kemudian guru melanjutkan:
“Njenengan kuabeh iku santrine Mbah Hasyim, Mbah Kholiq, Mbah Hakam, Habib Abdurohman bin Abdulloh bin Abdul Qodir Bil Faqih, Mbah Masruri Mughni Benda Sirsmpog, Mbah Ahmad bin Sa’id bin Armiya Pondok AtTauhidiyah Giren Tegal, Mbah Ghozin Bendo pare, Mbah Sa’dun pati, Gus Ali Blitar….dst…sampek ke atas. Aku iki mung coronge kyai-kyai,Mbah mbah, Gus Gus iku maeng.”
Di sinilah letak hakikat tasawufnya.
Seorang mursyid sejati tidak mengklaim murid, karena murid sejatinya adalah milik sanad, milik perjuangan para masyayikh yang panjang dan bersambung. Guru hanya corong—penyambung suara para wali, kyai, dan ulama yang telah lebih dahulu sampai.
Ini adalah adab tinggi:
guru tidak menaruh murid di bawah dirinya, tetapi mengangkat murid agar tersambung ke para pendahulu.
Makna Hakikat: Merawat Sanad, Menghancurkan Ego
Secara batin, dawuh ini mengajarkan bahwa:
Guru bukan tujuan, tapi jalan Majelis bukan tempat bergantung, tapi tempat menyambung Santri sejati tidak merasa “punya guru”, melainkan punya tanggung jawab menjaga adab kepada seluruh sanad
Maka ketika guru berkata “aku tidak mengakui kalian sebagai santriku”, justru di situlah murid diuji:
apakah masih butuh pengakuan, atau sudah siap tunduk pada hakikat.
Penutup: Adab Seorang Murid
Sebagai murid, tidak pantas bagi kami menafsirkan dawuh guru dengan kepala kosong dan hati kotor. Yang pantas hanyalah menunduk, mengamalkan, dan menjaga adab.
Jika hidup terasa rupek, datanglah ke guru.
Jika ego terasa ingin diakui, ingatlah sanad.
Jika ilmu terasa berat, luruskan niat.
Karena guru sejati tidak menarik murid ke dirinya, tetapi mendorong murid kembali kepada Allah melalui jejak para kekasih-Nya.





Tinggalkan Balasan