Di saat kabar sakit parah Habib Hasan—pengijazah sanad Dalā’ilul Khairāt—menyentuh batin para murid, Allah menghadirkan satu pengingat yang sangat halus namun dalam. Pada pukul 22.00 malam, guru kami KH. Masda Andi menuliskan sebuah catatan ruhani di grup, bukan sekadar kenangan, melainkan sambungan sanad yang hidup.
Tulisan itu membawa kami kembali pada satu malam yang sunyi, malam yang tidak semua orang diundang untuk menyaksikannya, namun dicatat oleh langit.
“3,3 th yang lalu, tepat pukul 01.00 malam di Maqbaroh Tebuireng, pengijazahan Dalailul Khoirot dengan saksi Mbah Hasyim , Ya Alloh Ya Robb dengan wasilah maqbaroh Tebuireng jadikanlah kami semua ahlus Sholawat, dan kumpulkanlah kami semua dengan Guru kami, besok di Padang Ma’zar, dengan Syafaat Kekasih Engkau dan dalam naungan Engkau.
Allohumma a’tina yaumal qiyamati syafa’ata Nabiyyika Muhammadin Shollallohu ‘Alaihi was salam, yauma laa syafa’ata ila Syafa’atuhu, wa adhillana yauma laa dhilla ila dhiluka….Aamiin”
Kalimat ini bukan tulisan biasa. Ia adalah jejak sanad yang ditulis ulang oleh waktu, kini hadir kembali tepat ketika guru sanad berada dalam ujian sakit yang berat. Seakan Allah mengingatkan para murid: sanad bukan hanya ketika ijazah diterima, tapi ketika guru diuji, murid dipanggil untuk setia dalam doa.
Maqbarah Tebuireng, dengan kesaksian Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, menjadi saksi bahwa sholawat tidak pernah mati. Ia berpindah dari lisan ke lisan, dari hati ke hati, dan kelak akan menjadi naungan di Padang Mahsyar, sebagaimana doa guru kami sendiri.
Tulisan ini terasa bukan sekadar nostalgia, melainkan isyarat ruhani:
bahwa sholawat yang diijazahkan dahulu, kini sedang kembali naik sebagai doa untuk para guru.
Bahwa sanad Dalā’ilul Khairāt bukan hanya bacaan, tapi tali penghubung saat hidup dan saat menuju akhir.
Di saat Habib Hasan diuji sakit, para murid sejatinya sedang diuji:
apakah sholawat masih dibaca dengan adab,
apakah guru masih dihadirkan dalam doa,
dan apakah sanad masih dijaga dengan tawadhu’.
Semoga Allah menerima semua sholawat yang mengalir,
mengangkat derajat para guru,
dan mengumpulkan kita semua kelak bersama mereka,
di bawah Syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ,
dalam naungan yang tiada naungan selain naungan-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.




1 comment