×

Menyambut Pagi, Menata Laku

Catatan Ruhani dari Sebuah Kultum

Ada pagi-pagi tertentu yang rasanya tidak sekadar pagi.

Bukan karena matahari lebih terang,

tapi karena hati sedang disentuh oleh makna.

Pagi ini saya membaca kembali satu kultum singkat dari guru.

Kalimatnya sederhana, bahasanya ringan,

namun ketika dibaca pelan-pelan,

ia seperti menarik batin untuk berhenti sejenak

dari kegaduhan rencana, target, dan bayangan masa depan.

Teks Kultum (Asli)

SELAMAT PAGI UNTUK SEMUA……… 🤣

MARI SAMBUT PAGI INI DENGAN PENUH BAHAGIA….

OJO LALI NGOPI

“tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati (banyak terjadi, keturunan orang kecil yang akhirnya menjadi orang besar. Dan sebaliknya, banyak keturunan orang besar yang justru tidak menjadi apa-apa. Dan dalam hubungannya dengan dunia pesantren, hal tersebut terjadi karena yang satu mau ngaji, dan satunya tidak)”

Dari beberapa cerita yang saya dengar langsung dari Guru2, saya belajar bahwa nilai diri yang jujur tak perlu dicari, dia datang sendiri seiring laku pribadi. Kita tak perlu sibuk memoles diri demi mendapatkan penilaian orang lain. Karena derajat sejati adalah murni anugerah ilahi. Santri, harta, atau jabatan apapun adalah murni rezeki.

Tak perlu bingung nanti akan menjadi apa atau siapa, mendapat apa??? mau bagaimana…? dst….., cukup seriusi setiap usaha yang menjadi tugas didepan mata. Jadikan mimpi dan cita-cita selayak kompas yang mengarahkan kemana langkah kaki, namun tak perlu risau dengan hasil akhir.

Oleh karennya

pasrahkan semua kegiatan kita ke Alloh di awal sebelum mulai dan pamitlah/nyuwun pangestu kepada Njeng Nabi……

Karena tugas kita hanya berusaha..

Sebagaimana kata pepatah:

“Setiap hasil takkan menghianati usaha”.

kesimpulan

OJO MELOK2 NGGARIS TIWAS MENCENG KABEH.

TETAP SEMANGAT MENYAMBUT ROHMAT ALLOH…..

SEMOGA SELALU DIRIDLOI ALLOH DAN DAPAT PANGESTU NJENG NABI…

SEMUA LANGKAH KITA PAGI INI…

AAMIIN.

Renungan Ruhani (Pemahaman Pribadi)

Bagi saya, kalimat “tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati” bukan sekadar pepatah sosial.

Ia seperti cermin batin.

Sering kali kita merasa hidup ini harus cepat “jadi”,

harus terlihat berhasil,

harus sesuai garis yang tampak di mata manusia.

Padahal, dalam laku ruhani,

yang menentukan hidup atau matinya seseorang

bukan garis, bukan nasab, bukan kemudahan,

melainkan kesediaan untuk terus tumbuh.

Saya belajar bahwa nilai diri tidak lahir dari pengakuan,

tapi dari kesetiaan pada laku yang sepi.

Laku yang mungkin tidak dilihat siapa-siapa,

namun dicatat oleh Allah.

Kultum ini juga mengingatkan saya

untuk tidak terlalu ribut memikirkan hasil akhir.

Karena ketika batin terlalu menggenggam hasil,

sering kali langkah justru menjadi berat.

Pasrah di awal,

berusaha di tengah,

ridho di akhir.

Di situlah saya merasa hidup menjadi lebih ringan.

Dan mungkin itulah maksud terdalam dari kalimat:

ojo melok-melok nggaris —

jangan terlalu sibuk melihat jalan orang lain,

hingga lupa menapaki jalan sendiri dengan benar.

Menyambut Pagi, Menata Laku

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca