3 Ramadhan 1447 H
Di Maqbarah Mbah Ahmad
Dipimpin Guru Kami, KH. Masda Andi
Alhamdulillah, pada malam 3 Ramadhan 1447 H, kami kembali diberi kesempatan menghadiri Pengajian Al-Ashkhabiyyah di maqbarah Mbah Ahmad. Dengan penuh takzim, pengajian dipimpin oleh guru kami, KH. Masda Andi. Semoga Allah menjaga beliau dan memanjangkan manfaat ilmunya untuk kami semua.
Mengapa Membaca Istighfar 70 Kali?
Guru kami menjelaskan tentang amalan membaca:
“Astaghfirullah innahu kana ghaffara” sebanyak 70 kali dalam wirid Ramadhan.
Beliau dawuh, salah satu riwayat menyebutkan bahwa membaca istighfar satu kali saja sudah menjadi sebab ampunan. Namun jika dibaca 70 kali, bukan hanya dosa diri sendiri yang diampuni, tetapi kita memohon kepada Allah agar dosa keluarga dan bahkan tetangga juga diampuni.
Lalu muncul pertanyaan dari jamaah:
Tetangga yang mana? Tetangga rumah, atau tetangga di sekitar majelis?
Guru kami mengembalikan jawaban itu pada luasnya rahmat Allah. Ampunan Allah tidak sempit. Rahmat-Nya meliputi siapa saja yang Dia kehendaki. Maka yang terpenting adalah keyakinan kita saat membaca istighfar tersebut.
Guru kami bertanya, “Yakin?”
Dan jamaah menjawab serentak, “Yakin.”
Keyakinan inilah yang menjadi ruh dalam setiap amalan.
Fadhilah Tahlil: Laa Ilaaha Illallah
Dalam pengajian juga dibahas keutamaan kalimat tahlil, “Laa ilaaha illallah.”
Bisa dibaca ulang di postingan : keutamaan kalimah laa ilaaha illallah
Guru kami mengutip riwayat tentang dialog Nabi dengan Abu Hurairah. Ketika amal manusia ditimbang di hari kiamat, kalimat Laa ilaaha illallah memiliki kedudukan yang sangat agung. Bahkan disebutkan, jika kalimat ini diletakkan di satu timbangan, dan di sisi lain diletakkan langit tujuh dan bumi tujuh, maka kalimat tahlil itu lebih berat — jika diucapkan dengan keyakinan yang sungguh-sungguh.
Betapa agungnya kalimat tauhid ini.
Fadhilah Tasbih dan Tahmid
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa membaca:
“Subhanallah wa bihamdihi”
sebanyak 100 kali dalam sehari semalam, akan dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.
Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang gemar berdzikir.
Dzikir Pembuka Rezeki
Dikisahkan ada seseorang mengadu kepada Nabi bahwa dunia seakan menjauh darinya dan rezekinya terasa sempit.
Nabi bertanya, “Dari mana malaikat dan seluruh makhluk mendapatkan rezeki?”
Tentu dari Allah.
Lalu beliau mengajarkan dzikir:
“Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim, Astaghfirullah.”
Guru kami menegaskan agar dzikir ini dibaca 100 kali di waktu antara terbit fajar hingga sebelum Subuh, atau setelah shalat qabliyah Subuh hingga masuk Subuh.
Dengan izin Allah, dunia akan datang dalam keadaan hina. Artinya, bukan kita yang mengejar dunia, tetapi dunia yang Allah tundukkan.
Nasehat Guru
Di akhir pengajian, guru kami dawuh dengan penuh kasih:
“Kalau kalian sedang sumpek, datanglah kepada guru.”
Nasihat ini bukan sekadar ajakan fisik, tetapi juga makna ruhani: ketika hati gelisah, jangan lari dari majelis ilmu dan dzikir. Justru mendekatlah.
Penutup
Pengajian malam itu mengajarkan kami tiga hal utama:
Perbanyak istighfar dengan keyakinan. Jaga kalimat tauhid dalam hati dan lisan. Hidupkan tasbih dan tahmid setiap hari.
Semoga kami mampu mengamalkan, bukan hanya mendengar.
Semoga Ramadhan ini benar-benar menghidupkan hati kami.
Dan semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam rahmat-Nya yang luas.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.



Tinggalkan Balasan