×

Pengajian 6 Ramadhan 1447 H

Maqbaroh Mbah Ahmad

Disampaikan oleh: KH. Masda Andi

ADAB DOA (Bagian 3–10)

Pada malam 6 Ramadhan 1447 H, di Maqbaroh Mbah Ahmad, guru kita KH. Masda Andi melanjutkan pembahasan adab doa. Beliau menegaskan bahwa doa bukan sekadar meminta, tetapi ada tata krama yang harus dijaga agar doa lebih dekat kepada ijabah.

Adab Doa Nomor 3: Menghadap Kiblat

Menghadap kiblat termasuk sunnah ketika berdoa. Ini menjadi dalil dan penguat amalan masyarakat yang ketika tahlilan atau doa bersama menghadap kiblat.

Dalil dari riwayat sahabat:

Riwayat Jabir r.a. (Menghadap Kiblat Saat Doa)

Fa ata al-mauqifa fajaala bathna naqatihi al-qaswaa ila al-shakharat,

wajaala habl al-musya baina yadayhi,

wastakbala al-qiblata,

falam yazal waqifan hatta gharabat al-syams.

Terjemahan:

Beliau (Nabi ﷺ) datang ke tempat wuquf, menjadikan perut untanya menghadap ke batu-batu, menjadikan jalan orang-orang di hadapannya, dan beliau menghadap kiblat. Beliau terus berdiri (berdoa) sampai matahari terbenam.

Ini menunjukkan:

Menghadap kiblat saat berdoa adalah sunnah. Waktu mustajab di Arafah sejak khutbah wuquf hingga maghrib, dan Nabi tidak berhenti berdoa.

Dari Salman r.a.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Inna rabbakum hayyun karim,

yastahyi min abdihi idza rafa yadayhi ilaihi

an yaruddahuma sifran.

“Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup dan Maha Mulia. Dia malu kepada hamba-Nya yang mengangkat tangan untuk berdoa, lalu hamba itu pulang dengan tangan kosong.”

Maknanya:

Allah tidak akan menyia-nyiakan doa hamba-Nya.

Guru kita menegaskan akidah dalam berdoa:

Doa itu pasti diterima, tetapi bentuknya berbeda:

Kadang langsung diijabah. Kadang ditabung di akhirat. Kadang diganti dengan rahmat atau diampuni dosa.

Dari Ibnu Abbas r.a.

Kana rasulullah idza da’a

dhomma kaffaihi

wajaala buthunahuma mimma يلي wajhihi.

Rasulullah ﷺ ketika berdoa merapatkan kedua telapak tangannya dan menjadikannya sejajar di hadapan wajahnya.

Rincian Adab Nomor 3:

Tidak mengeraskan suara (tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan). Mengangkat tangan dengan adab. Tidak mendongakkan pandangan ke atas.

Adab Doa Nomor 4: Melunakkan Suara

Berdoalah dengan suara lembut, penuh ketundukan.

Allah berfirman:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55)

Doa bukan pertunjukan suara, tapi bisikan hati yang penuh harap.

Adab Doa Nomor 5: Tidak Dibuat-buat atau Bersajak Berlebihan

Sayakunu qoumun ya’taduna fid du’a.

Terjemahan:

Akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa.

➡ Dalil agar doa tidak dibuat-buat, tidak dipaksakan nadanya, dan tidak berlebihan.

Nabi ﷺ memperingatkan akan datang suatu kaum yang berdoa dengan dibuat-buat dan dipaksakan nadanya.

Doa yang terbaik adalah:

Tulus Tidak dipaksakan Tidak dibuat puitis berlebihan hingga kehilangan kekhusyukan

Adab Doa Nomor 6: Merendahkan Diri & Khusnudzon

Berdoalah dengan:

Merasa hina dan sangat membutuhkan Allah. Penuh harap. Diselingi rasa takut (rohibah) kalau doa belum diterima.

“Ud’u bilisani dzillah wal ihtiqari”

Berdoalah dengan lisan kehinaan dan kebutuhan.

Adab Doa Nomor 7: Yakin Akan Ijabah

“Jangan lemah dalam berdoa dan yakinlah akan ijabah.”

Guru menegaskan:

Rahmat Allah lebih luas dari dosa kita.

Jangan putus asa dari rahmat-Nya.

Semangat dalam berdoa adalah tanda iman.

Adab Doa Nomor 8: Mengulang Doa Tiga Kali

Disunnahkan mengulang doa hingga tiga kali.

Ini disebutkan oleh para ulama, termasuk dalam pembahasan adab oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin.

Pengulangan menunjukkan kesungguhan dan harapan.

Adab Doa Nomor 9: Membuka dengan Dzikir dan Asma Allah

Jangan langsung meminta tanpa menyebut nama Allah.

Awali doa dengan:

Hamdalah Asma Allah Pengagungan kepada-Nya

Doa tanpa pembukaan bisa seperti permintaan yang kurang sopan.

Adab Doa Nomor 10: Ditutup dengan Sholawat

Guru kita menegaskan dengan sangat:

Allah tidak akan menangguhkan apa yang diminta seorang hamba jika doanya diawali dan diakhiri dengan sholawat.

Pesan dari KH. Khakam kepada KH. Masda Andi:

“Besok kalau memimpin doa, jangan sampai tidak diakhiri dengan sholawat. Karena doa itu masih menggantung antara langit dan bumi. Maka doronglah doa itu dengan sholawat.”

gus hakam dengan guru kami

Pengajian 6 Ramadhan 1447 H

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca