Hikmah Ngamal lan Ngadepi Khilafiyah
(Dawuh lan cerita saking guru kulo, KH Masda Andi)
Pada malam ke-5 Ramadhan 1447 H, dalam suasana pengajian yang khidmat, guru kami KH Masda Andi menyampaikan dawuh yang sederhana namun dalam maknanya:
Ngamal kudu ningkat, lan ningkaté kudu nganggo ilmu.
Beliau menegaskan bahwa peningkatan amal tidak cukup hanya dengan semangat. Amal harus bertumpu pada ilmu. Sebab tanpa ilmu, amal bisa kehilangan arah.
Ilmu Agama Bukan untuk Perdebatan
Guru kami dawuh:
Ilmu agomo ora kanggo perdebatan.
Ora kanggo nyalah-nyalahno.
Cukup kanggo ngamal awak dewe lan keluargi.
Ilmu agama bukan untuk ajang merasa paling benar. Bukan untuk menyalahkan orang lain. Cukup kita gunakan untuk memperbaiki diri sendiri dan keluarga.
Namun berbeda jika ada orang yang benar-benar bertanya dengan tulus untuk belajar. Maka di situ ilmu dijelaskan dengan adab dan kelembutan.
Belajar Fiqih: Ikhya’ dan Al-Muwaththa’
Beliau memberi contoh, ketika belajar fiqih dalam Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, patokannya bisa berbeda dengan kitab lain.
Misalnya jika membuka Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, tentu ada perbedaan sudut pandang dan pendekatan.
Perbedaan itu wajar. Karena masing-masing imam memiliki metodologi istinbath (pengambilan hukum) yang berbeda.
Maka dari itu, jangan mudah merasa paling benar hanya karena membaca satu rujukan saja.
Kisah Kyai Fahrudin di Tebu Ireng
Guru kami kemudian menceritakan kisah nyata tentang seorang ulama Muhammadiyah, Kyai Fahrudin.
Beliau pernah diundang ke pesantren Pondok Pesantren Tebuireng, yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari. Undangan itu datang dari salah satu sesepuh, bahkan disebut pernah diundang oleh Abdurrahman Wahid.
Pada tahun 1980-an, ketika beliau hadir, para santri meminta beliau untuk mengimami shalat tarawih. Padahal beliau dikenal sebagai kyai Muhammadiyah.
Sebelum mulai, beliau berkata kepada para santri:
“Aku diutus ngimami. Sampeyan jaluk model piro?”
Para santri serentak menjawab:
20 rakaat + 3 witir.
Dengan kedalaman ilmu dan kelapangan hati, beliau tidak menolak. Beliau tidak memperdebatkan khilafiyah.
Shalat pun berjalan. Setelah 8 rakaat, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Beliau kembali bertanya:
“Dilanjut nopo?”
Akhirnya para santri memilih cukup 8 rakaat.
Dan tercatatlah sebuah peristiwa yang unik:
Di “kandang NU”, pernah dilaksanakan tarawih 8 rakaat — bukan karena perdebatan, tetapi karena kelapangan hati dan musyawarah.
Semakin Tinggi Ilmu, Semakin Ringan Menghadapi Perbedaan
Guru kami menutup dengan dawuh yang sangat dalam:
“Semakin tinggi ilmu agomo seseorang, semakin enteng ngadepi khilafiyah.”
Orang yang benar-benar alim tidak mudah panas.
Tidak mudah tersinggung.
Tidak gampang memisahkan diri hanya karena beda pandangan.
Beliau berpesan:
Ojo sampek awake dhewe rumangsa alim, banjur delok perkara sing ora cocok karo panemu dhewe, terus misah.
Boten pareng ngoten.
Ojo sok pinter, ojo sok bener.
Ilmu sejati melahirkan tawadhu’.
Bukan kesombongan.
Penutup
Dari pengajian malam itu, kami belajar:
Tingkatkan amal dengan ilmu. Jangan jadikan agama sebagai alat perdebatan. Khilafiyah adalah bagian dari keluasan rahmat Allah. Kedewasaan dalam agama terlihat dari sikap, bukan dari kerasnya argumentasi.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berilmu sekaligus berakhlak.
Yang tenang dalam perbedaan.
Dan yang istiqamah dalam amal.
Wallahu a‘lam



2 comments