×

Keutamaan Majlis Dzikir 2 Ramadhan 1447

2 Ramadhan 1447 H

 Ihya’ Ulumuddin bersama KH. Masda Andi

Menghidupkan Hati dengan Dzikir

Pada malam kedua Ramadhan 1447 H, kami kembali duduk bersimpuh di majelis, membuka lembaran Ihya Ulumuddin karya agung Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam. Dengan penuh takzim, kami mendengarkan dawuh guru kami, KH. Masda Andi, yang menukil sanad keilmuan dari Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Hadits yang dibacakan adalah tentang kemuliaan majelis dzikir. Di dalamnya Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di bumi, mencari majelis-majelis dzikir. Jika mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka saling memanggil: ‘Kemarilah kepada apa yang kalian cari.’ Lalu mereka mengelilingi majelis itu dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia…”

(HR. Muslim)

Malaikat Mencari Ahli Dzikir

Guru kami menjelaskan: Allah Ta‘ala memiliki malaikat yang ditugaskan menyebar di muka bumi. Mereka bukan malaikat pencatat amal (Kiraman Katibin), tetapi malaikat yang secara khusus mencari hamba-hamba yang berdzikir.

Ketika satu malaikat menemukan majelis dzikir, ia memanggil yang lain. Mereka berkumpul, mengelilingi majelis itu, bahkan menutupinya dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit.

Betapa agungnya sebuah majelis yang mungkin secara lahir hanya berupa tikar sederhana dan beberapa hamba yang duduk melingkar, tetapi secara batin dikerumuni malaikat.

Dialog Ilahi: Pertanyaan Allah kepada Malaikat

Kemudian para malaikat naik ke langit. Allah — yang Maha Mengetahui — bertanya kepada mereka:

“Apa yang dilakukan hamba-hamba-Ku?”

Malaikat menjawab:

Mereka memuji-Mu, ya Allah. Mereka mengagungkan-Mu. Mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu.

Allah bertanya lagi:

“Apakah mereka melihat-Ku?”

Malaikat menjawab:

Tidak, ya Allah.

Allah berfirman:

“Bagaimana jika mereka melihat-Ku?”

Malaikat berkata:

Seandainya mereka menyaksikan keagungan-Mu, niscaya mereka tidak akan pernah berhenti bertasbih dan memuji-Mu.

Di sinilah hakikat tasawuf mulai terbuka. Dzikir yang kita lakukan hari ini adalah dzikir dalam hijab. Kita belum menyaksikan. Kita hanya beriman. Namun iman yang ghaib itulah yang justru mengangkat derajat seorang hamba.

Tentang Neraka dan Surga

Allah bertanya lagi:

“Dari apa mereka meminta perlindungan?”

Malaikat menjawab:

Mereka meminta perlindungan dari neraka.

“Apakah mereka telah melihat neraka?”

Tidak, ya Allah.

“Bagaimana jika mereka melihatnya?”

Malaikat menjawab:

Jika mereka mengetahui pedihnya siksa neraka, tentu mereka akan lebih sungguh-sungguh dalam dzikir dan semakin menjauhi larangan-Mu.

Allah bertanya:

“Apa yang mereka harapkan?”

Malaikat menjawab:

Mereka berharap surga-Mu.

“Apakah mereka telah melihat surga?”

Belum, ya Allah.

“Bagaimana jika mereka melihatnya?”

Seandainya mereka menyaksikan surga, niscaya mereka akan semakin rindu dan semakin bersemangat untuk memasukinya.

Ampunan yang Meliputi Semua

Lalu Allah berfirman dalam hadits itu:

“Aku persaksikan kepada kalian, wahai para malaikat, bahwa Aku telah mengampuni mereka.”

(Dalam sebagian riwayat: qod ghofartu lahum – sungguh Aku telah mengampuni mereka.)

Namun malaikat berkata:

Ya Allah, di antara mereka ada satu orang yang tidak berniat dzikir. Ia hanya datang karena urusan lain.

Allah berfirman:

“Humul qoumu laa yasyqoo bihim jaliisuhum.”

Mereka adalah kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka.

Inilah samudera rahmat. Bahkan orang yang awalnya tidak serius pun, jika ia duduk dalam majelis dzikir, ikut terkena percikan ampunan.

Tafsir Ruhani dari Guru Kami

Guru kami dawuh dengan penuh ketegasan ruhani:

“Seumpama kalian diberi kesempatan melihat siksa neraka, kalian tidak akan sanggup makan.”

Kalimat ini bukan ancaman, melainkan penyadaran. Kita hari ini masih bisa tertawa, masih bisa lalai, karena hijab belum tersingkap. Andaikan hakikat dibukakan, jasad ini takkan kuat menanggungnya.

Tasawuf mengajarkan:

dzikir bukan sekadar lafadz, tetapi latihan hati untuk menyadari kehadiran Allah dalam keadaan belum melihat.

Majelis dzikir bukan hanya forum bacaan, tetapi taman surga yang diturunkan ke bumi.

Dan Ramadhan adalah musim di mana rahmat itu dilipatgandakan.

Penutup: Adab Seorang Murid

Kami menulis ini bukan karena merasa telah memahami, tetapi sebagai murid yang ingin mengikat ilmu agar tidak lepas. Semoga Allah menjadikan kami termasuk orang yang duduk di majelis dzikir bukan hanya secara jasad, tetapi juga secara hati.

Ya Allah, jadikan kami bagian dari humul qoumu itu.

Kaum yang Engkau ampuni, walau kami datang dengan penuh kekurangan.

Allahu a‘lam bish-shawab.

Keutamaan Majlis Dzikir 2 Ramadhan 1447

2 comments

comments user
Anonim

Alhamdullah selalu nyimak

comments user
Anonim

jamaah pasar Cukir nderek ngaos online guss

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca