Lanjutan ngaji Tanbīhul Ghāfilīn (07 januari 2026)
Malam itu majelis tidak terlalu ramai, tapi sunyi yang ada justru terasa berat. Guru kami duduk bersila, sarung sederhana, suara pelan tapi menancap.
Beliau membuka dengan senyum kecil, lalu berkata pelan:
“Jenengan ngerti ora, niki dawuh Kanjeng Nabi ﷺ…”
Kami langsung menegakkan punggung.
Guru melanjutkan:
“Saben wong ngucap Laa ilaaha illallah, saka cangkeme metu manuk ijo.”
Lalu beliau nyeletuk dengan gaya guyon khas Jawa:
“Iki dudu dongeng, iki dawuh Nabi.”
Kami saling pandang.
Burung itu, kata beliau, berwarna hijau—ijo segar, seperti tanah tandus yang baru kena hujan. Hijau yang menghidupkan. Hijau yang mengingatkan pada Khodir—makna kehidupan yang muncul dari kehampaan.
“Ati sing garing, nek kena dzikir tauhid, dadi ijo.”
Dada Hijau, Sayap Putih, dan Cahaya yang Bertaburan
Guru lalu membaca potongan riwayat:
Burung itu punya dua sayap putih, dadanya hijau, dan di sekelilingnya bertaburan mutiara serta permata.
Beliau berhenti sebentar, lalu berkata:
“Iki simbol, nduk. Iman iku resik, tauhid iku urip, amal sholeh iku ayu.”
Burung itu tidak diam. Ia terbang naik… naik… menembus lapisan langit.
Dengungannya Mengganggu Penduduk Langit
Ketika burung itu terbang, suaranya berdengung. Ramai. Terus-menerus.
Sampai akhirnya, kata guru, penduduk langit terganggu.
Para malaikat berseru:
“Uskun! Tenanglah!”
Namun burung itu menjawab—dan di sini suara guru mendadak meninggi:
“Aku ora bakal mandek, nganti Allah ngapura dosa wong sing dzikir iki.”
Kami terdiam.
Kenapa suaranya begitu ramai?
Karena—kata guru—burung itu diciptakan dengan tujuh puluh mulut.
Setiap mulut berdzikir.
Setiap mulut memohon ampun.
“Sampeyan wis mandek dzikir, tapi dzikirmu durung mandek.”
Guyon yang Menampar Hati
Guru tersenyum lagi, lalu berkata ringan tapi nusuk:
“Boten usah digoleki ngeh nganggo meribwirid golek.”
(Tidak usah cari-cari rasa dengan ribuan wirid hanya untuk pembuktian.)
Lalu beliau menatap kami satu per satu.
“Yakin apa ora?”
Kami menjawab serentak:
“Yakin!”
Beliau langsung menyambar:
“Nek gak yakin, podo maca syahadat. Soale iki dawuh Kanjeng Nabi.”
Bukan marah. Tapi jujur.
Laa Ilaaha Illallah dan Jalan Tarekat
Kemudian guru membandingkan:
“Sampeyan wirid Laa ilaaha illallah wae wis ngono. Opo maneh wirid Saman 166.”
Beliau menghela napas.
“Bertapane wong-wong iku luar biasa.”
Di sinilah guru menjelaskan kenapa kisah seperti ini menjadi landasan berdirinya tarekat.
Bukan karena ingin karomah.
Bukan karena ingin disebut wali.
Tapi karena dzikir yang istiqamah membentuk manusia yang poros hidupnya hanya Allah.
Dari sinilah dinukil dawuh Syaikh Saman:
“Sopo sing istiqamah wirid Saman, aku sing nyatet dadi golongan wali quthub.”
Maknanya bukan klaim jabatan, tapi tanggung jawab ruhani.
Penutup yang Membuat Dada Sesak
Di akhir majelis, guru membaca hadits:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Beliau lalu menegaskan:
“Teks hadits-e ngono. Tapi ojo salah paham.”
Beliau menepuk dada.
“Ora kudu meksa ilat iso ngucap. Sing penting, atimu pas metu saka donya iki isih netepi iman.”
Sunyi.
Tidak ada yang berani bicara.
Akhirnya Kami Mengerti
Burung hijau itu bukan untuk dicari.
Dengung langit itu bukan untuk dibuktikan.
Tarekat bukan jalan pintas.
Semua hanya menunjuk pada satu hal:
Jaga imanmu. Istiqamahkan dzikirmu. Dan pulanglah kepada Allah dengan hati yang hidup.



1 comment