Pembukaan Pengajian di Maqbaroh Mbah Ahmad
Dipimpin guru kami, KH Masda Andi
Kajian Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali (Hujjatul Islam)
Pada malam ke-4 Ramadhan 1447 H, kami kembali duduk bersimpuh di maqbaroh Mbah Ahmad. Dengan penuh adab, guru kami membuka pengajian dengan membahas keutamaan kalimat Alhamdulillah, sebagaimana diterangkan dalam Ihya’ Ulumuddin.
🌙 Keutamaan Mengucap Alhamdulillah
Guru kami menyampaikan dawuh Nabi ﷺ:
Siapa yang mengucapkan Alhamdulillah, maka kalimat itu menyebar di antara langit dan bumi.
Betapa agungnya satu kalimat pujian kepada Allah. Kalimat itu tidak berhenti di lisan, tetapi naik dan memenuhi ruang antara langit dan bumi.
Kemudian guru mengaitkan dengan firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7:
“La in syakartum la azidannakum…”
Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah (nikmat-Ku kepada kalian).
Artinya, syukur bukan sekadar ucapan, tetapi sebab datangnya tambahan nikmat.
Disampaikan pula firman Allah:
“Wa maa nu‘ammirhu nunakkis-hu fil khalqi afalaa ya‘qiluun.”
(QS. Yasin: 68)
Ayat ini mengingatkan bahwa umur manusia berjalan menuju kelemahan. Maka waktu yang ada hendaknya diisi dengan dzikir dan syukur.
🌌 Tiga Lapisan Alhamdulillah
Guru kami memberi penjelasan yang menyentuh hati:
Alhamdulillah pertama → memenuhi satu lapis langit dan bumi. Alhamdulillah kedua → memenuhi tujuh lapis langit dan bumi. Alhamdulillah ketiga → segala permintaanmu bakal diparingaken. Bahkan tidak perlu meminta, Allah sudah memberi.
Ini bukan hitungan matematis, tetapi gambaran betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba yang bersyukur.
Namun guru menegaskan dengan penuh kehati-hatian:
“Tidak sembarang orang bisa mengucap Alhamdulillah, kecuali dengan izin Allah.”
Artinya, bahkan kemampuan bersyukur pun adalah karunia. Jika hati kita tergerak memuji Allah, itu tanda Allah masih menghendaki kebaikan bagi kita.



Tinggalkan Balasan