(Rangkuman Keterangan dari Imam Nawawi al-Bantani dan Penjelasan Ulama)
Adzan bukan sekadar panggilan menuju shalat. Ia adalah seruan langit yang menggema di bumi—mengajak hati kembali kepada Allah ﷻ. Para ulama menjelaskan bahwa di saat adzan dikumandangkan, terdapat adab-adab dan amalan yang dianjurkan untuk menyambutnya.
Di antara keterangan yang masyhur disebutkan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Tanqihul Qaul, beliau mengutip sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Qatadah:
مَنْ قَالَ عِنْدَ الأَذَانِ مَرْحَبًا بِالْقَائِلِيْنَ عَدْلاً، مَرْحَبًا بِالصَّلَوَاتِ وَأَهْلاً،
كَتَبَ اللهُ تَعَالٰى لَهُ أَلْفَ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ دَرَجَةٍ
Artinya:
“Barang siapa berkata ketika adzan dikumandangkan:
Marhaban bil qoilina ‘adlan, marhaban bissholawati wa ahlan,
maka Allah Ta‘ala mencatat baginya seribu kebaikan, menghapus darinya seribu keburukan, dan mengangkat baginya seribu derajat.”
Lafal yang Dibaca Saat Adzan
Tulisan latin (dibaca biasa, tanpa ritual khusus):
Marhaban bil qoilina adlan, marhaban bis sholawati wa ahlan.
Fadilahnya disebutkan:
Dicatat 1.000.000 kebaikan
Dihapus 1.000.000 keburukan
Diangkat 1.000.000 derajat
(Beberapa riwayat menyebut angka lebih besar, namun yang masyhur dalam kutipan tersebut adalah seribu.)
Amalan Lain yang Disebutkan Ulama
Dalam sebagian penjelasan ulama—khususnya yang disebut dalam kitab Mawahib al-Jalil (madzhab Malikiyah) dan juga disebut dalam I’anat ath-Thalibin (madzhab Syafi’iyah)—disebutkan riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi Khidhir:
Ketika mendengar muadzin membaca:
“Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”
Lalu membaca:
Marhaban bihabibi wa qurrati aini Muhammad bin Abdillah Saw.
Kemudian mengecup dua ibu jari dan mengusapkannya ke kedua mata.
Disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa pelakunya tidak akan mengalami kebutaan dan sakit mata.
Namun, penting dipahami bahwa amalan ini termasuk dalam wilayah fadha’il (keutamaan), bukan hukum wajib atau sunnah muakkadah yang baku dalam fiqih. Ia diamalkan sebagian ulama sebagai bentuk mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ.
Pertanyaan: Apakah Dibaca Dengan Menengadahkan Tangan?
Sueb bertanya:
Apakah membacanya dengan menengadahkan tangan seperti berdoa, atau cukup dibaca dalam hati saja?
Jawaban Guru kami, KH Masda:
“Tidak usah menengadahkan tangan. Cukup dibaca biasa.”
Artinya:
Tidak perlu mengangkat tangan seperti doa. Tidak perlu gerakan khusus. Cukup dibaca sebagaimana dzikir biasa ketika pertama kali mendengar adzan.
Karena inti amalan ini adalah menyambut panggilan Allah dengan hati yang lapang dan penuh penghormatan.
Adab Menyambut Adzan
Agar amalan ini tidak sekadar menjadi rutinitas lisan, maka hendaknya disertai adab:
Menghentikan aktivitas sejenak ketika adzan terdengar. Menjawab lafadz adzan sebagaimana tuntunan Nabi ﷺ. Membaca shalawat setelah adzan. Membaca doa setelah adzan. Jika ingin menambah bacaan “Marhaban…”, niatkan sebagai bentuk penghormatan dan kegembiraan menyambut shalat.
Karena hakikatnya, yang paling utama adalah menjawab adzan sebagaimana yang diajarkan dalam hadits-hadits shahih.
Penutup
Adzan adalah panggilan rahmat.
Siapa yang menyambutnya dengan cinta, ia akan diberi balasan dengan cinta pula.
Amalan membaca:
Marhaban bil qoilina adlan, marhaban bis sholawati wa ahlan
adalah bentuk kegembiraan menyambut seruan Allah.
Namun tidak perlu berlebihan dalam tata caranya. Cukup dibaca dengan khusyuk, tanpa gerakan khusus, sebagaimana dawuh guru.
Semoga kita termasuk orang-orang yang ketika mendengar adzan, bukan hanya telinga yang mendengar, tetapi hati yang menjawab.
Wallahu a’lam bish shawab

Tambahan do’a yang dibaca setelah adzan

Allahumma rabb hadzihid da’watit tammati wash sholatil qoimah.
Aati Sayyidina Muhammadanil wasilata wal fadhilata wasy syarofa wad darojatal aliyatar rofi’ah.
Wab’ats-hu maqoman mahmudanil ladzi wa’adtah.
Innaka la tukhliful mi’ad.
(Robbighfir li waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro.)x5
Allahumma barik li fi dzurriyyati wa la tadhurrohum wa waffiqhum lito’atik.
Warzuqni birrohum.
Allahumma inni as-alukal ’afwa wal ‘afiyah wal mu’afatal da-imata fid dini wad dunya wal akhirah.
Wa shollallahu ’ala Sayyidina Muhammadin wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.



Tinggalkan Balasan